Wednesday, February 13, 2013

Loker

Beberapa hari lalu saya sempat marah-marah sama bagian kesekretariatan Divisi News. Hal sepele sih, masalah Loker. Tapi menurut saya konyol dan ga penting banget. Jadi gini ceritanya, atas nama penataan pemilik loker kantor yang menurut mereka sekarang banyak yang tak bertuan, maka akan dilakukanlah pemutihan. Yaitu semua loker akan diganti kuncinya, lalu dibagikan ulang. Kalau nanti kurang, maka akan dibuatkan loker-loker baru.

Maka ditempel lah pengumuman, bahwa ditanggal sekian semua loker akan dibobol untuk diganti kunci baru. Jadi diharapkan yang sekarang memiliki loker untuk segera mengeluarkan barang-barangnya.

Well, dari baca pengumuman ini ajah udah bikin saya emosi. Harusnya di data dong yang sudah punya loker siapa, dengan minta mereka melapor. Nah kalau dalam jangka waktu sekian tidak ada yang melapor, baru dibongkar. Karena apa jaminannya kita nanti akan dapat loker lagi?.

Untuk itu saya langsung menyampaikan hal ini ke supervisor bagian kesekretarian News. Begitu dengar penjelasannya, saya langsung tambah emosi. “Iyah mbak, sesuai keputusan direksi loker akan diputihkan. Lalu nanti dibagikan lagi. Tapi diprioritaskan Presenter, Produser lalu kebawah.” Tuh emosi kan. Bener-bener ga ada jaminan saya bakal dapat loker lagi.

Karena komplain saya tidak ditanggapi dan sebagai bentuk penolakan saya terhadap keputusan Direksi (yaela ga mutu banget direksi ngurusin loker), saya tidak mengeluarkan barang-barang di loker. Bahkan saya menambahkan selembar kertas bertuliskan nama saya disitu dan nomer telp.

Dannn.. Senin lalu ketika saya ingin menyimpan Hard Disc, loker saya sudah tidak bisa dibuka lagi. Pak satpam yang duduk tak jauh dari lorong loker kasih tahu kalau Jumat kemarin semua kunci loker sudah diganti.

Maka emosi saya memuncak. Saya samperin kubikal kesekretariatan News untuk (lagi-lagi) meminta penjelasan. Mbak-mbak sekret yang meski berjilbab, tapi mukanya jutek kembali menjelaskan penjelasan yang sudah saya dengar sebelumnya. “Iyah mbak, kan sudah dikasih tahu. Kunci loker diputihkan. Nanti dibagi ulang, tapi kita prioritaskan Presenter, Produser, bla..bla..bla…,”

Kombinasi kekesalan dan muka jutek si mbak sekret, sukses bikin saya ngomel-ngomel tanpa titik tanpa jeda. “Eh mbak, lo pikir cuma presenter, produser… yg paling banyak kerjaan disini. Ini lo liat gw bawa hard disc segede gaban mau ditaro dimana?” celoteh saya penuh amarah.

“Iyah mbak, tapi itu udah keputusan direksi,” jawab dia dengan muka yang tambah jutek.

“Eh, mana bos lo.. gw ngomong sini. Ngaku kerja di media, tapi masih ajah diskriminatif,” lanjut saya sambil berlalu karena saya tahu dimana ruang bosnya si embak. Embak itupun mengikuti saya dari belakang.

Sesampai diruangan si bos yang tadinya saya sudah mau cuap-cuap lagi, ehhh… jadi mencair karena si bos ini baiiikkk… sekali menjelaskan duduk perkaranya. Beda banget deh sama anak buah. Dia menjelaskan dengan senyum dan saya balas menjelaskan dengan wajah yang masih menahan kesal. “Iyah dong bang, gw kan harus nyimpan barang-barang tim kaya hard disc gini. Masa mau gw bawa-bawa,”

Mendengar ocehan saya, si bos langsung memerintahkan para anak buah untuk memberi saya kunci baru. Dan muka yang ga ikhlas karena saya akhirnya bisa mendapatkan loker, si embak sekret pun memberikan kunci dan mengantarkan saya ke gudang tempat barang-barang lama disimpan.

Well, what I'm trying to say base on tulisan ini: Udah deh, masa ga ada hal lain yang bisa diurusin. Bukannya merasa first class, tapi sebagai supporting (namanya juga supporting boookk..) orang-orang ini harusnya mempermudah kerja kita sebagai user. Dan FYI yah, kejadian model-model kaya gini bukan pertama kali terjadi. Sudah sering banget. Tapi yah mau bagaimana lagi, konsekuensi kerja di perusahaan besar. Huhu..

Udah ah, segitu dulu nyampahnya. *yawn..

Friday, February 1, 2013

Sooo... Married Life!


Berapa kali dalam seminggu anda bertengkar dengan pasangan? Kalau saya, hadeuuhh... ga keitung deh berapa jumlahnya. Hehe... At the first time, I thought there’s something wrong with my married life until I hangout with my girls.

Yups, beberapa teman yang saya lihat bahagia-bahagia saja, ternyata kehidupan pernikahannya tak jauh berbeda dengan saya. Awalnya, saya (dan juga mungkin mereka) agak tabu membicarakan tentang berbagai persoalan yang dihadapi bersama pasangan. Well, it’s too personal. You shouldn't share to anyone include your girls.



Entah siapa yang memulai, sampai akhirnya satu persatu kami mulai ‘mempergunjingkan’ pasangan kami. Hehe... and Its feel soooo, legaaaa. Bahkan yang awalnya kami saling meratapi kesialan kami karena punya pasangan yang juga tak kunjung mengerti, berakhir dengan tawa panjang karena merasa ‘ihh.. konyol juga yah. Masa gara-gara itu jadi sebel sama suami.’

Well, saya sih sebenarnya yang tertawa panjang. Abis masalah yang teman-teman saya hadapi ini lucu-lucu banget. (Huhu.. maafkan yah temanku, kalau aku tertawa diatas penderitaan mu, hehe...).

Ada seorang teman yang mati-matian menuntut persamaan hak dan kewajiban dalam berumah tangga, so called: Equal Partner. Dia bilang : “Enak ajah semua urusan rumah gw yang handle, gw kan juga kerja. Coba kalau gw ga kerja, emang dia sanggup ngelunasin cicilan macem-macem sendirian. Jadi dia juga harus ikut pusing dong kalo anak lagi susah makan, atau besok mau masak apa. Dia juga harus ngertiin gw dong, jangan kaya bocah mulu yang semua karakter dia harus dingertiin,” Nah, jadi masalah yang dihadapi dia sama suaminya yah.. ga jauh-jauh dari masalah kesetaraan hak dan kewajiban ini. Hehe..

Tapi ada juga yang justru sebaliknya: “Ah.. apaan tuh Equal Partner. Gw mau suami gw itu di depan, jadi pemimpin. Jangan apa-apa gw, semua hal gw. Masa mau ambil keputusan dirumah, mesti gw juga...” jelas teman saya, berapi-api.

Ada juga teman yang menemui kenyataan pahit kalau suaminya berhubungan diam-diam dengan mantan pacarnya. Si suami sih ngeles, bilangnya ga ada maksud apa-apa hanya sekedar ngobrol saja. “Hellooo... obrolan apa coba yang lo lakuin sama mantan lo? Mengenang masa lalu? Hueekk... Gw mah, walau kata punya banyak kesempatan berhubungan sama mantan karena satu kampus, satu tipe kerjaan dan satu tongkrongan, tetep ajah gw ogah kontak-kontakan. Dan gw bingung deh, tuh cewek kan juga udah punya laki. Kalau dia bete sama lakinya, jangan cari pelarian ke laki orang dong,” cerita teman saya dengan semangat empat lima. Hehe..

Ternyata yang dialami teman saya tadi juga terjadi pada teman saya yang lain. Berawal dari ketidaksengajaan menggunakan google search untuk riset tugas kantor, teman saya ini menemukan kalau ada suaminya pernah ‘stalking’ cewek yang dulu dia taksir berat. “Bener-bener deh cowok tuh sejago-jagonya ngumpetin, tetep ajah brengseknya ketauan. Apa emang udah karakter cowok yah yang sulit banget menjaga komitmen bersama,” seloroh teman saya tadi.

Untuk dua kasus diatas, saya ga berani cengengesan deh. Kondisinya memang bikin sebel tuh.

Ada juga teman yang tengah berjuang untuk memperbaiki kualitas hidup mereka dengan punya rumah. Alhasil, politik uang ketatpun diterapkan. Sampai suatu hari sang suami mendapat fasilitas gadget baru dari kantor dan langsung diminta sama si istri karena gadget yang dia miliki sudah kuno berat. “Tapi you know apa yang terjadi, gw ga dikasih make tuh henpon dengan alasan takut ketauan kantor. Nyebelin banget ga sih tuh orang. Gw udah mati-matian nahan diri buat ga boros demi bantu dia beli rumah, eh..gw minta tuh henpon ajah ga dikasih. Padahal kalau gw mau, bisa ajah gw beli gadget yang gw incer dari lama. Tapi demi bantu dia, gw rela. Padahal beli rumah kan bukan urusan gw,” terang teman saya ini sambil mengunyah Beef mushroom burgernya Burger King.

Well, mendengar cerita-cerita teman-teman saya ini ada perasaan lucu sekaligus sedihnya juga sih. Lucu karena, ada-ada ajah yah masalah mereka. Sedih karena cape banget kayanya harus tiap hari menghadapi konflik dengan pasangan. Padahal urusan lain kan ga kalah menguras otak dan tenaga. Urusan kantor, anak-anak, rumah dan lain-lain.



Kadang sih persoalan muncul karena kita sedang jenuh. Bukan karena jenuh sama kehidupan pernikahan, believe it or not, I never bored with my married life. Tapi jenuh sama kerjaan, jenuh sama mimpi kita yang tak kunjung nyata, jenuh sama pasangan (*loh, hehe...) yang mau ga mau suka ikut memperkeruh suasana. "Gw pikir masalah-masalah rumah tangga kaya gini cuma ada disinetron, tapi kok ternyata gw juga ngalamin yah..," kata teman saya, suatu hari.

Memang sih, konon kabaranya 5 tahun pertama pernikahan itu adalah masa yang paling berat. Dan katanya lagi, semua itu bisa dilalui dengan komunikasi, komitmen dan kesadaran diri yang tinggi. Beuuhhh.. teori sih gampang, prakteknya...? huhu..

Monday, January 28, 2013

Anyone, can help?

Kurang dari dua bulan dari berakhirnya masa cuti lahiran, saya memutuskan untuk kembali ke kantor. Yups, masih ada dua bulan lagi loh, tapi saya memilih untuk kembali kerja. Tentu, banyak yang menentang dan menganggap saya tidak sayang anak, egois dan sebagainya. Banyak yang bilang, saya tidak bersyukur atas kesempatan meninggalkan rutinitas kerja yang kata mereka membosankan. Yah, terserah sih orang mau bilang apa. Tapi saya punya pertimbangan sendiri mengapa harus cepat-cepat kembali kerja.

To be honest, ini bukan soal mengejar karir kok. Ini soal kenyataan bahwa dengan tidak bekerja, yang terjadi adalah pengeluaran menjadi lebih besar dari pendapatan. Karena biasa punya aktivitas, stay dirumah membuat saya jenuh dan sedikit mengalami postnatal depression. Bawaannya sebel mulu. Ujung-ujung pengen ngemol. Nah kalo ngemol, tapi ga jajan kan ga enak yah? Hehe.. Belum lagi dengan kondisi tambah anak, tapi pendapatan tidak bertambah-tambah, tentu besar pasak dari pada tiangnya akan semakin melebar.

So, begitu nemu orang yang bisa bantu Bibik di rumah akhirnya saya memutuskan untuk kembali kerja lebih awal. Dengan bekerja saya dapat uang lebih (sedikit), bisa ngobrol, ngegosip dan seru-seruan bareng sama teman-teman dikantor, plusss... berat badan saya kembali normal sebelum melahirkan kurang dari empat bulan setelah kedatangan si kecil. Hehe... Karena saya selalu hepi, produksi ASIpun semakin aman terkendali. Bahkan saya sempat donor ASI juga loh, untuk seorang Ibu yang sedang berjuang agar anaknya tidak tersentuh Susu formula.

Tapi baru sebulan kembali kerja, rasa jenuh datang lagi. Berasa nyesel dikit, kenapa cutinya ga dinikmati saja (dasar emak-emak labil). Akhirnya biar rasa jenuh ga tambah parah, saya dan temen-temen yah sesekali ngegosipnya dipindah ke mol (haahhh sama ajah dong???).

Anyway, sekarang saya lagi mikir-mikir sih apa yang salah. Kok sekarang-sekarang ini jadi gampang banget jenuh. Padahal anak-anak sehat dan tambah lucu. Saya ga kurang apapun, walaupun juga ga berlebih. Everything is on the right track, I guess. But somehow, I realize I need something new. Sesuatu yang bikin adrenalin saya terpacu. Sesuatu yang menantang dan membawa suasana baru. Dan ketika saya menulis tulisan ini, oh well saya tersadar sepertinya butuh pekerjaan baru. Anyone, can help?

Monday, October 22, 2012

Welcome a Board, Baby Einar!




Einar Albarr Radiantara. Born: Oct 11-2012. 3030gram,  47cm


Akhirnya yang ditunggu-tunggu selama hampir sembilan bulan, datang juga. Anak kedua saya, adiknya Daniswara. Saya dan Gentur sepakat untuk menamainya: Einar Albarr Radiantara. Artinya apa? Hmm.. saya lupa. Hehe.. Yang jelas, Einar itu nama Skandinavia. Sedangkan Albarr diambil dari Asmaul Husna yang artinya Maha Pembuat Kebajikan (nama pasaran, tapi saya sukaaa..) dan yang terakhit itu nama Jawa. Nama yang menurut saya dan Gentur lebih netral dibandingkan nama yang kami beri kepada kakaknya dulu. Jadi dijamin, Einar ga bakal kesulitan kalau nanti mau berkunjung ke Israel. *alah..

Awalnya, si Gentur ngoyo pengen ada unsur klub sepak bola favoritnya, Liverpool. Tapi saya tolak. Alasannya, sekarang saja tuh klub sudah kalah melulu. Jangan-jangan nanti kalau Einar besar, sudah tinggal nama. Hehe...
Anyway, seperti kakaknya, kelahiran Einar juga terbilang cepat dan mudah (kalau kata orang-orang sih). Tapi buat saya, tetap saja hororrrr... Apalagi saat frekuensi kontraksi meningkat, rasanya seperti sakaratul maut (yaealah kaya pernah ajah. Hehe..). Saat itu, saya seperti orang gila yang teriak-teriak tobat dan minta ampun sama yang Maha Kuasa. Ihh.. lebay banget yah?

Saya tiba di rumah sakit pukul setengah empat subuh dan Einar lahir pukul 06.43 pagi setelah sebelumnya saya mulai merasakan mules sejak pukul 02.00 dini hari. Kata bidan yang menangani persalinan saya, proses kelahirannya lancar dan nyaris tanpa ada robekan. Lucunya, saya tetep dijahit karena menurut si bidan ada lacet yang tetap harus diperbaiki. Rasanya waktu dijahit, beuuhhh.. maknyus! Karena dia menjahit tanpa menyuntikan obat bius sebelumnya. 

walaupun nakal, aku sayang banget loh sama dedek Einar ;')


Meski horor, saya tak pernah berhenti bersyukur selalu bisa melewati proses melahirkan yang mudah dan cepat. Bahkan waktu Danis, saya tiba di rumah sakit pukul setengah enam sore, jam 7 sudah lahir dengan frekuensi kontraksi yang terasa lebih relax jika dibandingkan dengan Einar. Padahal waktu Danis, saya sudah merasakan mulas sejak setengah 9 pagi. Tapi relatif lebih santai dan tidak terasa terlalu sakit.

Di kehamilan dan kelahiran kedua ini saya juga semaksimal mungkin menghindari stres. Tidak mau terlalu memikirkan detil, harus ini – harus itu, tidak boleh ini – tidak boleh itu. Karena saya ga mau berujung baby blues seperti waktu melahirkan Danis dulu. 

IMD asal-asalan, biaya RS membengkak padahal lahiran dengan bidan dan cepat, bayi baru diantar setelah lebih dari 7 jam, menjahit tanpa obat bius, ASI keluar hari keempat, dsb ga bikin saya stres. Yang penting Einar sehat!


Alhamdulillah sampai saya menulis tulisan ini Einar sehat dan tidak serewel Mas-nya dulu. Tidur teratur, nyusu juga. Ga melulu harus digendong dan sebagainya. Bahkan waktu kontrol ke dokter kemarin, beratnya naik hampir 300 gram! Ini termasuk langka karena pada umumnya minggu pertama bayi lahir berat badannya pasti menyusut.

Hanya sekarang yang bikin saya lumayan stres adalah tingkah si Mas Danis. Sejak adiknya lahir, dia jadi cengeng, nakal, susah untuk dikasih tahu dan cenderung membangkang. Memang sih Danis terlihat sayang sama adiknya, tapi di sisi lain nakal dan cengengnya itu bikin dia hampir setiap hari kena marah saya dan Gentur.

Saya dan Gentur sebenarnya paham betul bahwa ini merupakan cara Danis untuk cari perhatian. Kita juga sedih dan menyesal setengah mati kalau habis memarahi dia. Rasanya konyol juga, anak sekecil itu yang tidak tahu apa-apa harus kena marah kita.

Yah semoga saja ini tidak lama. Kasian si bibik juga yang harus kerja ekstra menghadapi kenakalan Danis. Belum lagi pekerjaannya sekarang yang tambah banyak. Hmm.. semoga saja yah!

Friday, September 21, 2012

Daniiss.. Udah Dong Nontonnya!

Sudah hampir 3 minggu ini Daniswara (26M) keranjingan nonton DVD Thomas and Friends. Bangun tidur, mau tidur, lagi makan, DVD tututttnya (sebutan Danis untuk kereta api) harus dalam keadaan menyala. Awalnya sih saya senang dengan kebiasaan baru Danis ini.

Ini anak jadi jarang main diluar.  Bahkan pernah dalam sehari, ga ngelayap sama sekali. Dia dirumah saja main-main sendiri (atau temannya yang datang), tapi DVD si Thomas tidak boleh mati. Makan juga relatif lebih banyak dan ga ribet. Kalau dia ga mau makan, tinggal ancem tututnya dimatiin, langsung deh mulutnya mangap.


Kalau mo bobok teve harus nyala dulu (_ _')


Saya melihat, anak ini ga sedekil dulu waktu masih doyan kelayapan ga kenal waktu. Dia juga ga kegemukan seperti yang dikhawatirkan para ahli kepada anak yang kecanduan televisi (padahal saya berharap sih dia bisa lebih gemuk dikit. Hehe...). So far, ga ada perkembangannya yang mengkhawatirkan. Danis tetap semakin hari, semakin pintar.

Kadang saya mikir, mungkin karena anak ini tahu sebentar lagi mau punya adik jadi jarang rewel. Si bibik juga sekarang lebih santai. Ga ada lagi tuh cerita nyuapin sambil gendong muterin kampung tetangga. Jadi kalau adiknya sudah ada, bibik bisa tenang ga harus seharian nemenin Danis. Dan saya juga ga perlu tambah bibik lagi deh. Hehe..

Tapi tetap saja pada akhirnya saya khawatir juga dengan ini karena kebiasaan Danis ngemut tangan yang semakin parah saat nonton DVD atau televisi.. Kalau saya perhatikan, gigi depannya semakin hari semakin terlihat berantakan. Kayanya sih karena efek ngemut tangan tadi. Terlebih saya takut kebiasaan ini bisa merusak matanya, walaupun orang rumah selalu cerewet agar dia tidak terlalu dekat menonton.


Lagi tergila-gila sama teve


Anak ini juga semakin susah kalau diajak pergi. Kadang lucu juga sih, ada gituh anak bayi yang nolak diajak jalan-jalan? “Dedeee diumah ajaaahhh...” celoteh Danis kalau diajak pergi.

Belum lagi dia suka terbangun subuh-subuh buta dan langsung minta keluar kamar buat nonton tutut. Bahkan kami harus merayu mati-matian agar dia mau tidur dikamar yang walaupun lebih nyaman tetap dia tolak karena ga bisa nonton tutut.

Saya dan Gentur (yang juga atas rekomendasi bibik) sempat kepikiran buat ngumpetin tuh keping DVD. Meski dia pasti tetap minta dihidupin teve buat nonton kartun favoritnya yang lain, tapi at least kalau kartun favoritnya tidak tayang teve bisa kembali mati.

Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, it’s not that bad, isn’t? Toh sesuai dengan keinginan saya anak ini jadi ga suka kelayapan. Tidur dan makan juga lebih teratur. Perkembangan fisik & psikis sejauh ini sih baik. Jadi saya bisa lebih tenang ninggalin dia kerja.

Pada akhirnya, saya sih hanya berharap dia akan merasa bosan. Bayi juga manusia kan?

Sunday, August 26, 2012

Kangen


Kok tiba-tiba, saya kangen masa-masa muda yah? Masa muda selepas bangku kuliah. Kangen menikmati sebatang rokok ditengah jalan sepi, sambil menakar mimpi. Kangen menghabiskan malam di kantor sampai pagi, browsing apapun mencari jati diri. Kangen menikmati hiruk-pikuk jakarta, bersama teman-teman lama. Kangen diskusi-diskusi panjang bersama sahabat & orang-orang tercinta. Entah kapan yah bisa terulang lagi?

Yah.. Bisa ajah sih kalo mau diulang. Tapi pasti rasanya ga bakal sama dan tidak mungkin berlama-lama. Karena hati dan pikiran, selalu maunya cepat-cepat pulang. Kepikiran yang dirumah. Lucu memang. Waktu masih sekolah, kita pengen cepat-cepat kuliah. Sudah kuliah, ingin cepat-cepat menikah. Sudah menikah, keinget yang lama-lama.

Tapi sebenarnya di masa manapun kita berada, sama saja kok suka galau-galau juga. Hanya bedanya, dulu galau karena pacar ga punya dan sekarang galau kapan bisa renovasi rumah. Hehe..

Well that’s life. It’s just like buying one way ticket. There's no way to come back. Saya menulis ini, bukan karena saya tidak bahagia dengan hidup sekarang. Hanya ingin mengenang romansa masa muda gitu deh. Hehe..

Monday, May 21, 2012

Parenthood



Beberapa minggu lalu saya mendapat kiriman link video Youtube tentang seorang ibu muda yang menyiksa bayinya. Rasanya shock minta ampun melihat video berdurasi sekitar 4 menit itu. Ga habis pikir, kok ada seorang ibu yang tega menyakiti anaknya sendiri. Sementara binatang saja jika bayinya kita dekati, mereka akan menjadi galak sebagai bentuk tindakan protektif kepadanya anaknya.

Memang ibu tersebut, berdasarkan berita yang saya baca di internet, sudah menerima hukuman 18 bulan penjara. Tapi rasanya, saya kok ga puas yah. Ibu itu harus dihukum sampai si anak mengerti dan akhirnya mau memaafkan langsung Ibunya tadi.

Saya menangis saat menonton video itu. Walau hanya menonton sekali, tayangan Ibu yang memukul dan menendang bayinya tersebut terus saja membekas dalam ingatan. Lalu saya akan lebih sedih lagi ketika ingat saya pernah begitu jahat sama Danis, anak saya. Yah, tidak sejahat ibu dalam video asal Malaysia itu. Tapi saya ingat pernah begitu kesal pada Danis dan melayangkan cubitan saat Bibik, yang biasa membantu kami sehari-hari sedang pulang kampung lebaran tahun lalu.

Saat itu, saya harus mengurus semua keperluan rumah sendiri karena suami juga masih harus bekerja. Danis begitu rewel. Maunya digendong terus. Padahal dia sudah besar, meski belum bisa jalan.

Kejadian serupa terjadi lagi beberapa minggu lalu saat Bibik pulang kampung. Saya sedang hamil muda dan Danis lebih nakal dari yang sebelumnya, karena dia sudah bisa berlari. Entah berapa kali saya marah pada anak ini dan mencubit dia. Tapi surprise-nya, anak ini hanya nangis sebentar lalu dia sibuk main lagi. Hmm.. kebayang kan betapa nakalnya dia?

Saya sempat mengeluhkan hal ini beberapa kali kepada Ibu saya. Pada kejadian lebaran, Ibu hanya bilang agar saya banyak sabar: “Namanya juga bayi, kamu marah-marah juga ga bakal ngerti. Ngapain bikin cape sendiri,” kata Ibu.

Lalu saat saya mengeluh hal yang sama beberapa waktu lalu, kali ini jawaban Ibu sangat menohok: “Makanya, lain kali anak kasih Indomie ajah. Ga usah lah kasih makanan-makanan bergizi. Kalau makan Indomie, dia kan jadi lemes tuh. Diem, ga ada gizi untuk lari-lari.” Hehe.. rupanya Ibu sebel saya tidak juga mengerti bagaimana menghadapi anak yang memang sedang nakal-nakalnya.

Well, begitulah.. Selama ini cuma ada teori-teori parenting tapi tidak ada cara yang sahih bagaimana melatih kesabaran dalam membesarkan anak. Karena saya tahu dari Bapak saya, kalau Ibu dulu juga pernah mengeluh hal yang sama saat saya masih bayi dan sangat rewel sekali. Waktu itu jawaban Bapak saya atas keluhan ibu: “Ya udah, Ibu tutup ajah mukanya pakai bantal biar tuh anak diam,” Hehe.. Bapak saya ternyata lebih kejam yah dalam memberi saran. Tapi menurut Bapak, hal itu Ia lakukan karena sudah sering menasehati dan membesarkan hati Ibu untuk lebih sabar dalam mengurus anak.

Kalau sekarang, jujur saja saya masih suka menyubit Danis. Tapi hanya sekedar untuk memberi pelajaran bahwa ada hal-hal yang tidak semua baik Dia lakukan. Kadang trik saya ini berhasil sih, walaupun biasanya hanya dimulut anak ini saja Dia bilang mengerti sesudahnya tetap kembali seperti semula. Hehe..

Gentur sendiri, suami saya, cenderung tidak setuju dengan cara saya menghadapi Danis. Dia pasti marah kalau saya mencubit Danis di depan dia. Sementara saya juga tidak suka cara Gentur yang menggunakan intonasi tinggi atau mirip membentak ketika menegur Danis. Somehow, saya menilai cara saya jauh lebih baik. Dengan memberitahu anak ini baik-baik, lalu jika dia masih mengulang baru saya melayangkan cubitan. Hmm.. ego saya kali yah, merasa yang paling benar.

Tapi semarah apapun saya pada anak ini, Insya Allah saya tidak akan sekalap Ibu muda di video itu. Di satu sisi, saya yakini Ibu itu pasti sedang mengalami persoalan lain yang memicu Ia melakukan kekerasan pada bayinya. Ini seperti yang terjadi pada saya. Jika dalam kondisi mood yang baik, senakal apapun Danis akan saya lihat sebagai sesuatu yang lucu bahkan terkadang membanggakan. Tapi ketika mood sedang buruk, Danis melakukan kesalahan kecil saja sanggup membuat saya marah seperti orang gila. Saya rasa pak Gentur juga seperti itu ketika Dia sedang memarahi Danis.

Yah.. ini memang PR besar untuk saya dan Gentur sebagai orang tau. Bagaimanapun juga, anak adalah amanah, pengubah dunia, sesuatu yang membanggakan dan menyenangkan apapun kondisinya. Semoga kedepan, kami lebih bisa mengontrol diri dan lebih bijaksana lagi. Amin YRA