Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya punya anak? Tentu saya jawab, saya bahagia. Namun tentu juga, tidak selamanya saya merasa bahagia. Pasti ada saja rasa bosan dan jenuh. Terlebih karena saya mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Yah.. Ada yang bantu juga sih, cuci seterika dan sedikit bebenah. Setelah itu, saya kembali mengurus semuanya sendiri.
Pagi-pagi benar saya sudah belanja dan memasak. Setelah itu memandikan dan menemaninya sampai sore lalu memandikanya lagi dan menemaninya sampai dia benar-benar terlelap. Begitu terus setiap hari.
Memang benar tidak semua hal berjalan seperti yang kita harapkan. Saya tidak pernah berharap anak saya rewel setiap hari. Padahal kalau dia sedang ceria, waduh.. Itu obat paling ampuh mengatasi kejenuhan saya. Tapi kenyataannya, dia sering sekali rewel dan membuat saya pusing tujuh keliling.
Kadang kondisi diperparah dengan suami yang saya rasa kurang membantu. Dia sering pulang malam, padahal berangkatnya pagi sekali. Sampai dirumahpun, kadang dia malah sibuk sendiri. Inginnya gantian gitu, sekali-kali dia yang memandikan, mengganti celana basah (eh, kalau yang ini kadang-kadang suka dibantu juga) dan menidurkan. Inginnya lagi, udah begitu sampai dirumah fokus ke si orok saja. Karena menurut saya, walaupun dia cape kerja, tapi dia masih bisa keluar dari rumah. Masih tertawa dengan teman-temannya. Sementara saya, 24 jam tujuh hari seminggu berkutat dengan itu-itu saja.
Kalau saya mengeluh begini, biasanya suami saya langsung membalikan kata-kata. "Yaudah, ayo kita tukeran. Kamu cari berita sana panas-panasan, aku urus rumah," Huh.. Benar-benar tidak menyelesaikan masalah.
Memang saya masih punya orang tua, yang harusnya, menengok pengalaman teman-teman saya, bisa ikut membantu. Minimal 3 bulan saja. Tapi entah kenapa, rasanya ibu saya kurang antusias untuk membantu saya. Padahal ini cucu pertama loh.
Mungkin karena saat ini, ia juga sibuk mengurus sepupu saya masih balita tapi sudah ditinggal ibunya sejak lahir. Yah.. Saya harus maklumi itu.
Jujur, sempat juga ada perasaan 'terjebak' dengan kondisi seperti ini. Bayangkan.. Saya tidak pernah bisa kemana-mana. There's no 'me-time' anymore. Memang kadang ibu saya berbaik hati mau menjaga ketika saya ingin pergi. Tapiii.. Pas saya pergi, kepikiraaan mulu bocah satu ini. Akhirnya jadi buru-buru pulang deh.
Hehe.. Tapi saya coba menikmati kok. Toh kalau nanti dia sudah besar, saya akan merindukan masa-masa ini. Jadi, cepat besar yah nak..
No comments:
Post a Comment