Tuesday, August 31, 2010

Cepat Besar Yah Nak...

Banyak yang bertanya, bagaimana rasanya punya anak? Tentu saya jawab, saya bahagia. Namun tentu juga, tidak selamanya saya merasa bahagia. Pasti ada saja rasa bosan dan jenuh. Terlebih karena saya mengurus segala keperluan rumah tangga sendiri. Yah.. Ada yang bantu juga sih, cuci seterika dan sedikit bebenah. Setelah itu, saya kembali mengurus semuanya sendiri.

Pagi-pagi benar saya sudah belanja dan memasak. Setelah itu memandikan dan menemaninya sampai sore lalu memandikanya lagi dan menemaninya sampai dia benar-benar terlelap. Begitu terus setiap hari.

Memang benar tidak semua hal berjalan seperti yang kita harapkan. Saya tidak pernah berharap anak saya rewel setiap hari. Padahal kalau dia sedang ceria, waduh.. Itu obat paling ampuh mengatasi kejenuhan saya. Tapi kenyataannya, dia sering sekali rewel dan membuat saya pusing tujuh keliling.

Kadang kondisi diperparah dengan suami yang saya rasa kurang membantu. Dia sering pulang malam, padahal berangkatnya pagi sekali. Sampai dirumahpun, kadang dia malah sibuk sendiri. Inginnya gantian gitu, sekali-kali dia yang memandikan, mengganti celana basah (eh, kalau yang ini kadang-kadang suka dibantu juga) dan menidurkan. Inginnya lagi, udah begitu sampai dirumah fokus ke si orok saja. Karena menurut saya, walaupun dia cape kerja, tapi dia masih bisa keluar dari rumah. Masih tertawa dengan teman-temannya. Sementara saya, 24 jam tujuh hari seminggu berkutat dengan itu-itu saja.

Kalau saya mengeluh begini, biasanya suami saya langsung membalikan kata-kata. "Yaudah, ayo kita tukeran. Kamu cari berita sana panas-panasan, aku urus rumah," Huh.. Benar-benar tidak menyelesaikan masalah.

Memang saya masih punya orang tua, yang harusnya, menengok pengalaman teman-teman saya, bisa ikut membantu. Minimal 3 bulan saja. Tapi entah kenapa, rasanya ibu saya kurang antusias untuk membantu saya. Padahal ini cucu pertama loh.

Mungkin karena saat ini, ia juga sibuk mengurus sepupu saya masih balita tapi sudah ditinggal ibunya sejak lahir. Yah.. Saya harus maklumi itu.

Jujur, sempat juga ada perasaan 'terjebak' dengan kondisi seperti ini. Bayangkan.. Saya tidak pernah bisa kemana-mana. There's no 'me-time' anymore. Memang kadang ibu saya berbaik hati mau menjaga ketika saya ingin pergi. Tapiii.. Pas saya pergi, kepikiraaan mulu bocah satu ini. Akhirnya jadi buru-buru pulang deh.

Hehe.. Tapi saya coba menikmati kok. Toh kalau nanti dia sudah besar, saya akan merindukan masa-masa ini. Jadi, cepat besar yah nak..

Tentang Kita

Setiap pulang kerumah, ibu selalu pembicarakab topik yang sama dengan saya; yaitu soal tindak tanduk bapak saya yang selalu bikin dia kesel. Sebut saja soal bapak saya yang akhir-akhir ini sedang kerajingan fesbuk dan internetan. Dia bisa duduk berjam-jam di depan komputer, hingga membuat ibu saya naik pitam. "Bayangin ajah teh, ibu pak-pik-puk bebenah sendirian dia asik ajah internetan," begitu keluh ibu saya.

Itu cuma satu, masih banyak kebiasaan-kebiasaan bapak saya lainnya yang membuat ibu emosi jiwa. Kadang saking semangatnya cerita, saya suka terintimidasi dan menjadi ikut-ikutan sebal dengan bapak saya. Tapi setelah itu, yasudah.. Bagaimanapiun juga dia bapak saya.

Tanpa disadari, ternyata hal itu terjadi juga di kehidupan saya bersama suami. Banyak hal-hal, yang menurut saya 'enggak banget sih nih orang.' Kebiasaan-kebiasaan yang ketika pacaran dulu tidak pernah saya ketahui, namun kini terlihat jelas dan dia tidak merasa canggung menunjukannya.

Kadang saya merasa dibohongi. Dulu, yah ketika pacaran dulu, dia selalu memberikan service terbaik kepada saya. Kadang walaupun saya berbuat salah, selalu akhirnya dia yang minta maaf dan habis lah perkara. Kalau sekarang? Huh.. Boro-boro..

Pernah saking stressnya, saya berpikir menikah adalah hal terbodoh yang pernah saya lakukan. Lalu saya pulang dan ibu kembali mencerikan kisah yang sama berulang. Biasanya setelah itu saya akan tersenyum, mengenang rasa kesal kepada suami. Hehe.. Ada hikmahnya juga saya pulang.

Kini, 29 tahun sudah mereka bersama. Sementara saya, dua tahun saja belum genap. Toh yang namanya masalah, perbedaan tidak pernah ada ujungnya. Mau setahun, sedasarwasa tetap saja ada. Tidak mengenal waktu dan usia. Hehe.. Kok saya jadi waise gini yah? Mudah-mudahan pas berantem nanti, ingat tulisan ini. Jadi kadar keselnya bisa diturunkan menjadi sebuah pemakluman.

Yah.. Begitu lah. Hmm.. Deg-degan, nanti kita mau berantem soal apa lagi yah? Haha..

Monday, June 28, 2010

Ayo... anak pintar

Ayo... anak pintar, jangan lama-lama yah di dalam sana. Ga enak deh lama-lama di perut ibu. Sumpek, gelap, sempit, ga bisa gerak sana-sini. Di luar sini, kamu bisa lihat macem-macem. Bisa jalan-jalan sama Ibu dan Bapak. Bisa lihat hujan, denger burung-burung kecil yang rame banget kalau pagi di rumah kita.

Eh, kita juga punya baju baru loh buat kamu. Hmm.. baru bisa beli di tanah abang sih, tapi nanti kalo ibu dapet THR, kita ke Mothercare yah sayang... gampang deh pokoknya....

Oiyah, ibu sama bapak juga sudah punya tempat tidur loh buat kamu. Ga baru sih, tapi masih enak kok. Masih bagus juga. Makanya, kamu cepet keluar yah.. nanti kita seneng-seneng bertiga sama bapak.

Kalo kamu ga keluar-keluar, Kasian kan ibunya. Jadi susah jalan, ga pernah tidur nyenyak. Tapi ibu tetep seneng kok, ga ngeluh. Asal kamu cepet keluar yah..

Nah.. kalau kamu udah mau keluar, jangan susah-susah yah. Kamu pasti kasian sama ibu, kalau harus nahan sakit berjam-jam. Kita baca bismillah bareng, trus kamu keluar deh ga lama-lama.

Insya Allah kamu jadi anak sholeh yah. Jadi anak yang berbakti sama orang tua, anak yang pintar dan berakhlak mulia, anak sehat, mandiri, kuat dan baik hati. Tiru semua yang terbaik dari ibu dan bapakmu yah nak, tapi jangan diikutin yang jelek-jelek.

Insya Allah, kamu juga jadi anak yang bisa diandalkan. Tempat Bapak dan ibu menggantukan harapan. Dan semoga Allah juga memberi kamu lidah yang fasih guna membaca Al-quran dan Hadist, serta mendapat berkahnya Nabi Muhammad SAW.

Amin... Ya Robal Alamin....

Monday, March 29, 2010

Penilaian

Hari ini ada penilaian di kantor saya. Satu persatu anggota tiap divisi dipanggil menghadap Producer Eksekutif bersama dengan Manager. Kita dipanggil untuk dievaluasi dan menanggapi penilaian yang diberikan oleh sang Prodek. Saya dipanggil paling dulu, karena saya yang selalu datang paling pagi dan kerjanya hanya duduk di depan komputer tanpa melakukan pekerjaan yang berarti. Maklum saja, saya sedang hamil. Jadi untuk sementara ‘diistirahatkan’ dulu.

Dengan perasaan deg-degan atau entah itu grogi karena akan berbincangan dengan Manager yang menurut saya saat ini paling tampan dibanding karyawan lainnya (hehe..), saya pun masuk ruang itu. Tapi sebenarnya deg-degan juga sih, bagaimanapun juga saya akan dinilai.

Dan dimulailah penilaian itu. Sang Manager sumbang suara pertama. Dia bilang saya punya potensi. Sebuah permulaan yang cukup membuat merah pipi. Apalagi, hal tersebut juga diamini anak buahnya sendiri, Produser Eksekutif saya. Tapi saya agak terganggu dengan kalimat-kalimat berikutnya. Ia mempertanyakan kinerja saya setelah nanti resmi menjadi seorang ibu. Dia bilang, kecenderungan seorang perempuan setelah menikah adalah sulit untuk berprestasi dan bersaing dengan pekerja lainnya. Atau dengan kata lain, menurun dari sisi kinerja.

Saya agak malas menanggapi pernyataanya karena pertama, itu sama sekali tidak relevan dengan konteks pembicaraan kita yang harusnya mengevaluasi kinerja saya selama satu tahun kebelakang, Kedua, kenapa sih kinerja perempuan yang menurun karena hal-hal yang sudah menjadi kodratnya seperti hamil dan mengurus anak harus dipermasalahkan? Padahal menurut saya, asal mereka paham bagaimana menempatkan pekerja-pekerja yang dalam kondisi tersebut pasti tidak ada istilah kinerja menurun.

Ketiga, coba bayangkan jika perempuan-perempuan itu adalah istri, adik atau kakak mereka sendiri yang harus bekerja untuk menyokong keluarga. Saya memang tidak di posisi itu karena beruntung bisa bekerja, karena memang saya ingin bekerja bukan terpaksa, tapi kalau mau head to head dengan tugas para laki-laki, pasti jauh lebih berat tugas dan tanggung jawab perempuan. Tapi intinya adalah, berhenti lah mempermasalahkan hal-hal yang sifatnya kodrati. Apa mau komplain juga karena terlahir sebagai laki-laki?

Ngomong-ngomong, nilai saya B tahun ini. Padahal tahun lalu A+ atau baik sekali. Ya sudah lah, toh kabarnya 2010 ini tidak ada kenaikan gaji. Jadi tidak ada pengaruhnya sama sekali berapa pun nilai saya.

Thursday, February 4, 2010

Fatty ...

Mengutip tweet GM : “Sayang, Presiden gampang tersinggung. Tapi syukur kita boleh seenaknya menyinggung dia dan mengecam bhw dia gampang tersinggung”

Hehe.. lucu yah. Bener juga. Presiden kok kerjaanya curhat mulu, ngeluh mulu. Dan kebencian saya terhadap sosok orang satu negeri ini, semakin menjadi-jadi. Memang sih, Indonesia itu kompleks banget. But you just like a looser if you keep complaining all the time. Come on… U’re President. Use you power to make everything better. And there will no any excuse for your complaining because this is your second chance. Wake up, fatty…

Huhu.. semoga kebencian ini tidak membawa dampak buruk buat my baby. Huhu..



Hmm.. Btw, syukur deh GM masih kritis. Padahal dia tim sukses si susi juga bukan?
Hmm…

Hmm...

Hari ini, my baby genap empat bulan. Ada yang bilang, saat ini adalah saat dimana Dia meniupkan roh dan hidup lah si jabang bayi. Tapi satu bulan lalu, dokter saya bilang janin saya sudah berdetak menggambarkan bahwa ia punya jantung dan hidup. Bagi saya, terserah saja apapun kondisinya. Yang penting dia sehat, saya sehat dan kami (saya dan suami) semakin tidak sabar mendengar langsung tangisnya kelak.

Hmmm.. baik-baik selalu yah kamu disana.

Monday, January 25, 2010

curhat dikit

Sejak beberapa bulan belakangan ini saya sedang mencoba untuk mencerna berbagai dinamika yang terjadi di kantor pasca kehamilan saya. Semuanya memang menjadi berubah. Saya tentu tidak bisa lagi menjadi saya yang dulu. Yang harus mengerjakan segala sesuatunya sendiri, nyaris tanpa bantuan. Mulai dari Pra produksi, eksekusi sampai Post pro harus saya hadapi.

Sekarang, kantor tidak membebankan pekerjaan seberat dulu lagi. Malah menurut saya, nyaris tanpa aktivitas yang berarti. Terkadang saya merasa, ini seperti hukuman. Karena berkali-kali, entah itu Produser maupun Eksekutif Produser seperti menyayangkan kehamilan saya. Sebab menurut mereka, program yang saya megang saat itu meskipun baru namun sudah menunjukan penerimaan yang relatif bagus dari penonton jika melihat rating dan share yang memang merupakan indikator dari respon masyarakat terhadap sebuah program.

Namun semenjak posisi saya (sebagai host) digantikan, kejayaan program itu seolah turun begitu saja. Bos-bos diatas dengan begitu yakin menganggap hal ini terjadi karena posisi saya digantikan oleh orang lain. Padahal pengganti saya, sudah jauh lebih senior dan berpengalaman sebagai host. Tapi masalahnya, dia pria! Dan itu yang dipercaya para bos sebagai penyebab kejatuhan program kami..

Entah apa karena saya yang sedang sensitif atau bagaimana, tapi saya merasa ‘ketidaksukaan’ mereka dengan kehamilan saya memang benar adanya. Hal ini terbukti ketika salah satu pimpinan mengatakannya langsung ditengah-tengah Rapat Kerja divisi dan di dengar langsung oleh puluhan orang yang mengikuti raker tersebut.

Memang ada sedikit rasa bangga ketika Ia mengatakan, bahwa program kami itu berjalan dengan baik ketika saya masih dapat bertugas dan tidak lagi saat orang lain yang mengerjakan. Tapi kenapa masalah kehamilan ini harus diungkapkan berkali-kali sih.. Diumumkan pula.

Kegundahan saya sedikit terobati kala hipotesa para bos-bos tadi dipatahkan oleh atasan mereka sendiri. ”Intinya Kreatifitas!!! Bukan semata-mata faktor Host,” begitu kata mereka.

Huh… saya tidak tahu harus berkata apa saat ini. Rasanya, tidak mau berpikir yang buruk-buruk karena takut berdampak buruk juga ke janin saya.” Tapi saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa, ”saya masih kuat kok untuk bekerja seperti biasa. Tentu dengan intensitasi yang sedikit berkurang. Misalnya seperti membantu program lain untuk meliput di Jakarta saja. Tapi permintaan itu tidak diluluskan, padahal yang minat dengan tenaga saya cukup banyak mengingat minimnya SDM disini.

Tapi ya sudah lah, sekarang saya coba untuk nikmati saja. Toh tidak ada ruginya juga. Saya tetap digaji seperti biasa (minus tunjangan liputan tentunya) dan saya bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya agak susah saya lakukan dengan ritme kerja yang gila-gilaan. Hanya saja masalahnya sekarang adalah, MALAS..!!! Hal ini yang benar-benar harus saya cari jalan keluarnya. Huh...