Kasian banget deh para pekerja 'kelas bawah' dikantor saya. Diperlakukan sangat diskriminatif, kejam dan tidak berperikemanusian. Golongan para driver salah satunya. Dalam perjalanan menuju sumber liputan, salah seorang dari mereka yang membawa saya cerita kalau empat rekan mereka tidak dilanjutkan kontraknya, tanpa pemberitahuan dulu sebelumnya. Jadi pagi hari masih bekerja, sore hari dipanggil dan duenggg... Langsung dikasih tau kalau u're not part of us anymore.
Padahal orang-orang tersebut rata-rata sudah bekerja 4-6 tahun. Tapi yah begitu, statusnya kontrak terus. Hmm.. Ga habis pikir, kok bisa yah sekejam itu. Mereka semua punya tangungan dan tragisnya lagi, istri-istri mereka tidak ada yang bekerja.
Padahal lagi, dalam hal pembagian gaji dan kenaikan bonus mereka juga diperlakukan tidak adil. Berdasarkan cerita driver saya tadi, semua penghuni carpool yang berprofesi sebagai supir mendapat nilai C. Sekedar tambahan, diperusahaan tempat saya bekerja menggunakan mekanisme penilaian untuk memberi besaran bonus dan kenaikan gaji. Nilai A berarti dapat 12% dari gaji+plus tunjangan untuk bonus dan 12% dari gaji pokok untuk kenaikan gaji. Sementara nilai B itu 10% dan C: 75%.
Saya juga baru tahu, hampir 75% persen diantara mereka bekerja dengan sistem kontrak. Bahkan yang sudah bertahun-tahun tak kunjung diangkat sebagai karyawan.
Saya memang tidak se-sial mereka. Tapi saya tahu, sampai berapa lama mereka, dalam hal ini perusahan, akan mempekerjakan saya. Posisi manager keatas, yang biasanya diduduki para tetua, dimana mereka bekerja tinggal nyuruh saja, tidak banyak. Jika kita tidak bisa mencapai posisi tersebut, maka siap-siap saja dibuat tidak betah, agar kita tahu diri dan akhirnya mengundurkan diri. Sebab perusahan tentu tidak mau rugi. Jika harus memecat para pekerja diusia yang tidak produktif lagi, maka perusahaan harus menanggung pesangon.
Saya pernah lihat sendiri contohnya. Seorang produser yang sudah tua, dituduh menerima amplop dari narasumber. Meski ia mati-matian membantah, kantor tidak perduli. Dia tidak mendapat tugas apa-apa alias digrounded-kan. Siapa coba yang mau diperlakukan seperti itu. Akhirnya produser tua itu tahu diri dan mengundurkan diri. Huhu... kejamnya dunia!
Seorang teman pernah berkata kepada saya. Bahwa jika sampai umur 40 tahun kamu belum kaya, maka jangan pernah berharap kamu akan kaya. Sebab logikanya memang seperti itu, setelah umur 40 tahun, kita tidak lagi termasuk usia produktif. Perusahaan tahu itu. Mereka tidak mau mempekerjakan orang-orang tua yang lama bekerja.
Jadi semua… (termasuk saya), ayooo kita mulai berwirausaha. Menjadi pengusaha yang adil, bermartabat dan bijaksana
No comments:
Post a Comment