Waktu SMA dulu, saya pernah tergila-gila (bahkan hampir gila beneran) sama kakak kelas. God.. He was so damn cute. Segala cara saya lakukan untuk menarik perhatian dia. Tapi mau bagaimana lagi, wong punya wajah paspasan. Manalah mungkin dia tertarik. Alhasil, cinta saya pun bertepuk sebelah tangan. Hikss..
Lepas dia lulus sekolah, saya benar-benar kehilangan jejaknya. Yah pernah sih beberapa kali saya coba kontak dia. Tapi percakapan kami selalu diakhiri basa-basi yang tak ada arti. Sejak itu, saya bertekad tidak akan kontak dia lagi. Daripada bikin makan ati.
Dipenghujung tahun 2007 silam, tiba-tiba dia mengontak saya lagi. Tidak lewat telp, melainkan lewat pesan di situs jejaring sosial friendster (waktu itu, lagi happening banget lo friendster). Saya kaget, karena namanya sebenarnya tidak ada dalam friendlist saya. Isinya singkat saja, "Met apa kabar? lagi di mana,?"
Ouw.. Rupanya dia tertarik dengan profile picture saya. Makanya tiba-tiba dia kontak menanyakan kabar. Tentu saat itu, hati saya kembali berbunga-bunga (haha..). Singkat cerita, kami kembali kontak-kontakan melalui YM. Karena saat itu, dia sedang menyelesaikan S2-nya di Inggris. (Inggris cuuuyyy.. Bikin saya tambah kesemsem ajah. Haha..).
Tapi acara kontak-kontakan kami tidak lama. Karena suatu hari, account YM-nya tidak pernah menyala lagi.
Lalu hal serupa terjadi lagi dipertengahan tahun 2009. Tiba-tiba dia dia mengirim personal message yang kali ini melalui Facebook. Friendster sudah tidak happening lagi. Isinya standar, menanyakan kabar. "Iya met, gw kaget tiba-tiba lihat lo di tv. Enaknya bisa kerja sambil jalan-jalan. Impian gw tuh," begitu dia bilang.
Huh.. Dalam hati saya meradang. If you not see me on tv, you wouldn't contact me for the rest of your life kan? Kesel deh, apa sih maunya. Untung saya sudah menikah. Kalau tidak, pasti saya akan merana lagi karena menahan sakit hati. Hihihi..
Tapi rupanya, dia mengontak saya karena ingin mengirim undangan pernikahannya. Ada sedikit terharu, karena saya diundang ke pesta yang digelar private itu. "Dateng yah met, jangan ngga," gitu tulisnya diakhir undangan. Huhu.. Padahal pengen banget datang. Tapi sayang, saat itu saya lagi morning sick berat.
Hehe.. Kalau diinget-inget, lucu juga yah yang dulu-dulu. Ga terasa, sudah banyak fase kehidupan yang saya lalui. Satu fase, baru saja saya lewati. Menjadi ibu. Semoga saya masih diberi kesempatan, untuk melangkah ke fase-fase lainnya lagi.
I could stay at home, but I prefer to work because I wanna teach my kids nothing in life comes easy ...
Tuesday, August 31, 2010
Cepat Besar Yah Nak...
Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya punya anak? Tentu saya jawab, saya bahagia. Namun tentu juga, tidak selamanya saya merasa bahagia. Pasti ada saja rasa bosan dan jenuh. Terlebih karena saya mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Yah.. Ada yang bantu juga sih, cuci seterika dan sedikit bebenah. Setelah itu, saya kembali mengurus semuanya sendiri.
Pagi-pagi benar saya sudah belanja dan memasak. Setelah itu memandikan dan menemaninya sampai sore lalu memandikanya lagi dan menemaninya sampai dia benar-benar terlelap. Begitu terus setiap hari.
Memang benar tidak semua hal berjalan seperti yang kita harapkan. Saya tidak pernah berharap anak saya rewel setiap hari. Padahal kalau dia sedang ceria, waduh.. Itu obat paling ampuh mengatasi kejenuhan saya. Tapi kenyataannya, dia sering sekali rewel dan membuat saya pusing tujuh keliling.
Kadang kondisi diperparah dengan suami yang saya rasa kurang membantu. Dia sering pulang malam, padahal berangkatnya pagi sekali. Sampai dirumahpun, kadang dia malah sibuk sendiri. Inginnya gantian gitu, sekali-kali dia yang memandikan, mengganti celana basah (eh, kalau yang ini kadang-kadang suka dibantu juga) dan menidurkan. Inginnya lagi, udah begitu sampai dirumah fokus ke si orok saja. Karena menurut saya, walaupun dia cape kerja, tapi dia masih bisa keluar dari rumah. Masih tertawa dengan teman-temannya. Sementara saya, 24 jam tujuh hari seminggu berkutat dengan itu-itu saja.
Kalau saya mengeluh begini, biasanya suami saya langsung membalikan kata-kata. "Yaudah, ayo kita tukeran. Kamu cari berita sana panas-panasan, aku urus rumah," Huh.. Benar-benar tidak menyelesaikan masalah.
Memang saya masih punya orang tua, yang harusnya, menengok pengalaman teman-teman saya, bisa ikut membantu. Minimal 3 bulan saja. Tapi entah kenapa, rasanya ibu saya kurang antusias untuk membantu saya. Padahal ini cucu pertama loh.
Mungkin karena saat ini, ia juga sibuk mengurus sepupu saya masih balita tapi sudah ditinggal ibunya sejak lahir. Yah.. Saya harus maklumi itu.
Jujur, sempat juga ada perasaan 'terjebak' dengan kondisi seperti ini. Bayangkan.. Saya tidak pernah bisa kemana-mana. There's no 'me-time' anymore. Memang kadang ibu saya berbaik hati mau menjaga ketika saya ingin pergi. Tapiii.. Pas saya pergi, kepikiraaan mulu bocah satu ini. Akhirnya jadi buru-buru pulang deh.
Hehe.. Tapi saya coba menikmati kok. Toh kalau nanti dia sudah besar, saya akan merindukan masa-masa ini. Jadi, cepat besar yah nak..
Pagi-pagi benar saya sudah belanja dan memasak. Setelah itu memandikan dan menemaninya sampai sore lalu memandikanya lagi dan menemaninya sampai dia benar-benar terlelap. Begitu terus setiap hari.
Memang benar tidak semua hal berjalan seperti yang kita harapkan. Saya tidak pernah berharap anak saya rewel setiap hari. Padahal kalau dia sedang ceria, waduh.. Itu obat paling ampuh mengatasi kejenuhan saya. Tapi kenyataannya, dia sering sekali rewel dan membuat saya pusing tujuh keliling.
Kadang kondisi diperparah dengan suami yang saya rasa kurang membantu. Dia sering pulang malam, padahal berangkatnya pagi sekali. Sampai dirumahpun, kadang dia malah sibuk sendiri. Inginnya gantian gitu, sekali-kali dia yang memandikan, mengganti celana basah (eh, kalau yang ini kadang-kadang suka dibantu juga) dan menidurkan. Inginnya lagi, udah begitu sampai dirumah fokus ke si orok saja. Karena menurut saya, walaupun dia cape kerja, tapi dia masih bisa keluar dari rumah. Masih tertawa dengan teman-temannya. Sementara saya, 24 jam tujuh hari seminggu berkutat dengan itu-itu saja.
Kalau saya mengeluh begini, biasanya suami saya langsung membalikan kata-kata. "Yaudah, ayo kita tukeran. Kamu cari berita sana panas-panasan, aku urus rumah," Huh.. Benar-benar tidak menyelesaikan masalah.
Memang saya masih punya orang tua, yang harusnya, menengok pengalaman teman-teman saya, bisa ikut membantu. Minimal 3 bulan saja. Tapi entah kenapa, rasanya ibu saya kurang antusias untuk membantu saya. Padahal ini cucu pertama loh.
Mungkin karena saat ini, ia juga sibuk mengurus sepupu saya masih balita tapi sudah ditinggal ibunya sejak lahir. Yah.. Saya harus maklumi itu.
Jujur, sempat juga ada perasaan 'terjebak' dengan kondisi seperti ini. Bayangkan.. Saya tidak pernah bisa kemana-mana. There's no 'me-time' anymore. Memang kadang ibu saya berbaik hati mau menjaga ketika saya ingin pergi. Tapiii.. Pas saya pergi, kepikiraaan mulu bocah satu ini. Akhirnya jadi buru-buru pulang deh.
Hehe.. Tapi saya coba menikmati kok. Toh kalau nanti dia sudah besar, saya akan merindukan masa-masa ini. Jadi, cepat besar yah nak..
Tentang Kita
Setiap pulang kerumah, ibu selalu pembicarakab topik yang sama dengan saya; yaitu soal tindak tanduk bapak saya yang selalu bikin dia kesel. Sebut saja soal bapak saya yang akhir-akhir ini sedang kerajingan fesbuk dan internetan. Dia bisa duduk berjam-jam di depan komputer, hingga membuat ibu saya naik pitam. "Bayangin ajah teh, ibu pak-pik-puk bebenah sendirian dia asik ajah internetan," begitu keluh ibu saya.
Itu cuma satu, masih banyak kebiasaan-kebiasaan bapak saya lainnya yang membuat ibu emosi jiwa. Kadang saking semangatnya cerita, saya suka terintimidasi dan menjadi ikut-ikutan sebal dengan bapak saya. Tapi setelah itu, yasudah.. Bagaimanapiun juga dia bapak saya.
Tanpa disadari, ternyata hal itu terjadi juga di kehidupan saya bersama suami. Banyak hal-hal, yang menurut saya 'enggak banget sih nih orang.' Kebiasaan-kebiasaan yang ketika pacaran dulu tidak pernah saya ketahui, namun kini terlihat jelas dan dia tidak merasa canggung menunjukannya.
Kadang saya merasa dibohongi. Dulu, yah ketika pacaran dulu, dia selalu memberikan service terbaik kepada saya. Kadang walaupun saya berbuat salah, selalu akhirnya dia yang minta maaf dan habis lah perkara. Kalau sekarang? Huh.. Boro-boro..
Pernah saking stressnya, saya berpikir menikah adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Lalu saya pulang dan ibu kembali mencerikan kisah yang sama berulang. Biasanya setelah itu saya akan tersenyum, mengenang rasa kesal kepada suami. Hehe.. Ada hikmahnya juga saya pulang.
Kini, 29 tahun sudah mereka bersama. Sementara saya, dua tahun saja belum genap. Toh yang namanya masalah, perbedaan tidak pernah ada ujungnya. Mau setahun, sedasarwasa tetap saja ada. Tidak mengenal waktu dan usia. Hehe.. Kok saya jadi waise gini yah? Mudah-mudahan pas berantem nanti, ingat tulisan ini. Jadi kadar keselnya bisa diturunkan menjadi sebuah pemakluman.
Yah.. Begitu lah. Hmm.. Deg-degan, nanti kita mau berantem soal apa lagi yah? Haha..
Itu cuma satu, masih banyak kebiasaan-kebiasaan bapak saya lainnya yang membuat ibu emosi jiwa. Kadang saking semangatnya cerita, saya suka terintimidasi dan menjadi ikut-ikutan sebal dengan bapak saya. Tapi setelah itu, yasudah.. Bagaimanapiun juga dia bapak saya.
Tanpa disadari, ternyata hal itu terjadi juga di kehidupan saya bersama suami. Banyak hal-hal, yang menurut saya 'enggak banget sih nih orang.' Kebiasaan-kebiasaan yang ketika pacaran dulu tidak pernah saya ketahui, namun kini terlihat jelas dan dia tidak merasa canggung menunjukannya.
Kadang saya merasa dibohongi. Dulu, yah ketika pacaran dulu, dia selalu memberikan service terbaik kepada saya. Kadang walaupun saya berbuat salah, selalu akhirnya dia yang minta maaf dan habis lah perkara. Kalau sekarang? Huh.. Boro-boro..
Pernah saking stressnya, saya berpikir menikah adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Lalu saya pulang dan ibu kembali mencerikan kisah yang sama berulang. Biasanya setelah itu saya akan tersenyum, mengenang rasa kesal kepada suami. Hehe.. Ada hikmahnya juga saya pulang.
Kini, 29 tahun sudah mereka bersama. Sementara saya, dua tahun saja belum genap. Toh yang namanya masalah, perbedaan tidak pernah ada ujungnya. Mau setahun, sedasarwasa tetap saja ada. Tidak mengenal waktu dan usia. Hehe.. Kok saya jadi waise gini yah? Mudah-mudahan pas berantem nanti, ingat tulisan ini. Jadi kadar keselnya bisa diturunkan menjadi sebuah pemakluman.
Yah.. Begitu lah. Hmm.. Deg-degan, nanti kita mau berantem soal apa lagi yah? Haha..
Monday, June 28, 2010
Ayo... anak pintar
Ayo... anak pintar, jangan lama-lama yah di dalam sana. Ga enak deh lama-lama di perut ibu. Sumpek, gelap, sempit, ga bisa gerak sana-sini. Di luar sini, kamu bisa lihat macem-macem. Bisa jalan-jalan sama Ibu dan Bapak. Bisa lihat hujan, denger burung-burung kecil yang rame banget kalau pagi di rumah kita.
Eh, kita juga punya baju baru loh buat kamu. Hmm.. baru bisa beli di tanah abang sih, tapi nanti kalo ibu dapet THR, kita ke Mothercare yah sayang... gampang deh pokoknya....
Oiyah, ibu sama bapak juga sudah punya tempat tidur loh buat kamu. Ga baru sih, tapi masih enak kok. Masih bagus juga. Makanya, kamu cepet keluar yah.. nanti kita seneng-seneng bertiga sama bapak.
Kalo kamu ga keluar-keluar, Kasian kan ibunya. Jadi susah jalan, ga pernah tidur nyenyak. Tapi ibu tetep seneng kok, ga ngeluh. Asal kamu cepet keluar yah..
Nah.. kalau kamu udah mau keluar, jangan susah-susah yah. Kamu pasti kasian sama ibu, kalau harus nahan sakit berjam-jam. Kita baca bismillah bareng, trus kamu keluar deh ga lama-lama.
Insya Allah kamu jadi anak sholeh yah. Jadi anak yang berbakti sama orang tua, anak yang pintar dan berakhlak mulia, anak sehat, mandiri, kuat dan baik hati. Tiru semua yang terbaik dari ibu dan bapakmu yah nak, tapi jangan diikutin yang jelek-jelek.
Insya Allah, kamu juga jadi anak yang bisa diandalkan. Tempat Bapak dan ibu menggantukan harapan. Dan semoga Allah juga memberi kamu lidah yang fasih guna membaca Al-quran dan Hadist, serta mendapat berkahnya Nabi Muhammad SAW.
Amin... Ya Robal Alamin....
Eh, kita juga punya baju baru loh buat kamu. Hmm.. baru bisa beli di tanah abang sih, tapi nanti kalo ibu dapet THR, kita ke Mothercare yah sayang... gampang deh pokoknya....
Oiyah, ibu sama bapak juga sudah punya tempat tidur loh buat kamu. Ga baru sih, tapi masih enak kok. Masih bagus juga. Makanya, kamu cepet keluar yah.. nanti kita seneng-seneng bertiga sama bapak.
Kalo kamu ga keluar-keluar, Kasian kan ibunya. Jadi susah jalan, ga pernah tidur nyenyak. Tapi ibu tetep seneng kok, ga ngeluh. Asal kamu cepet keluar yah..
Nah.. kalau kamu udah mau keluar, jangan susah-susah yah. Kamu pasti kasian sama ibu, kalau harus nahan sakit berjam-jam. Kita baca bismillah bareng, trus kamu keluar deh ga lama-lama.
Insya Allah kamu jadi anak sholeh yah. Jadi anak yang berbakti sama orang tua, anak yang pintar dan berakhlak mulia, anak sehat, mandiri, kuat dan baik hati. Tiru semua yang terbaik dari ibu dan bapakmu yah nak, tapi jangan diikutin yang jelek-jelek.
Insya Allah, kamu juga jadi anak yang bisa diandalkan. Tempat Bapak dan ibu menggantukan harapan. Dan semoga Allah juga memberi kamu lidah yang fasih guna membaca Al-quran dan Hadist, serta mendapat berkahnya Nabi Muhammad SAW.
Amin... Ya Robal Alamin....
Monday, March 29, 2010
Penilaian
Hari ini ada penilaian di kantor saya. Satu persatu anggota tiap divisi dipanggil menghadap Producer Eksekutif bersama dengan Manager. Kita dipanggil untuk dievaluasi dan menanggapi penilaian yang diberikan oleh sang Prodek. Saya dipanggil paling dulu, karena saya yang selalu datang paling pagi dan kerjanya hanya duduk di depan komputer tanpa melakukan pekerjaan yang berarti. Maklum saja, saya sedang hamil. Jadi untuk sementara ‘diistirahatkan’ dulu.
Dengan perasaan deg-degan atau entah itu grogi karena akan berbincangan dengan Manager yang menurut saya saat ini paling tampan dibanding karyawan lainnya (hehe..), saya pun masuk ruang itu. Tapi sebenarnya deg-degan juga sih, bagaimanapun juga saya akan dinilai.
Dan dimulailah penilaian itu. Sang Manager sumbang suara pertama. Dia bilang saya punya potensi. Sebuah permulaan yang cukup membuat merah pipi. Apalagi, hal tersebut juga diamini anak buahnya sendiri, Produser Eksekutif saya. Tapi saya agak terganggu dengan kalimat-kalimat berikutnya. Ia mempertanyakan kinerja saya setelah nanti resmi menjadi seorang ibu. Dia bilang, kecenderungan seorang perempuan setelah menikah adalah sulit untuk berprestasi dan bersaing dengan pekerja lainnya. Atau dengan kata lain, menurun dari sisi kinerja.
Saya agak malas menanggapi pernyataanya karena pertama, itu sama sekali tidak relevan dengan konteks pembicaraan kita yang harusnya mengevaluasi kinerja saya selama satu tahun kebelakang, Kedua, kenapa sih kinerja perempuan yang menurun karena hal-hal yang sudah menjadi kodratnya seperti hamil dan mengurus anak harus dipermasalahkan? Padahal menurut saya, asal mereka paham bagaimana menempatkan pekerja-pekerja yang dalam kondisi tersebut pasti tidak ada istilah kinerja menurun.
Ketiga, coba bayangkan jika perempuan-perempuan itu adalah istri, adik atau kakak mereka sendiri yang harus bekerja untuk menyokong keluarga. Saya memang tidak di posisi itu karena beruntung bisa bekerja, karena memang saya ingin bekerja bukan terpaksa, tapi kalau mau head to head dengan tugas para laki-laki, pasti jauh lebih berat tugas dan tanggung jawab perempuan. Tapi intinya adalah, berhenti lah mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya kodrati. Apa mau komplain juga karena terlahir sebagai laki-laki?
Ngomong-ngomong, nilai saya B tahun ini. Padahal tahun lalu A+ atau baik sekali. Ya sudah lah, toh kabarnya 2010 ini tidak ada kenaikan gaji. Jadi tidak ada pengaruhnya sama sekali berapa pun nilai saya.
Dengan perasaan deg-degan atau entah itu grogi karena akan berbincangan dengan Manager yang menurut saya saat ini paling tampan dibanding karyawan lainnya (hehe..), saya pun masuk ruang itu. Tapi sebenarnya deg-degan juga sih, bagaimanapun juga saya akan dinilai.
Dan dimulailah penilaian itu. Sang Manager sumbang suara pertama. Dia bilang saya punya potensi. Sebuah permulaan yang cukup membuat merah pipi. Apalagi, hal tersebut juga diamini anak buahnya sendiri, Produser Eksekutif saya. Tapi saya agak terganggu dengan kalimat-kalimat berikutnya. Ia mempertanyakan kinerja saya setelah nanti resmi menjadi seorang ibu. Dia bilang, kecenderungan seorang perempuan setelah menikah adalah sulit untuk berprestasi dan bersaing dengan pekerja lainnya. Atau dengan kata lain, menurun dari sisi kinerja.
Saya agak malas menanggapi pernyataanya karena pertama, itu sama sekali tidak relevan dengan konteks pembicaraan kita yang harusnya mengevaluasi kinerja saya selama satu tahun kebelakang, Kedua, kenapa sih kinerja perempuan yang menurun karena hal-hal yang sudah menjadi kodratnya seperti hamil dan mengurus anak harus dipermasalahkan? Padahal menurut saya, asal mereka paham bagaimana menempatkan pekerja-pekerja yang dalam kondisi tersebut pasti tidak ada istilah kinerja menurun.
Ketiga, coba bayangkan jika perempuan-perempuan itu adalah istri, adik atau kakak mereka sendiri yang harus bekerja untuk menyokong keluarga. Saya memang tidak di posisi itu karena beruntung bisa bekerja, karena memang saya ingin bekerja bukan terpaksa, tapi kalau mau head to head dengan tugas para laki-laki, pasti jauh lebih berat tugas dan tanggung jawab perempuan. Tapi intinya adalah, berhenti lah mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya kodrati. Apa mau komplain juga karena terlahir sebagai laki-laki?
Ngomong-ngomong, nilai saya B tahun ini. Padahal tahun lalu A+ atau baik sekali. Ya sudah lah, toh kabarnya 2010 ini tidak ada kenaikan gaji. Jadi tidak ada pengaruhnya sama sekali berapa pun nilai saya.
Thursday, February 4, 2010
Fatty ...
Mengutip tweet GM : “Sayang, Presiden gampang tersinggung. Tapi syukur kita boleh seenaknya menyinggung dia dan mengecam bhw dia gampang tersinggung”
Hehe.. lucu yah. Bener juga. Presiden kok kerjaanya curhat mulu, ngeluh mulu. Dan kebencian saya terhadap sosok orang satu negeri ini, semakin menjadi-jadi. Memang sih, Indonesia itu kompleks banget. But you just like a looser if you keep complaining all the time. Come on… U’re President. Use you power to make everything better. And there will no any excuse for your complaining because this is your second chance. Wake up, fatty…
Huhu.. semoga kebencian ini tidak membawa dampak buruk buat my baby. Huhu..
Hmm.. Btw, syukur deh GM masih kritis. Padahal dia tim sukses si susi juga bukan?
Hmm…
Hehe.. lucu yah. Bener juga. Presiden kok kerjaanya curhat mulu, ngeluh mulu. Dan kebencian saya terhadap sosok orang satu negeri ini, semakin menjadi-jadi. Memang sih, Indonesia itu kompleks banget. But you just like a looser if you keep complaining all the time. Come on… U’re President. Use you power to make everything better. And there will no any excuse for your complaining because this is your second chance. Wake up, fatty…
Huhu.. semoga kebencian ini tidak membawa dampak buruk buat my baby. Huhu..
Hmm.. Btw, syukur deh GM masih kritis. Padahal dia tim sukses si susi juga bukan?
Hmm…
Hmm...
Hari ini, my baby genap empat bulan. Ada yang bilang, saat ini adalah saat dimana Dia meniupkan roh dan hidup lah si jabang bayi. Tapi satu bulan lalu, dokter saya bilang janin saya sudah berdetak menggambarkan bahwa ia punya jantung dan hidup. Bagi saya, terserah saja apapun kondisinya. Yang penting dia sehat, saya sehat dan kami (saya dan suami) semakin tidak sabar mendengar langsung tangisnya kelak.
Hmmm.. baik-baik selalu yah kamu disana.
Hmmm.. baik-baik selalu yah kamu disana.
Subscribe to:
Posts (Atom)