Wednesday, August 27, 2008

Kepencundangan Saya




“Meti.. Sori td gw reject tlp lo. Lg boarding. Gw dah d ruang tunggu, j6.50
take of. Jeng, ttp semangat yah tuk ngejar perubahan. Allah pasti liat
usaha qta kok. Cie.. Jd religius.. Saling mendoakan yak! Ini no gw slama d
eropa, sms internas cma 500. Wajib Keep in touch loh


Begitu bunyi pesan singkat yang masuk diujung tenggat waktu tugas saya Selasa lalu. Itu dari teman saya. Teman baik yang sedang bernasib baik. Ia mendapat kesempatan untuk meraih predikat master dengan biaya dari persatuan negara-negara di Eropa. Dua tahun gadis yatim piatu itu menimba ilmu di lebih dari lima negara. Hmm.. beruntung bukan? Padahal usianya belum lagi habis 25 tahun.

Saya juga 25 tahun sejak kira-kira empat bulan lalu. Tapi lihat saya.. tidak lebih dari seorang pecundang yang menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Meita Annissa yang terlalu disibukan dengan persoalan cinta. Lupa akan cita-cita besarnya yaitu mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan secara cuma-cuma.

Berhari-hari, berminggu-minggu dan (mungkin) hingga berbulan-bulan masih saja ia berkutat dengan urusan yang hanya memusingkan kepala. Padahal jika tidak dipikirkan, jika tidak harus memilih diantara orang-orang yang memproklamirkan rasa suka dan sayang (atau napsu?), mungkin saya bisa seberuntung teman baik saya itu.



Memang disatu sisi saya selalu merasa butuh seseorang untuk berbagi. Seseorang yang mau mendukung saya, atau bahkan punya ambisi yang lebih gila dari yang saya miliki. Tapi untuk mendapatkan sosok seperti itu, ternyata bukan perkara mudah. Kadang saya merasa kita punya banyak kemiripan, namun sayang visi dan misi kita berbeda dalam memandang serta memaknai masa depan.

Meita Annissa… sepertinya itu terlalu klise? Mungkin saja. Tapi sosok itu yang sebenarnya sangat saya butuhkan.



Pernah suatu ketika, teman saya yang dapat beasiswa ke Eropa itu berkata,? “Gw begini karena lo tau met. Gw pernah sempat down karena belum juga ada aplikasi yang lolos. Tapi waktu lo dapat Fellow ke Jerman, gw jadi mikir … kok lo bisa kenapa gw ngga. Gara-gara itu gw jadi semangat lagi buat nyari. Lo juga harus gitu yah met,” pesannya pada saya panjang lebar.

Tentu… saya seperti mendapat doping baru pemicu semangat. Seperti orang kesurupan saya pun mulai mencari informasi kesana-sini. Namun lagi-lagi masalah itu datang. Percintaan yang tidak lebih dari sekedar roman picisan. Setiap hari harus bertemu, demikian juga diakhir pekan, lalu kapan saya bisa maju.?

Yah.. sudah lah. Teman saya pasti sudah tiba di Finlandia sekarang. Negara pertama yang akan ia jelajahi dan taklukan. Rongga paru-parunya pun juga pasti sudah penuh dengan udara segera dipenghujung musim panas. Lalu saya? Bagaimana saya…? Tuhan.. kamu masih mau kan berbaik hati pada perempuan yang tak tahu rasa berterima kasih ini?

Saturday, July 5, 2008

Avonturir


Untuk kesekian kali aku terbangun nyaman di dalam pelukan lelaki Berwajah tirus itu. Aroma tubuhnya terasa tenang menyusup kedalam rongga hidungku. Murni aroma tubuh, pheromone, tanpa gangguan dari aneka minyak wangi apapun namanya itu.

Untuk kesekian kali juga kupandangi wajahnya yang dipenuhi garis-garis kasar sebagai bukti kerasnya hidup yang selama ia jalani. Terus kupandangi hingga ke lekuk bangir hidung itu sembari menanti ia terbangun dan segera mengosok-gosokan dengan manja hidungnya tadi ke hidungku lantas berujar, “selamat pagi sayang.”

Duh kamu, kenapa harus selalu aku yang terlebih dulu bangun. Merasakan hangat sang mentari yang tanpa malu-malu menerebos masuk ke kamar kita. Lalu, wajah tirus mu pun lebih mudah untuk kupandangi. Wajah yang lelah. Entah karena diskusi panjang kita tentang hidup, mimpi sampai beragam cerita konspirasi yang mewarnai berbagai peristiwa di dalam negeri atau karena percintaan panjang kita semalam.

Sayang… kamu memang istimewa. Bagaimana tidak, dari awal kita bertemu, ditengah hiruk pikuk jumpa wartawan dengan Kepala Divisi Humas Mabes Polri yang berkicau panjang soal rusuhnya demo mahasiswa menolak kenaikan bahan bakar minyak itu, kamu sudah membuatku jatuh cinta. Kalau kata orang, cinta pada pandangan pertama.

Seingatku, kamu mencecar Kadiv Humas berperut buncit itu dengan beragam pertanyaan yang menyudukan. Kamu buat ia mengaku, bahwa Polisi juga turut bertanggung jawab atas kerusuhan itu. Dan semua mata tertuju padamu. Apalagi kaum perempuan seperti aku. Kagum akan kepintaraanmu, juga wajah tampan yang mengalir darah campuran Pakistan dan Jerman.

Enam tahun menyandang status sebagai kuli tinta memang membuatmu lebih tahu segala. Ku pikir, aku sudah termasuk orang yang tahu banyak. Sampai kadang dengan sombong, ku sudutkan orang-orang yang coba membantah apa yang ku bilang. Tapi sejak mengenalmu, aku tahu aku bukan apa-apa.

Seperti minggu lalu misalnya, sebelum kita bercinta, kamu bercerita tentang kegundahanmu akan unjuk rasa anarkis di depan Dedung DPR/MPR yang berlanjut ke kampus Universitas Atma Jaya Jakarta. Saat itu, kamu bergumam sendiri, “Settingan siapa ini.? Mengapa harus ada lagi aksi demonstrasi yang jauh dari kesan manusiawi.”

Padahal menurutmu, Muchdi baru saja ditangkap. Pembunuh Aktivis Ham, Munir, mungkin sebentar lagi terungkap. Mengapa harus ada peristiwa baru, selang sehari setelah Badan Reserse Kriminal Mabes Polri menggelandang salah satu mantan petinggi BIN itu.

Ku tanya balik, “menurut kamu ini settingan siapa sayang,”? dan dahi mu pun berkerut. Seperti biasa, teori-teori konspirasi yang selalu ada di otakmu membuka diskusi panjang kita melintasi malam. “Banyak sebab. Tapi yang jelas penunggangnya avonturir. Yang ingin SBY-JK lengser dengan demosi terhadap polisi. Pintu masuknya lewat polisi sayang,” begitu jawabmu.

Avonturir? Hmm… Binatang apa itu. Sepanjang karirku, belum pernah aku dengar istilah itu. Banyak kisah-kisah konsiprasi yang yang mengendap di otakku, tapi kok aku tidak tahu untuk yang satu ini. Lalu… apalagi itu demosi? Apa hubunganya dengan kematian Munir atau aksi Anarkis para mahasiswa-mahasiswa tadi. Agak malu bertanya, tapi aku harus tahu. Kucumbu dia dulu, baru ku lontarkan pertanyaan itu, “avonturir apa sayang.?”.

Bukan menjawab, kamu hanya tersenyum. Tidak tahu apa yang lucu. Tapi biar lah, itu konsekuensi logis yang harus diterima makhluk bodoh seperti aku. “Avonturir itu orang yang mengambil kesempatan dalam sebuah situasi sayang. Mereka penelikung,” jawabmu pelan.

Kemudian tanpa ditanya, penjelasan berlanjut ke istilah demosi. Menurutmu, demosi sama dengan tidak mempercayai lagi untuk menduduki posisi startegis. “Karena aktornya Polisi sayang,” tambahmu memberi alasan. “Bisa saja karema terkait kegiatan polisi belakangan ini.. yang tengah asyik dengan kasus Munirnya. Hmm.. tapi bisa iya bisa tidak yah.”

Aku masih bingung. Masih banyak pertanyaan menggantung di tenggorokan. Tapi kamu malah mencumbuku. Tak perduli atas segala keingintahuanku. Sayangnya lagi, bercinta denganmu memang jauh lebih mengasyikan. Daripada kisah konspirasi picisan ini. Maka bergumulah kita dalam asa. Tak ada lagi pertanyaan. Hanya kepasrahan yang sejenak meninggalkan kamu dan aku dari realita yang ada. Kamu dan aku sayang. Hanya kamu dan aku. Bergerilya menembus ruang dan waktu lalu kembali dengan peluh yang membasahi sekujur tubuh.

Entah mengapa kamu begitu mahir bercinta. Apa karena kecerdasan intelektualmu yang membuatku begitu bergairah. Atau memang karena kamu seorang pemuja jurus-jurus Kamasutra? Atau mungkin kombinasi dari keduanya. Lucu memang, aku lebih bergairah dengan lelaki pintar dari pada seksi.

Meski aku tak suka darah Pakistan itu mengalir di dirimu, karena kamu terlihat tampan menjadi seorang Jerman, tapi aku begitu tergila-gila pada bibir penuh dan hati setengah dewa itu. Apalagi karena tiap bait kata yang muncul dari bibirmu adalah sebuah pencerahan dan pengetahuan baru bagiku.

Setelah peluh mengering, cerita konspirasi itu kembali mengerutkan kening. Ku tanya kamu, apa ini pengalihan isu sayang? Kamu pun bangun dari pelukan, langsung menyambar sebatang rokok dan menyulutnya tak sabar. Kamu bilang, “bukan sayang, tapi ada yang tidak senang dengan upaya polisi mengungkap kasus Munir.”

“Makanya, ada pihak yang mencoba menyetting untuk membentrokan polisi dengan mahasiswa. Sehingga orang akan tidak senang dengan polisi,” cetus mu panjang lebar.

Kemudian teori mu tentang konspirasi dalam negeri bergulir lagi. Kamu katakan, dengan settingan tersebut ujung-ujungnya polisi bisa di demosi. “Tapi bisa iya, bisa tidak. Masalahnya kalau sampai ada yang terpancing dan ada yang jadi korban, misalnya mahasiswa mati tertembak polisi maka bisa seperti ‘98 lalu. Orang sudah gak percaya pemerintahan.”

“Lalu sayang, kira-kira orang yang tidak senang itu siapa,”? tanya ku kembali. “Ya avonturir itu tadi,” jawabmu. “Bisa musuh politik pemerintah hingga sampai mereka yang tidak ingin kasus Munir terungkap. Dan siapa mereka? ya harus dibuktikan dulu.”

Hisapan terakhir habis sudah. putung rokok itu kamu koyakan tak berdaya hingga tak ada lagi bara. Kamu kembali kepelukan ku, melanjutkan cerita-cerita tak masuk akal itu. “Bisa banyak yang main sayang. Tapi coba kamu jawab ini,” lanjutnya, “itemukan sebuah granat aktif di UNAS saat pecah bentrok polisi VS mahasiswa. Nah siapa yang naruh granat itu disana? polisi dinas tidak bawa granat sayang.”

“Mahasiswa juga tidak mungkin punya. Yang menaruh granat di sana berharap granat itu dilempar mahasiswa atau polisi dan blar..... jatuh korban. Apalagi kalau korbannya mahasiswa, maka orang-orang akan marah besar,” begitu, bunyi teori konspirasimu.

“Polisi sudah memperkirakan itu dan tak ingin terpancing. Makanya cenderung membiarkan mahasiswa mengamuk. Nah, tapi kan mahasiswa juga harus sadar kalau ngamuk ngawur gitu orang tidak akan simpatik,” keluhmu.

Lalu ku eratkan pelukan di tubuh kurusnya itu. Mencoba menenangkan segala gundah dan kegelisahan, meski aku tak punya solusi atas segala persoalan ini. Ku kecup keningnya lembut dan kamu pun menarik nafas panjang mencoba menikmati kecupan tadi.

“Lantas, bagaimana kamu membuktikan teori konspirasimu itu sayang,? “tanya ku. “Apa akan kamu bagi dengan semua orang di negeri ini melalui gerosan tinta cetak di media, tempat kamu bekerja,” sambungku dalam hati.

“Kemarin Kapolri berbicara dengan wartawan. Dia bilang demo lalu tidak murni digerakan mahasiswa. Tapi dia tidak secara eksplisit megatakan ada yang menunggangi,” ucap kamu menjawab pertanyaanku. Namun sayang menurutmu, mantan Kapolda Jawa Timur itu tidak banyak memberikan informasi.

“Tapi ketika yang lain pergi, dia menarik tanganku. Dia berbisik bahwa sang designer sudah teridentifikasi. Dan terbunuhnya mahasiswa Unas itu memang disengaja terjadi. Agar perang itu, pecah sendiri. Hanya tinggal tunggu waktu bagi polisi untuk menangkap dia. Begitu katanya.”

Darahku mendesir hebat. Entah karena kepiawaianya mendapat informasi-informasi dari sumber asli atau karena teori-teori konspirasi ini yang makin lama makin tidak masuk akal. Bayangkan saja, mana ada orang yang tega membunuh untuk memuluskan rencannya. Bahkan yang menjadi korban adalah Mahasiswa. Benar-benar tidak masuk akal bukan?

Namun seperti biasa, kamu selalu bisa meyakinkanku akan kebenaran teori itu. kamu bilang seorang Kapolri tak mungkin bicara tanpa ada bukti. “Tapi sialnya, dia bilang informasi itu off the record. Aku bisa apa,” imbuhnya meyakinkan.

Tapi benar saja, selang beberapa jam setelah percintaan kita, setelah diskusi yang bikin pusing kepala, sebuah pesan singkat masuk ke telepon selularku. Ternyata dari redakturku. Begini bunyinya: “Kepala BIN bilang demo kemarin ditunggangi. Tolong cari tahu, siapa orang itu,”. Hmm.. aku bergumam sendiri. Hebat sekali belahan jiwaku ini. Selamat sayang, teori konspirasimu nyaris terbukti. Tinggal sekarang, aku mencari tahu benar tidak sang designer membunuh anak muda itu.

****

Sudah jam 9 lebih sedikit. Kamu belum bangun juga. Aku semakin tidak sabar, menunggu dengan harap-harap cemas kapan kamu akan segera terbangun dan menggosok-gosokan hidungmu ke hidungku sembari berujar, “selamat pagi sayang.” Sesuatu yang selalu aku rindu dari kamu. Duuh.. kenapa bisa selelap itu sih tidurmu. Tak bergeming meski sudah hampir 15 menit tak henti-hentinya kupandangi.

Dan tiba-tiba, telepon selularmu berbunyi. Mengantar segenap harap kamu akan terbangun dan segera menggosok-gosokan hidungmu ke hidungku sembari berujar, “selamat pagi sayang.” Ahaa… kamu memang bangun. Bahagia rasanya. Seperti seorang bayi yang mendapat biskuit kegemaranya. Pasti kamu langsung menggosok-gosokan hidungmu ke hidungku sembari berujar, “selamat pagi sayang.”

Tapi tidak ... Pujaan hatiku tidak melakukan itu. Ia berlari ke kamar mandi dengan telepon yang menempel erat dipipi. Harap-harap cemas menunggu, kembali mengusik hati. Tuhan.. jangan lagi. Kamu janji, dia akan bersamaku selalu. Tidak hanya malam ini, tapi juga lusa dan lusa hingga maut memisahkan kita. Jangan seperti ini lagi Tuhan. Jangan…. Dia milikku.

Ditengah rintihan dan doaku, kamu pun kembali. Rasa cemas itu, masih membunuhku perlahan. Menanti apa yang akan terjadi, setelah malam yang begitu membahagiakan ini. “Ini hari Selasa. Aku harus beli sabun mandi untuk anakku. Aku juga harus pulang cepat. Karena tadi malam aku bersamamu. Nanti aku telepon kamu.” Dan belahan hatiku, pergi berlalu. Seperti pagi-pagi yang lalu. (meita annissa)

Thursday, March 13, 2008

Baju Lusuh

Kata orang hari ini saya tampak cantik. Blus kerah rendah warna putih bersih, dipadu dengan celana bahan Rp. 60 ribuan yang saya beli tadi malam. hmmm.. am i looking good with this dress? sebenarnya iya sih, saya memang ingin sekali terlihat cantik hari ini.

Entah kenapa hari ini saya ingin sekali tampil cantik. Meski tahu, baju saya pasti akan segera lusuh bedak pun luntur tersapu keringat sepanjang perjalanan dari kosan ke tempat liputan di Cipete sana. Maklum, sudah lebih dari tiga tahun ini saya selalu menggandalkan motor sebagai alat transportasi utama.

Ok, balik lagi soal baju. Tahu kenapa saya ingin sekali terlihat cantik hari ini? Karena saya sangat menanti seseorang di luar sana mengajak keluar malam ini. Selain menyiapkan pakaian khusus, saya juga mati-matian agar sebelum jam enam segala pekerjaan sudah selesai.

Dua kali hujan deras sepanjang perjalanan dari Cipete menuju Kantor Pusat Pertamina (tempat liputan berikutnya) dan dari Pertamina ke kantor, saya terabas begitu saja sembari mati-matian menahan agar air tidak merambas masuk terlalu dalam. Nanti pakaian saya tambah lusuh.

Dia bilang, dia sayang saya. Walaupun rasaya kok seperti terpaksa. Tapi saya buang jauh-jauh pikiran itu, karena berharap malam ini ia akan katakan dengan sungguh-sungguh.

Tapi .... sudah jam 19.30. Tidak ada kabar. Pakaian saya semakin lusuh dan muka pun .... aduh, ga tahu seperti apa bentuknya.

Ya sudah, selamat bersenang-senang saja kamu disana. Semoga kamu bahagia. Biar nanti, baju lusuh ini segera saya cuci. Ini baju kesukaan saya.

Friday, May 11, 2007

Yupss... It's B'day


Ga terasa udah 24 tahun berlalu. Kalau mau dirunut ulang, banyak sekali kejadian yang 'ngga' banget karena ketololan saya atau masalah-masalah lain diluar kewenangan kita sebagai manusia. Tapi sebagai penyeimbang, hal-hal menarik dan menyenangkan juga banyak terjadi. Sesuatu yang bahkan merubah saya secara personal maupun lingkungan.

Ehm, mungkin saatnya untuk kontemplasi diri lagi. Karena entah kenapa, akhir-akhir ini orientasi saya akan masa depan semakin memudar. Yah, standar lah.. karena masalah cinta, keluarga, juga teman-teman atau kejenuhan karena beban dan ritme kerja yang mulai gila-gilaan.

Apapun itu, saya harap di tahun 2007 yang tinggal setengah ini, saya mendapat secuil harapan dan kesempatan untuk membahagiakan keluarga dan menggapai segala cita..

Amien ...

Happy B'day MEITA .....

Wednesday, May 9, 2007

Gara-Gara SIPUT

Karena bosan dan ingin menyusul sang suami ke Australi, salah seorang sahabat saya memutuskan untuk berhenti kerja beberapa waktu lalu. Saat itu, tak ada fare-well party untuknya, karena memang ia tidak ingin.

Ketika bertemu di dunia maya, saya pun berinisiatif untuk mengajak hang out bareng atau sekedar dinner untuk melepas kangen. “Eh, kita makan SIPUT aja yuks,?” ajak saya waktu itu yang langsung ia sanggupi.

Maka Rabu malam kemarin, ia datang menjemput saya dan dua teman kami lainnya. Begitu sudah di dalam mobil, dengan nada penuh kegembiraan dia pun bertanya,”met, kita makan SIPUT dimana? Seneng banget deh gw, udah lama ga makan, makanan Prancis,” tukasnya antusias.

Karena merasa ada yang tidak benar, tanpa menunggu lama saya langsung berseloroh, “kok makanan Prancis sih, orang SIPUT aja.”

Namun ternyata, ia masih merasa ada yang tidak 'pas' dengan rencana kita malam itu. “Lah, kita mo makan SIPUT yang keong itu kan. Emang kita mo makan apa,?” tuturnya dengan wajah yang tentu saja, nyaris tanpa dosa. Sehingga tanpa diminta, seiisi mobil ikut tertawa terbahak-bahak.

Memang waktu chatting dulu, saya mengajak dia makan SIPUT. Tapi SIPUT yang dimaksud di sini adalah SEAFOOD, bukan SIPUT beneran. Begitu lah dunia maya, terlalu banyak distorsinya. Apalagi kalau chatting saat deadline. Jadinya, ya seperti ini. =’)

Lucunya lagi, teman saya ini sudah terlanjut bercerita pada keluarga, teman-teman kita bahkan suaminya yang di negeri Kangguru sana, bahwa kita akan makan SIPUT. “Iya met, gw juga heran… emang lo doyan SIPUT ya,?” Tanya teman saya yang lain.

Sepanjang perjalanan, kita tidak henti-hentinya tertawa. Cukup menghangatkan reuni malam itu. Terlebih, tempat makan SIPUT atau SEAFOOD yang kami tuju itu memang sangat recommended. Hmm, pertemuan mendatang, pasti lebih seru. Heuheuheu …

Monday, May 7, 2007

Tentang bertahan hidup

sebuah pesan singkat (tepatnya puisi singkat) masuk di inbox friendster saya beberapa waktu lalu. Dari seorang teman, yang sama sekali saya tidak ketahui identitasnya. Melalui profil friendster yang ia miliki, saya hanya mengetahui bahwa ternyata kita satu kantor. Tapi karena dia belum juga mau memberitahu identitas yang sebenarnya, maka saya pun kurang menanggapi dengan baik pesan-pesan yang ia kirim (hmmm..., jeleknya saya)
Maka masuklah puisi singkat ini ;



BERTAHAN HIDUP


Coba untuk ulangi apa yang terjadi
Harap 'kan datang lagi
Semua yang pernah terlalui
Bersama alam menempuh malam
Walau tak pernah ada kesempatan
Terjebak dalam jerat mengikat
Namun tekad nyatakan bebas

Temukan diri di dalam dunia
Tak terkira...
Semua mati dan menghilang
Terlalu pagi temukan arti

Jalan panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan
Di dalam tangis atau tawa

Temukan diri di dalam dunia tak terkira
Tak berarti tak akan pasti
Terlalu gelap...pergilah pulang

>>>>>>

mungkin itu cocok untuk suatu ungkapan
" Bertahan Hidup "





itu tulisnya

Sunday, May 6, 2007

Cuci darah


Atas perintah dari seorang redakur, beberapa waktu lalu saya meliput tentang kehidupan para penderita gagal ginjal yang memanfaatkan subsidi pemerintah berupa Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin). Tujuannya standar sih, cuma mau cari tahu apakah mereka mendapat apa yang layak mereka dapatkan atau tidak.

Setelah mencari kesana-sini, termasuk ngotot-ngototan sama orang-orang RSCM yang sok formal itu, akhirnya saya berkenalan dengan Tarna (31), ayah satu anak yang sudah dua tahun lebih menderita ginjal kronik..

Ia bercerita, penyakit ini bersumber dari kebiasaan kurang mengkonsumsi air putih dan kerap menunda buang air kecil. Awalnya, liver adalah penyakit pertama yang di vonis dokter. Maka setelah vonis pertama itu, ia pun sibuk mengkonsumsi beraneka ragam obat-obatan yang disarankan oleh dokter tadi.

Namun sayangnya, rasa sakit belum juga berlalu. Atas saran seorang temen, pria kurus hitam ini mencoba untuk menjalani berbagai terapi alternatif. "Tapi bukannya sembuh, malah saya langsung di vonis ginjal kronik. Mungkin karena jamu-jamuan yang biasa saya minum," ucapnya pelan.

Dan disinilah sekarang Tarna. Menghabiskan hampir setengah dari hidupnya untuk menjalani proses hemodialisis atau cuci darah, karena ginjalnya tidak lagi berfungsi.

Putus asa dan rasa ingin mati langsung memenuhi hari-hari Tarna bersama keluarga. Bagaimana tidak, di masa-masa awal menjalani proses ini ia harus kehilangan hampir seluruh harta bendanya. Cuci darah memang bukan barang murah. Terlebih jika harus dilakukan, minimal dua kali seminggu untuk dapat bertahan hidup. ”Kalau ngga inget anak, saya mah udah ga mau ke sini (RSCM) lagi. Biarin, mati aja,” selorohnya lirih.

Berangkat dari keluarga yang cukup berada, kini Tarna harus mengemis kepada pemerintah. Uang tabungan dan tunjangan yang ia dapat dari bekerja sebagai teknisi di sebuah pusat perbelanjaan, habis sudah. ”Tapi semangat hidup saya, masih ada,” tandas pria yang kini tak lagi bekerja itu.

Tarna memang 'beruntung'. Negara mau sedikit menanggung segala penderitaanya. Lalu bagaimana yang lain? Tidak sedikit juga yang harus mati karena tak ada biaya dan pemerintah pun melenggang begitu saja. What I'm trying to say is, pemerintah memang tidak punya dana memadai untuk mengobati segala penyakit. Tapi prinsip sedia payung sebelum hujan seharusnya bisa menjadi motto andalan.

Lakukan sosialisasi tentang bagaimana menjaga kesehatan. Turunkan para ahli secara rutin untuk memberi penyuluhan. Saya rasa, dananya akan jauh lebih murah. Hmm.. mungkin terdengar soal saya ngegampangin. Tapi mo gimana lagi, saya cuma pengen ga ada yang sakit aneh-aneh lagi. Cukup flu, sakit kepala dan sakit gigi saja.