Sunday, May 6, 2007

Cuci darah


Atas perintah dari seorang redakur, beberapa waktu lalu saya meliput tentang kehidupan para penderita gagal ginjal yang memanfaatkan subsidi pemerintah berupa Asuransi Kesehatan Keluarga Miskin (Askeskin). Tujuannya standar sih, cuma mau cari tahu apakah mereka mendapat apa yang layak mereka dapatkan atau tidak.

Setelah mencari kesana-sini, termasuk ngotot-ngototan sama orang-orang RSCM yang sok formal itu, akhirnya saya berkenalan dengan Tarna (31), ayah satu anak yang sudah dua tahun lebih menderita ginjal kronik..

Ia bercerita, penyakit ini bersumber dari kebiasaan kurang mengkonsumsi air putih dan kerap menunda buang air kecil. Awalnya, liver adalah penyakit pertama yang di vonis dokter. Maka setelah vonis pertama itu, ia pun sibuk mengkonsumsi beraneka ragam obat-obatan yang disarankan oleh dokter tadi.

Namun sayangnya, rasa sakit belum juga berlalu. Atas saran seorang temen, pria kurus hitam ini mencoba untuk menjalani berbagai terapi alternatif. "Tapi bukannya sembuh, malah saya langsung di vonis ginjal kronik. Mungkin karena jamu-jamuan yang biasa saya minum," ucapnya pelan.

Dan disinilah sekarang Tarna. Menghabiskan hampir setengah dari hidupnya untuk menjalani proses hemodialisis atau cuci darah, karena ginjalnya tidak lagi berfungsi.

Putus asa dan rasa ingin mati langsung memenuhi hari-hari Tarna bersama keluarga. Bagaimana tidak, di masa-masa awal menjalani proses ini ia harus kehilangan hampir seluruh harta bendanya. Cuci darah memang bukan barang murah. Terlebih jika harus dilakukan, minimal dua kali seminggu untuk dapat bertahan hidup. ”Kalau ngga inget anak, saya mah udah ga mau ke sini (RSCM) lagi. Biarin, mati aja,” selorohnya lirih.

Berangkat dari keluarga yang cukup berada, kini Tarna harus mengemis kepada pemerintah. Uang tabungan dan tunjangan yang ia dapat dari bekerja sebagai teknisi di sebuah pusat perbelanjaan, habis sudah. ”Tapi semangat hidup saya, masih ada,” tandas pria yang kini tak lagi bekerja itu.

Tarna memang 'beruntung'. Negara mau sedikit menanggung segala penderitaanya. Lalu bagaimana yang lain? Tidak sedikit juga yang harus mati karena tak ada biaya dan pemerintah pun melenggang begitu saja. What I'm trying to say is, pemerintah memang tidak punya dana memadai untuk mengobati segala penyakit. Tapi prinsip sedia payung sebelum hujan seharusnya bisa menjadi motto andalan.

Lakukan sosialisasi tentang bagaimana menjaga kesehatan. Turunkan para ahli secara rutin untuk memberi penyuluhan. Saya rasa, dananya akan jauh lebih murah. Hmm.. mungkin terdengar soal saya ngegampangin. Tapi mo gimana lagi, saya cuma pengen ga ada yang sakit aneh-aneh lagi. Cukup flu, sakit kepala dan sakit gigi saja.

No comments: