Apa definisi sombong buat kamu? Suka show off? Berlebihan dalam hal apapun?
Seorang teman suatu hari pernah menulis mengenai hal ini dalam blognya. Ia kecewa karena teman-teman dekatnya selalu membicarakan tentang pencapaian setiap kali mereka berkumpul. Secara tidak langsung, ia ingin katakan kalau teman-temannya ini sombong. Ok, berarti definisi sombong buat teman saya adalah selalu mengumbar segala keberhasilan hidup.
Buat saya berbagai berita baik, seperti dapat beasiswa atau memperoleh pekerjaan yang menarik, tidak masuk dalam definisi sombong. Karena bagi saya, itu juga sebagai salah satu doping buat saya untuk bisa berusaha lebih baik lagi. Sejujurnya, saya senang sekaligus iri jika ada teman yang berhasil mencapai tingkatan tertentu. Tapi lagi-lagi, iri disini tidak dalam konotasi negatif yah. Saya maknai sebagai suatu kebaikan yang patut ditiru.
Lalu apa definisi sombong bagi saya? Well, sombong itu menurut saya justru ada pada orang-orang yang gemar meremehkan orang lain dalam hal apapun. Meremehkan mimpi orang lain, cita-cita orang lain, pekerjaan orang lain, pendapat orang lain ataupun keputusan orang lain akan hidupnya. Kalau merasa dirinya ‘paling’ dalam hal apapun, saya masih tidak terlalu masalah. Tapi kalau sudah merendahkan, wah.. orang ini pasti rendah sekali di mata saya.
Kadang tanpa saya sadari, saya juga kerap melakukan ini, merendahkan seseorang yang saya anggap sebagai teman dekat. Padahal niat saya cuma bercanda. Tapi tetap saja, sesudahnya saya akan merasa menyesal dan berharap bisa mengulang waktu (alah…). Karena saya pernah mengalami sendiri diremehkan orang lain. Rasanya tidak enak sekali.
So guys, if you wanna someone respect to you, please do same thing first to others.
I could stay at home, but I prefer to work because I wanna teach my kids nothing in life comes easy ...
Thursday, April 26, 2012
Monday, April 9, 2012
I'm so proud of you dear Daniswara
Tak ada kenikmatan di dunia ini, selain melihat anak yang tumbuh sehat. Yah.. untuk yang satu ini, saya tak henti-hentinya bersyukur karena punya Jusuf Abiyyu Daniswara yang tumbuh sehat. Diusianya yang belum genap 2 tahun, Danis, Alhamdulillah, belum pernah kena penyakit yang aneh-aneh. Saya pun baru memberi obat ke Danis setelah umurnya hampir satu tahun. Itu juga karena bapaknya yang cerewet. Tidak percaya bahwa anak ini punya daya tahan tubuh yang lumayan baik.
Penyakit ‘terberat’nya terakhir adalah penyaki mulut dan kaki atau biasa disebut Flu Singapur. Dokter sempat memberi beberapa obat aneh yang diracik menjadi puyer. Tapi karena si Dokter sendiri mengatakan bahwa ini penyakit karena virus yang sebenarnya tidak perlu diobati dan karena Ia meresepkan puyer, maka sayapun urung memberi obat ke Danis.
Beruntung meski sedang sakit, anak ini masih mau makan dan minum susu. Memang sih badannya langsung kurus begitu sakit, tapi saya tidak pernah khawatir akan asupan gizinya.
Saya percaya daya tahan tubuh Danis bisa baik karena anak ini tidak termasuk picky eater alias mau dikasih makan apa saja. Sejak pertama kali mengenalkan solid food, saya memastikan bahwa Danis selalu mendapatkan asupan yang baik. Say no to instant food. Sama buah-buahan pun Dia tidak menolak, meski kadang susah juga sih. Mungkin karena bosan.
Bahkan sampai detik ini, si Bibik yang mengasuh Danis, masih menggunakan slow cooker untuk menyiapkan makan sehari-hari. Alat ini memang luar biasa. Kita tinggal masukin lauk, bumbu dan terakhir sayur-sayuran. Beres deh. Ga perlu ditunggu-tunggu. Kualitas rasa dan gizipun relatif tidak banyak berkurang.
Dipagi hari, biasaya saya kasih Danis tepung gasol yang dimasak dengan sayur-sayuran atau oatmeal sebagai variasi. Tujuannya agar dia tidak terlalu bergantung pada nasi. Tapi tidak jarang juga, saya hanya memberi nasi dengan abon atau telor rebus, agar tidak bosan. Terlebih saat Danis sakit.
Satu hal lain yang saya percaya ikut mendukung pertumbuhan Danis adalah ASI. Meski tidak sampai setahun dan disaat berumur 14 Bulan harus dicampur Susu Formula karena saya males memerah dan tugas di luar, tapi ASI lah yang memberi segala kebaikan kepada Danis. Ini cairan, juara banget deh pokoknya.

Dulu waktu jaman masih full ASI, saat Danis demam karena mau flu atau abis imunisasi. Saya biasanya langsung skin to skin contact sambil terus disusui. Hebatnya, kurang dari dua jam demamnya langsung turun. Kalau demam lagi, treatment yang sama akan saya lakukan. Ini cairan ajaib banget deh.
Yang saya juga tak kalah bersyukur adalah Danis yang semakin hari semakin pintar. Sejak umur 19 bulan, kami sudah bisa melakukan komunikasi dua arah dengan anak ini. misalnya ketika ditanya: “Danis sudah makan,?” dia akan menjawab: “Udaah..” “Makan dengan apa..?” kami tanya lagi, “Ikaannn…,” jawabnya. “Ikan apa..?” “Salmoonnn…”
Selain itu, anak ini sudah pandai bercerita dan mengadu. Misalnya ketika ada yang menurut dia menarik saat bermain di sore hari, maka begitu sampai rumah Dia akan bercerita apa yang Dia alami tadi.
Awalnya saya pikir itu adalah hal yang wajar, bahwa anak seumur Danis memang fasenya sudah bisa melakukan komunikasi dua arah. Sampai satu per satu tetangga mulai memuji kecerewetan anak ini. Selain itu, perlu kehati-hatian ekstra dalam mengucapkan kata-kata di depan anak ini. Salah-salah, dia akan meniru dan kita akan menyesal. Yah.. selamat datang di Golden Age..! Hehe...
Dia juga sudah pandai loh menyanyikan sejumlah lagu anak-anak seperti Balonku, Naik Kereta Api, Pada Hari Minggu, dll, meski memang masih dibantu. Berhitung sampai 10 juga sudah bisa, tapi harus nunggu moodnya baik dulu mau Dia mau berhitung. Hehe..
Kendala yang sekarang adalah lingkungan yang mendukung Danis menjadi anak yang doyan jajan. Kalau hanya sekedar naik odong-odong, saya tidak masalah. Tapi snack-snack dan coklat murah meriah ini loh yang bikin saya bingung harus gimana. Padahal dirumah sudah saya sudah menyetok beberapa makanan kesukaan dia..
Masalah lain adalah sulitnya kami berkomunikasi karena kadang saya tidak mengerti kata-kata yang dimaksud anak ini. Seperti kita, jika keinginannya tak tersampaikan maka kita akan ngambek dan marah. Demikian juga dengan Danis. Kadang, suka lucu juga sih jadinya. Hehe…
Saya memang tak selalu ada buat Danis karena harus bekerja. Saya hanya mengandalkan si Bibik, untuk menjaga Danis. Bagi saya, Bibik itu seperti orang tua kedua bagi Danis. Dia sayang sekali sama Danis dan saya sangat bersyukur akan itu. Karena saya tidak bisa selalu ada untuk Danis inilah, bagi saya anak ini sudah tumbuh dengan luar biasa meski mungkin orang lain melihat biasa saja.
Apapun itu, I'm so proud of you dear Daniswara :)
Tuesday, March 6, 2012
Paris..? Hmm...
Udah lama ga ngeblog. Mumpung lagi ngedit dan dari pada bengong, ga bawa buku apalagi DVD, maka saatnya sekarang untuk ngeblog lagi. Kali ini saya mau menulis tentang pengalaman singkat menginjakan kaki di kota sejuta pesona, Paris. Kota yang katanya menjadi impian orang-orang muda dunia untuk tinggal atau sekedar berkunjung menikmati semua keindahannya.
Waktu tahu bisa punya kesempatan untuk ke Paris, rasanya…. Hmm, ga usah diceritain lagi lah yah. Yang pasti excitednya sungguh menggila. Kesempatan yang ga pernah terbayangkan sebelumnya, kini ada di depan mata dan diberikan secara percuma. Err… ga percuma sih, disuruh kerja juga. Huhu..
Anyway, saya menjajakan kaki pertama kali di tempat ini pada awal Januari tahun ini, dalam perjalanan menuju Haiti. Yah, tujuan utama saya sebenarnya Haiti untuk meliput kondisi social politik disana pasca rentetan konflik perebutan kekuasaan dan gempa besar pada 2010 lalu.
Ini adalah perjalanan terpanjang saya. Bayangkan saja, untuk mencapai Haiti saya harus transit sebanyak 3 kali dan harus pindah bandara di Perancis untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Total, hampir dua hari dua malam untuk mencapai Haiti.
Namun justru perjalanan panjang inilah yang membuka kesempatan saya bertemu dengan Paris. Dari Jakarta, saya transit pertama kali di Singapura, kemudian ke Charles De Gaulle, Paris. Untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bandara Pointe Pitre di Guadalupe, saya harus keluar dari Charles De Gaulle dan pindah ke Bandara yang lebih kecil di kota Paris yaitu Orly.
Saya tiba di Paris pukul 6 pagi waktu setempat. Surprise ternyata rasanya biasa saja waktu tahu sudah sampai Paris. Hehe.. Mungkin karena Paris bukan tujuan utama perjalanan saya kali ini dan beban pekerjaan yang masih menggelayuti. Terlebih, saya tidak suka Paris di bulan Januari. Dinginnya sadis. Jam 8 pagi masih gelap gulita dan hujan yang tak berhenti turun.
Belum banyak aktivitas yang berarti di Charles De Gaulle pagi ini. Toko-toko juga masih tutup. Mau jalan-jalan, waktu transit kami terlalu singkat. Hanya 6 jam. Cuaca juga tidak memungkinkan. Atas kesepakatan dengan rekan kerja saya, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Bandara Orly dan menunda dulu keliling kota ini
Setelah tanya sana-sini, kami menggunkan shuttle bus yang disediakan maskapai Air France untuk mencapai Orly. Biaya, sekitar 32 Euro untuk kami berdua. Belakangan saya baru tahu, ternyata untuk penumpang transit seperti kami ini sebenernya shuttle bus disediakan cuma-cuma.
Dengan kemacetan pagi hari, perlu waktu sekitar satu jam dari Bandara Internasional Charles De Gaulle menuju Bandara Internasional Orly. Kalau di Indonesia, mungkin seperti Cengkareng dan Halim Perdana Kusuma. Bandara ini juga jauh lebih kecil dari Charles De Gaulle.

Sampai di Orly, pikiran saya langsung sibuk dengan tugas-tugas yang menunggu di Haiti. Kekhawatiran apakah segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana dan rintangan apa saja yang mungkin akan kami hadapi. Namun sesekali, kepikiran juga sih bagimana caranya bisa sempat mampir dan foto di Menara Eiffel ketika transit dalam perjalanan pulang nanti. Hehe…
Tidak mudah memang bekerja dinegeri orang. Di negeri sendiri saja, banyak halangan apalagi di negeri yang bahasanya tidak kita mengerti. Stress sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi hey, namanya juga tugas. Tentu harus dijalankan dengan sebaik mungkin.
Maka setelah hari-hari terakhir saat di Haiti, saya mulai mengatur strategi dalam kunjungan kedua di Paris. Kami berhak untuk bersenang-senang, setelah kerja keras kami. Lagipula, dalam perjalanan pulang kami nanti akan transit selama hampir 14 jam! Konyol kan kalau segitu lamanya nunggu, kita tidak sempatkan diri untuk keliling Paris. Visa sudah ditangan. Kurang apalagi?
Namun saya bingung, bagaimana teknis saat sudah di Paris nanti. Apakah naik bis karena lebih murah, atau taksi agar tidak tersesat. Namun masalah lain muncul karena kami tidak mungkin berkeliling dengan barang bawaan yang begitu banyak. Cara terbaik adalah dengan menyewa mobil. Namun siapa yang bisa kita percaya saat meninggalkan barang-barang dengan orang yang baru dikenal?
Saya mencoba menghubungi KBRI kita di Paris untuk minta petunjuk mengenai hal ini. Meski sebenarnya secara tidak langsung, saya berharap juga mereka sendiri yang menemani kami. Karena pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, biasanya KBRI itu sangat baik terhadap wartawan yang berkunjung. Namun untuk Paris, sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi.
Mereka tidak banyak membantu. Namun menyarankan saya untuk menyewa mobil milik orang Indonesia. Ya sudah lah, pikir saya. Sama saja. Yang penting orang Indonesia, bisa dipercaya. Maka ketika saya menghubungi nomer yang KBRI berikan, saya kaget begitu tahu harganya: 420 Euro hanya untuk menjemput kami di Orly, berkeliling di kawasan Etoile lalu mengantar kami ke Charles De Gaulle.
“Wah pak, mahal sekali. Budget saya Cuma 200. Itupun Dollar bukan Euro,” ujar saya kepada si bapak yang akan menyewakan mobil. Lalu si bapak membalas; “Ok, 200 Euro tapi Cuma 4 jam yah,” balas si bapak. Tanpa berpikir dua kali, saya pun langsung mengatakan tidak. Gilaaa yah, sesama orang Indonesia ajah dimahalin!!! Bener-bener sakit hati deh nemu ada orang Indonesia yang perhitungan banget sama sesama ‘saudaranya’ sendiri.
Akhirnya, di bandara Toussaint Louverture, Port-Au-Prince, dalam perjalanan pulang kami menuju Indonesia, saya menyerahkan kepada semesta apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, saya telah membulatkan tekad untuk sekedar menengok Eiffel dalam kunjungan singkat saya di Paris, apapun caranya, tapi tetap realistis dan ramah di kantong. Hehe..
Rupanya semesta mendengar curhan hati saya. Dalam penerbangan Air France dari Haiti menuju Guadalupe, saya duduk berdampingan dengan warga negara Prancis yang tinggal di Guadalupe.
Sekedar informasi, Guadalupe adalah kolonialisasi Prancis di Benua Amerika. Negeri kecil yang tropis dan didominasi oleh masyarakat berkulit hitam ini menggunakan Prancis sebagai bahasa Nasional mereka dan Euro sebagai mata uangnya.
Menurut teman seperjalanan saya itu, tidak sulit sebenarnya bagi kami untuk berkeliling di Paris apalagi mengingat kami punya waktu hampir 14 jam transit. Pria yang umurnya sekitar 35 tahun ini menunjukan kepada saya sebuah peta yang merupakan salah satu halaman dari majalah internal Air France. Bahkan ia tidak segan merobek peta tersebut dan memberikan kepada kami. “Trust me, u not gonna lost in Paris,” ucapnya meyakinkan saya.
Maka setelah menempuh perjalanan selama 10 jam di pesawat dan transit lebih dari 8 jam di Guadalupe! Iyah, 8 jam tanpa boleh keluar dari boarding room yang tidak memiliki fasilitas ruang merokok, internet, juga restoran itu, akhirnya kami tiba juga di bandara Internasional Orly, Parisss…!!! Uhuuuyyy… Senangnya bukan kepalang. Yang pertama saya lakukan adalah check-in di Foursquare. Lumayan, buat kenang-kenangan. Hehe..
Sesuai petunjuk pria baik tadi, maka saya langsung menuju bandara Charles De Gaulle untuk early check-in dan bagasi. Berbeda dengan ketika kami berangkat, dari Bandara Orly ini ternyata kami mendapat voucher gratis untuk menumpangi shuttle bus Air France menuju De Gaulle. Lumayan lah, bisa ngirit. Hehe.. Dan yang lebih membahagiakan, hari ini Paris tidak hujan walaupun cuaca diluar sana mendung.
Setelah check-in dan nyasar sana-sini, akhirnya kami berhasil menemukan bis yang akan membawa kami ke pusat kota Paris di Etoile. Sebenarnya bis ini sama dengan yang kami gunakan dari Bandara Orly tadi, yaitu LessCar yang disediakan oleh Air France untuk para penumpangnya dan masyarakat umum.
Bis ini memiliki 4 jalur, De Gaulle-Orly, Orly-De Gaulle dan sisanya menuju pusat kota. Memang harga tiketnya lebih mahal jika dibandingan naik kereta. Namun percaya lah, naik bis ini lebih praktis dan lebih murah dari Taksi.
Cuaca Paris berkisar antara 4 derajat celcius hari itu. Hujan turun dalam perjalanan kami menuju Etoile. Kata teman saya, saat Winter hujan memang selalu turun di Paris. Harga tiketnya, kalau saya tidak lupa, sekitar 24 Euro untuk pulang pergi.
Saat itu jujur saja, saya mulai kehilangan euphoria Paris. Mungkin karena cuaca yang dingin, backpack yang berat, hujan dan tubuh yang sangat lelah. Terlebih setiba di Etoile, tepat di hadapan Arc de Triomphe yang tersohor itu, rasa lelah mencapai puncaknya.
Tubuh saya mengigil. Ia menolak untuk saya bawa jalan menuju Menara Eiffel yang berjarak hanya sekitar 1 kilometer itu. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menarik teman seperjalanan saya untuk masuk ke sebuah café yang terlihat cukup berkelas. “Met, emang lo ada duit buat makan disini,” kata teman saya. Lalu saya balas, asal terima kartu kredit, pokoknya aman lah. Hehe..
Saya memang membawa Euro seadanya. Hanya 200 saja dengan perhitungan untuk transportasi dan makan ringan. Diluar perkiraan, ternyata kebutuhan meningkat. Tapi syukurlah ada kartu kredit, benar-benar teknologi yang mengerti saya. Hehe…
Setelah melahap steak rib eye dengan kentang goreng yang nikmatnya selangit (maklum, laperrrr berat dan kedinginan), akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Eiffel. Oiya, jangan tanya yah berapa biaya yang kami habiskan di café ini. Ga perduli juga sih, yang penting kenyang!

Hujan belum juga reda. Sepatu dan pakaian saya mulai basah. Tapi rasa penasaran akan kedigdayaan Eiffel Tower memaksa kaki kami terus melangkah. Ditengah pejalanan, tiba-tiba seorang yang berada di dalam mobil Peugeot memanggil kami. Ia bilang, Ia adalah pemilik konveksi ternama di Italia yang baru saja menggelar Fashion Show di Paris. Ia ingin memberikan dua jaket kulit untuk saya dan teman saya yang merupakan sisa pergelaran semalem, secara cuma-cuma…!
Tentu saja yang melonjak kegirangan mendapat tawaran tersebut. Namun tak lama berselang, pria yang berusia sekitar 50 tahun itu menambahkan: “I’m going back to Italy now by car, but I need money to buy a gas,” Yaahhh.. ga enak endingnya. Saya dan teman saya, tanpa basa-basi, langsung meninggalkan si bapak tadi. Lucu juga yah, ternyata bukan di Jakarta saja yang banyak penipuan seperti ini, sekelas Paris pun ternyata tak sepenuhnya aman.
Setelah perjalanan panjang dan godaan untuk berbalik pulang karena kelelahan, akhirnya kami tiba juga di sebrang Menara Eiffel. Reaksi saya saat itu: “Ohh.. ini toh yang namanya eipel…” Sangat gloomy, burem, tak seindah yang saya bayangkan. Wajar sih, it’s Winter… You can not expect more. Tanpa matahari, bagi saya Eiffel terlihat seperti tumpukan besi tanpa arti.
Sungai Seine juga berwarna keruh airnya. Ga beda jauh lah sama Ciliwung. Bau pesing merebak disekitaran taman di areal Champ de Mars. Ga jauh beda sama terminal Pulo Gadung. Saya tak bisa, bahkan cenderung malas melihat puncak Eiffel karena malas air hujan akan membasahi wajah saya yang sudah lusuh.
Teman saya langsung mengeluarkan kamera SLR-nya. Cepret sekali, cepret dua kali, lalu dia meminta saya berpose. Cepret sekali, cepret dua kali. “Gimana met, udah puas belum foto-fotonya? Mo kemana lagi sekarang kita?” kata teman saya yang langsung membuat saya tertawa kencang. Sepertinya kami memang satu pemikiran. Tempat ini hanya cocok untuk berfoto dan memamerkan kepada teman-teman se-Fesbuk. Selebihnya, Jakarta tetap lebih indah.
Yah, tempat manapun sebenarnya indah. Asal kita kesana untuk berlibur atau tidak sedang bekerja dan bersama orang-orang tercinta. Karena semua yang saya cinta ada di Jakarta, maka kota ini selalu indah apapun kondisinya.
Rencana menengok museum Louvre pun batal. Karena badan sudah berontak dan hari beranjak malam meski baru pukul empat sore. Siang memang pendek disaat musim dingin. Hey, it’s Winter… You can not expect more, right?
Akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke Bandara meski kami masih punya banyak waktu tersisa. Namun dalam perjalanan saya berdoa khusuk, semoga bisa kembali ke tempat ini ketika Summer yang indah bersama para belahan jiwa saya. Pure untuk liburan, bukan selingan ketika bekerja. And I know You will answer my wish, Lord. Aminnn…
Waktu tahu bisa punya kesempatan untuk ke Paris, rasanya…. Hmm, ga usah diceritain lagi lah yah. Yang pasti excitednya sungguh menggila. Kesempatan yang ga pernah terbayangkan sebelumnya, kini ada di depan mata dan diberikan secara percuma. Err… ga percuma sih, disuruh kerja juga. Huhu..
Anyway, saya menjajakan kaki pertama kali di tempat ini pada awal Januari tahun ini, dalam perjalanan menuju Haiti. Yah, tujuan utama saya sebenarnya Haiti untuk meliput kondisi social politik disana pasca rentetan konflik perebutan kekuasaan dan gempa besar pada 2010 lalu.
Ini adalah perjalanan terpanjang saya. Bayangkan saja, untuk mencapai Haiti saya harus transit sebanyak 3 kali dan harus pindah bandara di Perancis untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Total, hampir dua hari dua malam untuk mencapai Haiti.
Namun justru perjalanan panjang inilah yang membuka kesempatan saya bertemu dengan Paris. Dari Jakarta, saya transit pertama kali di Singapura, kemudian ke Charles De Gaulle, Paris. Untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bandara Pointe Pitre di Guadalupe, saya harus keluar dari Charles De Gaulle dan pindah ke Bandara yang lebih kecil di kota Paris yaitu Orly.
Saya tiba di Paris pukul 6 pagi waktu setempat. Surprise ternyata rasanya biasa saja waktu tahu sudah sampai Paris. Hehe.. Mungkin karena Paris bukan tujuan utama perjalanan saya kali ini dan beban pekerjaan yang masih menggelayuti. Terlebih, saya tidak suka Paris di bulan Januari. Dinginnya sadis. Jam 8 pagi masih gelap gulita dan hujan yang tak berhenti turun.
Belum banyak aktivitas yang berarti di Charles De Gaulle pagi ini. Toko-toko juga masih tutup. Mau jalan-jalan, waktu transit kami terlalu singkat. Hanya 6 jam. Cuaca juga tidak memungkinkan. Atas kesepakatan dengan rekan kerja saya, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Bandara Orly dan menunda dulu keliling kota ini
Setelah tanya sana-sini, kami menggunkan shuttle bus yang disediakan maskapai Air France untuk mencapai Orly. Biaya, sekitar 32 Euro untuk kami berdua. Belakangan saya baru tahu, ternyata untuk penumpang transit seperti kami ini sebenernya shuttle bus disediakan cuma-cuma.
Dengan kemacetan pagi hari, perlu waktu sekitar satu jam dari Bandara Internasional Charles De Gaulle menuju Bandara Internasional Orly. Kalau di Indonesia, mungkin seperti Cengkareng dan Halim Perdana Kusuma. Bandara ini juga jauh lebih kecil dari Charles De Gaulle.

Sampai di Orly, pikiran saya langsung sibuk dengan tugas-tugas yang menunggu di Haiti. Kekhawatiran apakah segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana dan rintangan apa saja yang mungkin akan kami hadapi. Namun sesekali, kepikiran juga sih bagimana caranya bisa sempat mampir dan foto di Menara Eiffel ketika transit dalam perjalanan pulang nanti. Hehe…
Tidak mudah memang bekerja dinegeri orang. Di negeri sendiri saja, banyak halangan apalagi di negeri yang bahasanya tidak kita mengerti. Stress sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi hey, namanya juga tugas. Tentu harus dijalankan dengan sebaik mungkin.
Maka setelah hari-hari terakhir saat di Haiti, saya mulai mengatur strategi dalam kunjungan kedua di Paris. Kami berhak untuk bersenang-senang, setelah kerja keras kami. Lagipula, dalam perjalanan pulang kami nanti akan transit selama hampir 14 jam! Konyol kan kalau segitu lamanya nunggu, kita tidak sempatkan diri untuk keliling Paris. Visa sudah ditangan. Kurang apalagi?
Namun saya bingung, bagaimana teknis saat sudah di Paris nanti. Apakah naik bis karena lebih murah, atau taksi agar tidak tersesat. Namun masalah lain muncul karena kami tidak mungkin berkeliling dengan barang bawaan yang begitu banyak. Cara terbaik adalah dengan menyewa mobil. Namun siapa yang bisa kita percaya saat meninggalkan barang-barang dengan orang yang baru dikenal?
Saya mencoba menghubungi KBRI kita di Paris untuk minta petunjuk mengenai hal ini. Meski sebenarnya secara tidak langsung, saya berharap juga mereka sendiri yang menemani kami. Karena pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, biasanya KBRI itu sangat baik terhadap wartawan yang berkunjung. Namun untuk Paris, sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi.
Mereka tidak banyak membantu. Namun menyarankan saya untuk menyewa mobil milik orang Indonesia. Ya sudah lah, pikir saya. Sama saja. Yang penting orang Indonesia, bisa dipercaya. Maka ketika saya menghubungi nomer yang KBRI berikan, saya kaget begitu tahu harganya: 420 Euro hanya untuk menjemput kami di Orly, berkeliling di kawasan Etoile lalu mengantar kami ke Charles De Gaulle.
“Wah pak, mahal sekali. Budget saya Cuma 200. Itupun Dollar bukan Euro,” ujar saya kepada si bapak yang akan menyewakan mobil. Lalu si bapak membalas; “Ok, 200 Euro tapi Cuma 4 jam yah,” balas si bapak. Tanpa berpikir dua kali, saya pun langsung mengatakan tidak. Gilaaa yah, sesama orang Indonesia ajah dimahalin!!! Bener-bener sakit hati deh nemu ada orang Indonesia yang perhitungan banget sama sesama ‘saudaranya’ sendiri.
Akhirnya, di bandara Toussaint Louverture, Port-Au-Prince, dalam perjalanan pulang kami menuju Indonesia, saya menyerahkan kepada semesta apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, saya telah membulatkan tekad untuk sekedar menengok Eiffel dalam kunjungan singkat saya di Paris, apapun caranya, tapi tetap realistis dan ramah di kantong. Hehe..
Rupanya semesta mendengar curhan hati saya. Dalam penerbangan Air France dari Haiti menuju Guadalupe, saya duduk berdampingan dengan warga negara Prancis yang tinggal di Guadalupe.
Sekedar informasi, Guadalupe adalah kolonialisasi Prancis di Benua Amerika. Negeri kecil yang tropis dan didominasi oleh masyarakat berkulit hitam ini menggunakan Prancis sebagai bahasa Nasional mereka dan Euro sebagai mata uangnya.
Menurut teman seperjalanan saya itu, tidak sulit sebenarnya bagi kami untuk berkeliling di Paris apalagi mengingat kami punya waktu hampir 14 jam transit. Pria yang umurnya sekitar 35 tahun ini menunjukan kepada saya sebuah peta yang merupakan salah satu halaman dari majalah internal Air France. Bahkan ia tidak segan merobek peta tersebut dan memberikan kepada kami. “Trust me, u not gonna lost in Paris,” ucapnya meyakinkan saya.
Maka setelah menempuh perjalanan selama 10 jam di pesawat dan transit lebih dari 8 jam di Guadalupe! Iyah, 8 jam tanpa boleh keluar dari boarding room yang tidak memiliki fasilitas ruang merokok, internet, juga restoran itu, akhirnya kami tiba juga di bandara Internasional Orly, Parisss…!!! Uhuuuyyy… Senangnya bukan kepalang. Yang pertama saya lakukan adalah check-in di Foursquare. Lumayan, buat kenang-kenangan. Hehe..
Sesuai petunjuk pria baik tadi, maka saya langsung menuju bandara Charles De Gaulle untuk early check-in dan bagasi. Berbeda dengan ketika kami berangkat, dari Bandara Orly ini ternyata kami mendapat voucher gratis untuk menumpangi shuttle bus Air France menuju De Gaulle. Lumayan lah, bisa ngirit. Hehe.. Dan yang lebih membahagiakan, hari ini Paris tidak hujan walaupun cuaca diluar sana mendung.
Setelah check-in dan nyasar sana-sini, akhirnya kami berhasil menemukan bis yang akan membawa kami ke pusat kota Paris di Etoile. Sebenarnya bis ini sama dengan yang kami gunakan dari Bandara Orly tadi, yaitu LessCar yang disediakan oleh Air France untuk para penumpangnya dan masyarakat umum.
Bis ini memiliki 4 jalur, De Gaulle-Orly, Orly-De Gaulle dan sisanya menuju pusat kota. Memang harga tiketnya lebih mahal jika dibandingan naik kereta. Namun percaya lah, naik bis ini lebih praktis dan lebih murah dari Taksi.
Cuaca Paris berkisar antara 4 derajat celcius hari itu. Hujan turun dalam perjalanan kami menuju Etoile. Kata teman saya, saat Winter hujan memang selalu turun di Paris. Harga tiketnya, kalau saya tidak lupa, sekitar 24 Euro untuk pulang pergi.
Saat itu jujur saja, saya mulai kehilangan euphoria Paris. Mungkin karena cuaca yang dingin, backpack yang berat, hujan dan tubuh yang sangat lelah. Terlebih setiba di Etoile, tepat di hadapan Arc de Triomphe yang tersohor itu, rasa lelah mencapai puncaknya.
Tubuh saya mengigil. Ia menolak untuk saya bawa jalan menuju Menara Eiffel yang berjarak hanya sekitar 1 kilometer itu. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menarik teman seperjalanan saya untuk masuk ke sebuah café yang terlihat cukup berkelas. “Met, emang lo ada duit buat makan disini,” kata teman saya. Lalu saya balas, asal terima kartu kredit, pokoknya aman lah. Hehe..
Saya memang membawa Euro seadanya. Hanya 200 saja dengan perhitungan untuk transportasi dan makan ringan. Diluar perkiraan, ternyata kebutuhan meningkat. Tapi syukurlah ada kartu kredit, benar-benar teknologi yang mengerti saya. Hehe…
Setelah melahap steak rib eye dengan kentang goreng yang nikmatnya selangit (maklum, laperrrr berat dan kedinginan), akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Eiffel. Oiya, jangan tanya yah berapa biaya yang kami habiskan di café ini. Ga perduli juga sih, yang penting kenyang!

Hujan belum juga reda. Sepatu dan pakaian saya mulai basah. Tapi rasa penasaran akan kedigdayaan Eiffel Tower memaksa kaki kami terus melangkah. Ditengah pejalanan, tiba-tiba seorang yang berada di dalam mobil Peugeot memanggil kami. Ia bilang, Ia adalah pemilik konveksi ternama di Italia yang baru saja menggelar Fashion Show di Paris. Ia ingin memberikan dua jaket kulit untuk saya dan teman saya yang merupakan sisa pergelaran semalem, secara cuma-cuma…!
Tentu saja yang melonjak kegirangan mendapat tawaran tersebut. Namun tak lama berselang, pria yang berusia sekitar 50 tahun itu menambahkan: “I’m going back to Italy now by car, but I need money to buy a gas,” Yaahhh.. ga enak endingnya. Saya dan teman saya, tanpa basa-basi, langsung meninggalkan si bapak tadi. Lucu juga yah, ternyata bukan di Jakarta saja yang banyak penipuan seperti ini, sekelas Paris pun ternyata tak sepenuhnya aman.
Setelah perjalanan panjang dan godaan untuk berbalik pulang karena kelelahan, akhirnya kami tiba juga di sebrang Menara Eiffel. Reaksi saya saat itu: “Ohh.. ini toh yang namanya eipel…” Sangat gloomy, burem, tak seindah yang saya bayangkan. Wajar sih, it’s Winter… You can not expect more. Tanpa matahari, bagi saya Eiffel terlihat seperti tumpukan besi tanpa arti.
Sungai Seine juga berwarna keruh airnya. Ga beda jauh lah sama Ciliwung. Bau pesing merebak disekitaran taman di areal Champ de Mars. Ga jauh beda sama terminal Pulo Gadung. Saya tak bisa, bahkan cenderung malas melihat puncak Eiffel karena malas air hujan akan membasahi wajah saya yang sudah lusuh.
Teman saya langsung mengeluarkan kamera SLR-nya. Cepret sekali, cepret dua kali, lalu dia meminta saya berpose. Cepret sekali, cepret dua kali. “Gimana met, udah puas belum foto-fotonya? Mo kemana lagi sekarang kita?” kata teman saya yang langsung membuat saya tertawa kencang. Sepertinya kami memang satu pemikiran. Tempat ini hanya cocok untuk berfoto dan memamerkan kepada teman-teman se-Fesbuk. Selebihnya, Jakarta tetap lebih indah.
Yah, tempat manapun sebenarnya indah. Asal kita kesana untuk berlibur atau tidak sedang bekerja dan bersama orang-orang tercinta. Karena semua yang saya cinta ada di Jakarta, maka kota ini selalu indah apapun kondisinya.
Rencana menengok museum Louvre pun batal. Karena badan sudah berontak dan hari beranjak malam meski baru pukul empat sore. Siang memang pendek disaat musim dingin. Hey, it’s Winter… You can not expect more, right?
Akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke Bandara meski kami masih punya banyak waktu tersisa. Namun dalam perjalanan saya berdoa khusuk, semoga bisa kembali ke tempat ini ketika Summer yang indah bersama para belahan jiwa saya. Pure untuk liburan, bukan selingan ketika bekerja. And I know You will answer my wish, Lord. Aminnn…
Thursday, September 22, 2011
Wartawan
Beberapa hari terakhir ini, kasus bentrok antara awak wartawan dan siswa SMU 6 menjadi perbincangan hangat di televisi maupun situs jejering sosial. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan masalah ini. Bukan karena tidak memiliki corps de’etat tapi, aduh males banget sih orang lagi pusing mikirin Negara yang lagi digerogoti para koruptor, ini malah berantem.
Bentrokan ini sendiri berawal dari perampasan kamera milik salah seorang wartawan televisi oleh siswa SMU 6, ketika tengah meliput aksi tawuran. Tidak terima diperlakukan seperti itu, esok pagi para kuli tinta ini melakukan aksi damai di depan SMU 6. Entah bagaimana ceritanya (karena banyak versi yang beredar), aksi damai tersebut berujung pada tindak kekerasan oleh kedua belah pihak.
Menyikapi hal ini, sudah bisa ketebak semua media satu suara. Mereka menyebut para siswa yang salah. Sekolah dan para gurupun ikut kena getahnya. Mereka dituduh, tidak bisa mendidik para tunas bangsa tersebut. Sementara di pihak lain, dalam hal ini masyarakat umum, tidak sedikit yang justru membela para guru dan siswa SMU 6. “Waktu anak 6 dikeroyok anak 70, emang ada media yang beritain. Kenapa sekarang tiba-tiba masalah ini dibesar-besarin? Apa karena melibatkan wartawan?,” ungkap sebuah account di situs jejaring Twitter.
Mereka, yah.. masyarakat umum ini menilai, media terlalu berlebihan menyikapi bentrok antara awak mereka dengan anak-anak bau kencur itu. Mentang-mentang para kuli tinta tersebut punya wadah untuk menumpahkan kekesalan terhadap sesuatu, masalah kecilpun menjadi besar. Karena punya media, mereka bebas memberitakan dan membentuk opini sesuai yang mereka suka. Singkat kata, awak media lebay!
Lain cerita, kemarin siang saya mendapat telepon dari adik saya. Dia marah-marah karena kena tilang dan harus membayar denda Rp.500 ribu. Padahal persoalannya sepele, dia meminta form biru yang berarti mengaku salah karena telah melanggar lalu lintas. Setelah mendapat form itu, biasanya pemilik kendaraan langsung membayar denda di bank kemudian mengambil SIM yang ditahan. Namun ternyata polisi tersebut tidak suka. “Loh.. kamu kenapa tidak mau saya tawari form merah saja, biar ikut sidang. Jadi ya sudah, terima saja harus bayar segitu…” begitu kata si polisi itu.
Merasa dikerjai, adik saya meminta saya untuk menemui polisi tersebut. Dia berpikir, dengan membawa kakak yang seorang wartawan, apalagi dari stasiun televisi, pasti masalah apapun bisa diselesaikan dengan mudah. Waktu itu, saya bingung apa yang harus saya lakukan. Saya ingin membela adik saya, karena saya percaya dia memang tidak salah. Tapi saya ingin membela dia, dalam kapasitas saya sebagai seoranga kakak. Bukan wartawan yang seolah-olah ingin mengancam dengan cara membuat laporan tentang perilaku buruk para polisi tersebut, jika tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi lagi… saya khawatir jika melepaskan embel-embel pekerja pers saya, apa tuh polisi mau dengar dan mengabulkan permintaan saya?
Jujur saja, hal ini bukan kali pertama kali terjadi. Sudah sering, baik saudara maupun orang yang tidak saya kenal, tiba-tiba menelepon atau mengirim pesan meminta bantuan dengan mengandalkan latar belakang pekerjaan saya. Ada yang minta tolong karena kena tipu. Ada yang merasa mengalami malpraktek dan sebagainya. Fiuh.. kalau sudah begini, dilemma sekali rasanya. Ingin membantu, tapi saya tidak mau dengan memanfaatkan media tempat saya bekerja.
Saya pribadi memang sering mendapat privileges dari pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya tidak pernah ditilang, saya sering mendapat kemudahan dan sebagainya. Tapi sejujurnya, saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau sengaja menggunakan seragam saat mengurus pembuatan SIM. Tapi saya tahu, jika saya tidak menggunakan seragam itu, saya akan dipersulit.
Tapi saya juga tidak mau, orang-orang yang bekerja di media menggunakan kekuatan mereka untuk mengambil keuntungan pribadi semata. Saya tidak mau, orang-orang berpikir media melakukan aksi ‘balas dendam’ dengan pemberitaan yang memojokan anak-anak SMU 6. Padahal sejujurnya, bocah-bocah ini memang harus diberi pelajaran, karena aksi kekerasan mereka bukan sekali ini terjadi. Kebetulan saja yang kena awak media.
Saya ingin, para jurnalis di Indonesia tetap menjadi corong yang membawa perubahan. Saya tidak mau awak media ditunggangi. Sementara, saya juga tidak mau mereka sendiri, berbuat semana-mena karena punya kuasa melalui media. Saya mau semua berjalan apa adanya.
Tidak ada privilege bagi seorang wartawan, dimanapun dia berada. Semua sama. Saya tidak mau wartawan ditakuti karena pekerjaan mereka. Saya juga tidak mau, pekerjaan kita dipandang sebelah mata. Menilai bahwa integritas kita bisa dibeli. Kalaupun ada yang seperti itu, jangan pernah berpikir semua awak media sama.
Hmm.. klise sih, apa mungkin yah bisa seperti itu? Karena saya pun sebenarnya sudah terjebak dalam kepentingan besar yang memanfaatkan media tempat saya bekerja. Untungnya apa yang saya kerjakan sejauh ini, masih sejalan dengan hati dan pikiran saya. Jika tidak, hmm… mungkin saya harus siap-siap angkat kaki.
Bentrokan ini sendiri berawal dari perampasan kamera milik salah seorang wartawan televisi oleh siswa SMU 6, ketika tengah meliput aksi tawuran. Tidak terima diperlakukan seperti itu, esok pagi para kuli tinta ini melakukan aksi damai di depan SMU 6. Entah bagaimana ceritanya (karena banyak versi yang beredar), aksi damai tersebut berujung pada tindak kekerasan oleh kedua belah pihak.
Menyikapi hal ini, sudah bisa ketebak semua media satu suara. Mereka menyebut para siswa yang salah. Sekolah dan para gurupun ikut kena getahnya. Mereka dituduh, tidak bisa mendidik para tunas bangsa tersebut. Sementara di pihak lain, dalam hal ini masyarakat umum, tidak sedikit yang justru membela para guru dan siswa SMU 6. “Waktu anak 6 dikeroyok anak 70, emang ada media yang beritain. Kenapa sekarang tiba-tiba masalah ini dibesar-besarin? Apa karena melibatkan wartawan?,” ungkap sebuah account di situs jejaring Twitter.
Mereka, yah.. masyarakat umum ini menilai, media terlalu berlebihan menyikapi bentrok antara awak mereka dengan anak-anak bau kencur itu. Mentang-mentang para kuli tinta tersebut punya wadah untuk menumpahkan kekesalan terhadap sesuatu, masalah kecilpun menjadi besar. Karena punya media, mereka bebas memberitakan dan membentuk opini sesuai yang mereka suka. Singkat kata, awak media lebay!
Lain cerita, kemarin siang saya mendapat telepon dari adik saya. Dia marah-marah karena kena tilang dan harus membayar denda Rp.500 ribu. Padahal persoalannya sepele, dia meminta form biru yang berarti mengaku salah karena telah melanggar lalu lintas. Setelah mendapat form itu, biasanya pemilik kendaraan langsung membayar denda di bank kemudian mengambil SIM yang ditahan. Namun ternyata polisi tersebut tidak suka. “Loh.. kamu kenapa tidak mau saya tawari form merah saja, biar ikut sidang. Jadi ya sudah, terima saja harus bayar segitu…” begitu kata si polisi itu.
Merasa dikerjai, adik saya meminta saya untuk menemui polisi tersebut. Dia berpikir, dengan membawa kakak yang seorang wartawan, apalagi dari stasiun televisi, pasti masalah apapun bisa diselesaikan dengan mudah. Waktu itu, saya bingung apa yang harus saya lakukan. Saya ingin membela adik saya, karena saya percaya dia memang tidak salah. Tapi saya ingin membela dia, dalam kapasitas saya sebagai seoranga kakak. Bukan wartawan yang seolah-olah ingin mengancam dengan cara membuat laporan tentang perilaku buruk para polisi tersebut, jika tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi lagi… saya khawatir jika melepaskan embel-embel pekerja pers saya, apa tuh polisi mau dengar dan mengabulkan permintaan saya?
Jujur saja, hal ini bukan kali pertama kali terjadi. Sudah sering, baik saudara maupun orang yang tidak saya kenal, tiba-tiba menelepon atau mengirim pesan meminta bantuan dengan mengandalkan latar belakang pekerjaan saya. Ada yang minta tolong karena kena tipu. Ada yang merasa mengalami malpraktek dan sebagainya. Fiuh.. kalau sudah begini, dilemma sekali rasanya. Ingin membantu, tapi saya tidak mau dengan memanfaatkan media tempat saya bekerja.
Saya pribadi memang sering mendapat privileges dari pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya tidak pernah ditilang, saya sering mendapat kemudahan dan sebagainya. Tapi sejujurnya, saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau sengaja menggunakan seragam saat mengurus pembuatan SIM. Tapi saya tahu, jika saya tidak menggunakan seragam itu, saya akan dipersulit.
Tapi saya juga tidak mau, orang-orang yang bekerja di media menggunakan kekuatan mereka untuk mengambil keuntungan pribadi semata. Saya tidak mau, orang-orang berpikir media melakukan aksi ‘balas dendam’ dengan pemberitaan yang memojokan anak-anak SMU 6. Padahal sejujurnya, bocah-bocah ini memang harus diberi pelajaran, karena aksi kekerasan mereka bukan sekali ini terjadi. Kebetulan saja yang kena awak media.
Saya ingin, para jurnalis di Indonesia tetap menjadi corong yang membawa perubahan. Saya tidak mau awak media ditunggangi. Sementara, saya juga tidak mau mereka sendiri, berbuat semana-mena karena punya kuasa melalui media. Saya mau semua berjalan apa adanya.
Tidak ada privilege bagi seorang wartawan, dimanapun dia berada. Semua sama. Saya tidak mau wartawan ditakuti karena pekerjaan mereka. Saya juga tidak mau, pekerjaan kita dipandang sebelah mata. Menilai bahwa integritas kita bisa dibeli. Kalaupun ada yang seperti itu, jangan pernah berpikir semua awak media sama.
Hmm.. klise sih, apa mungkin yah bisa seperti itu? Karena saya pun sebenarnya sudah terjebak dalam kepentingan besar yang memanfaatkan media tempat saya bekerja. Untungnya apa yang saya kerjakan sejauh ini, masih sejalan dengan hati dan pikiran saya. Jika tidak, hmm… mungkin saya harus siap-siap angkat kaki.
Monday, September 12, 2011
Unsatisfied Australia

Waktu masih pegang program “Bukan Jalan-Jalan Biasa”, salah satu tokoh yang saya incar untuk diwawancarai adalah Mantan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd. Meski sekarang dia hanya seorang Menteri Luar Negeri, namun menurut saya banyak cerita menarik tentang tokoh ini, terutama dikaitkan dengan Indonesia. Memang, beberapa kali Ia menyatakan kesediaan untuk diwawancara. Sayang bukan di negerinya sendiri, melainkan disela-sela lawatan ke Indonesia. Ga nyambung dong, dengan tema besar program yang saya pegang
Lama tak berbalas, tiba-tiba suatu pagi saya mendapat surat elektronik dari kantor Rudd. Isinya menanyakan, apakah saya masih tertarik untuk mewawancarai politisi dari partai Buruh itu. Reaksi saya saat itu biasa saja. Karena, tim untuk program yang sama, baru saja kembali dari Australia. Agak mustahil kembali ke negara yang sama, untuk liputan yang sama pula. Lagipula, saya kan sudah tidak lagi pegang program ini.
Ketika surat elektronik itu saya sampaikan ke Produser program tersebut, diluar dugaan ternyata saya diminta untuk menerima undangan tersebut. Nah, saat ini nih… Udah ga kebayang deh rasanya. Seneng, takut, khawatir semua bercampur jadi satu. Seneng karena, hey… I’m going to Australia!!! Huhu… ngebayangin ajah jarang-jarang, tiba-tiba tuh penawaran sudah di depan mata. Takut, tidak bisa memenuhi harapan mereka. Iyah, mereka… bos-bos itu, yang belakangan saya ketahui agak kecewa dengan hasil liputan Australia sebelumnya. Khawatir karena bahasa Inggris saya yang menyedihkan ini. Apa saya bisa yah? Berulang kali mikirian ini mampir di otak saya. Singkat cerita, yah.. saya tidak PeDe!
Hal ini diperparah dengan rekan kerja saya aka camera person yang base on pengakuan teman-teman yang sudah pernah kerja bareng dia, bukan rekan kerja yang asik. Kerja sama dia, kita dituntutu harus sabar dan penuh pengertian. Bukan hanya dia saja sih, mengurus budget, tiket dan alat juga selalu menuntut kesabaran serta pengertian tingkat tinggi. Apalagi untuk assigement luar negeri, semua proses, bener-bener bikin emosi jiwa.
Oiya, saya juga sempet sedih waktu tahu orang lain yang mewawancarai Kevin Rudd. Bukan saya. Katanya sih, biar lebih bagus. Huhu.. padahal saya butuh Rudd untuk portfolio saya. Tapi mau bagaimana lagi, show must go on kan. Yang penting saya bisa ke Australia. Kesempatan jarang datang dua kali kan. Jadi ga perlu juga lama-lama sedih. Iyah kan?
Berangkat…
Tanggal 22 Juli lalu, berangkat juga saya ke Australia. Kota pertama yang saya tuju adalah Perth. Kesan pertama, standar. Nothing special. Liputannya pun garing. But, still.. I did my best. Hari keempat, kita langsung cabut ke Adelaide. Kota dimana saya, eh.. boss saya akan mewawancarai Kevin Rudd. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Perth yang terletak di Barat Australia, menuju Adelaide yang berada di Selatan. Perbedaan waktu antara dua negara bagian ini 2,5 jam.

Saya langsung jatuh cinta dengan kota ini. Meski kata orang-orang sini, Adelaide membosankan, tapi saya sukaaaa… Adelaide. Tidak terlalu ramai dan banyak bangunan bagus. Dengan bantuan konsulat Jendral RI di Sydney, kami menginap di …Sebuah apartement dan hotel yang bagus banget menurut saya dan sesuai dengan budget kami. Yang terpenting lagi, apartemen ini terletak tidak jauh dari hotel Intercontinental, tempat saya membuat janji dengan Kevin Rudd, keesokan pagi.
Urat-urat saya yang dari kemarin menegang, sedikit mengendur selama dua hari kedepan. Pasalnya, saya akan bebas tugas. Yups, di Adelaide ini bos saya yang akan pegang kendali. Dia juga tiba hari ini dan kembali ke Jakarta, keesokan hari setelah wawancara selesai. Yah.. maklum bos, datang belakangan pulang duluan. Hehe..

Wawancara dengan Kevin Rudd berjalan sangat lancer. Nih orang humble banget. Nice.. beda sama pejabat-pejabat kita, yang rata-rata ngebossy abis. FYI, meski dia mantan PM, ga ada tuh satupun penjaga yang jagain dia saat wawancara . Padahal wawancara di luar loh. Di belakang hotel Intercontinental. Bahkan dia Cuma menggunakan mobil sedan biasa saat meninggalkan hotel. Dan lagi-lagi ga pakai iringan!
Semakin Berat *yawn
Pagi-pagi di hari ketiga di Adelaide, saya dan campers sudah nongkrong manis di terminal domestic Adelaide. Tujuan kami selanjutnya, Alice Spring. Salah satu kota gersang di Australia. Kota ketiga, dari empat kota yang akan kami singgahi. Badan rasanya sudah remuk semua. Cape. Suasana kerja, juga semakin tidak nyaman. Tidak nyaman saat melihat begitu semangatnya nih campers kerja, saat ada bos. Giliran sama saya, ampuuunnn deh. Tapi saya tetap baik. Tetap perhatian, bahkan tidak pernah terlewat membuatkan dia sarapan. Pokoknya menahan diri untuk kelancaran semuanya.

Apalagi di Alice Spring ini adalah tugas terberat saya, meliput soal kehidupan suku Asli benua Australia. Saya diminta melakukan ini, karena tim sebelumnya gagal. Pulang, tanpa secuilpun cerita tentang orang-orang Aborigin Australia. Huhu.. saya juga sebenarnya juga ga yakin bisa sih. Isu soal orang-orang Aborigin ini terlalu kompleks. Dan tak satupun yang saya kuasai. Berbekal seorang fixer asal Melbourne dan tayangan Tropic Capricorn milik Simon Reeve, ya sudah… saya kumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas ini.
Secara umum, Alice Spring adalah kota yang menarik. Kita bisa menikmati gurun dan bentangan alam yang cantik. Terlebih saat menjelang senja. Sayang disini semua serba mahal. Dan stigmatisasi soal orang-orang Aborigin yang banyak berkeliaran di kota ini, juga sedikit mempengaruhi mood kerja saya.
Yah.. mayoritas masyarakat Aborigin memang hidup menganggur. Di siang hari, mereka hanya duduk santai, sambil menikmati sinar matahari. Di malam hari, mereka juga santai sembari menenguk botol-botol berisi minuman beralkohol. Hal ini yang memicu tingginya angka kriminalitas, kekerasan pada anak-anak dibawah umur dan sebagainya.

Bagi saya, pemerintah Australia sudah banyak berbuat. Mereka memberikan basic card yang bisa digunakan untuk belanja sehari-hari secara cuma-Cuma, memberikan perumahan dengan sistim sewa murah, pendidikan dan sebagainya, tapi kehidupan para suku asli benua ini tidak juga berubah. Entah dimana yang salah. Mengutip kata-kata Kevin Rudd, memang pemerintah Australia telah berbuat banyak. Tapi mereka terlambat, mengantisipasi apa yang terjadi pada penghuni awal benua terkecil di dunia ini akibat ekspansi besar-besaran para imigran, selama puluhan tahun.
Hello Sydney…
Setelah berjibaku lahir dan bathin, menghadapi tugas yang berat, rekan kerja yang juga ga kalah berat, Jumat sore akhirnya saya tiba di SYDNEYYY…!!!! Huaaa.. seneng banget. Langsung hilang nih semua pegel dan kesel bisa berada di kota metropolis yang diisi beragam rupa, bahasa dan budaya ini. Hari pertama saya menginap di hotel Formule, tidak jauh dari bandara.
Tentu saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera mengeksplorasi kota cantik ini. Namun sayang, karena banyak difasilitasi konsulat, kami termaksa memenuhi permintaan mereka untuk meliput sebuah pengajian orang-orang Indonesia disana. Fiuh, mau bagaimana lagi. Mereka sudah baik, mau membantu. Masa di minta tolong segini saja tidak mau. Lagipula, siapa tahu bisa buat nambah-nambahin materi. Yasudah, sebelum gila-gilaan Jumat malam di Sydney (cieehhh..) kami akhirnya, meliput pengajian dulu. Hehe..
Selang setengah jam meliputa pengajian tersebut (iyah lah, ngapain lama-lama hehe..), kami segera meluncur ke pusat kota Sydney. Apalagi, kalau bukan untuk bertemu dengan the phenomenal, Opera House!!! Sydney terasa sangat hidup di Jumat malam. Muda-mudi dengan pakai rapih, hilir mudik ditengah-tengah kemacetan. Yah kemacetan dimana-mana, tapi.. saya tetap menikmatinya.

Nah.. ditengah euphoria bertemu si Opera House ini lah, si camera person tiba-tiba bertingkah. Menyulut amarah, untuk persoalan yang tidak seberapa. Akumulasi kekesalan saya selama ini, akhirnya pecah juga malam itu. Selama ini, saya sering mendapat wanti-wanti tentang makhluk ini. Mereka bilang, sifatnya ajaib. Ajaib bikin panas hati. Akhirnya saya mengalami sendiri. Dan Sydney seketika menjadi buruk rupa. Saya mengibarkan bendera perang. Tidak mau lagi berteman, dengan orang yang tidak tahu caranya berteman.
Perjalanan saya di Australia, sangat menyengkan. Saya suka tiap apartemen yang kami tempati. Saya bersyukur bertemu orang-orang yang banyak menolong dan baik hati. Saya tidak percaya, bisa menemukan pengalaman seperti ini. Tapi rekan kerja saya yang satu itu, benar-benar merusak segalanya.
Fiuh.. semoga saja ada kesempatan kedua bagi saya, untuk melihat Australia dalam kondisi yang lebih baik lagi. Amiinnn…
Monday, May 9, 2011
Huhu..
Finally, dua orang sahabat saya akhir tahun ini resmi berangkat ke Inggris. Mereka dapat beasiswa Chevening. Begitu dengar, saya langsung lemes. Sedih dan senang. I'm sooo happy for their both. Tiap hari denger curhat mereka soal mimpi. Tiap hari liat usaha mereka untuk meraih mimpi itu. Dan sekarang, cling... that dream coming true. Gilak yah...I'm living with super people.
Tapi tentu saya sedih. Karena pada dasarnya mimpi mereka adalah mimpi saya juga. Hanya bedanya, mereka serius mengejar, mungkin sampai ke negeri Cina. Sedangkan saya masih mengejar stok ASI dan deadline. Hehe... Yes, never ever think that I'm not happy with my life. I'm super happy. Nothing regrets. Rejeki ga mungkin salah kamar selama kita mau berusaha. Yah, saya hampir setahun ini dilimpahkan beragam rizki. Jusuf Abiyyu Daniswara, suami yang baik dan mencukupi semua kebutuhan saya dan pekerjaan yang memungkinkan saya melihat dunia.
Lalu kenapa sedih? Karena saya ingat lagi sama mimpi itu. Inget dulu terobsesi sampe kaya orang bego. Inget begitu banyak biaya dan waktu yang terbuang tapi ga berhasil-hasil. And the saddest part is, I gave up! huhu...
Ah sudah lah... ga usah dibahas lagi. Intinya sekali lagi, I'm happy for all of my best friends! U guys totally deserve to get it. And I probably the next. hehe.. AMIN!
Love you Pak Gentur and Baby Danis ;)
Tapi tentu saya sedih. Karena pada dasarnya mimpi mereka adalah mimpi saya juga. Hanya bedanya, mereka serius mengejar, mungkin sampai ke negeri Cina. Sedangkan saya masih mengejar stok ASI dan deadline. Hehe... Yes, never ever think that I'm not happy with my life. I'm super happy. Nothing regrets. Rejeki ga mungkin salah kamar selama kita mau berusaha. Yah, saya hampir setahun ini dilimpahkan beragam rizki. Jusuf Abiyyu Daniswara, suami yang baik dan mencukupi semua kebutuhan saya dan pekerjaan yang memungkinkan saya melihat dunia.
Lalu kenapa sedih? Karena saya ingat lagi sama mimpi itu. Inget dulu terobsesi sampe kaya orang bego. Inget begitu banyak biaya dan waktu yang terbuang tapi ga berhasil-hasil. And the saddest part is, I gave up! huhu...
Ah sudah lah... ga usah dibahas lagi. Intinya sekali lagi, I'm happy for all of my best friends! U guys totally deserve to get it. And I probably the next. hehe.. AMIN!
Love you Pak Gentur and Baby Danis ;)
Thursday, February 24, 2011
we love you kid!

Waahhh… sepi banget nih blog. Ga ada yang punya yah? ;) Iyah nih, udah lama banget ngga ngeblog. Padahal banyak hal yang ingin saya tulis terutama 8 bulan terakhir ini when I officially being mother of handsome-baby, Jusuf Abbiyu Daniswara, hehe…
Yups, pengalaman saat mendengar kata pertama dia, pengalaman saat mulai tengkurap sendiri, mulai makan dan pengalaman saat sakit pertama kali yang bikin panic tujuh turunan, adalah pengalaman berharga yang ingin sekali saya abadikan. Syukur-syukur dibaca orang dan dijadikan referensi.
Soalnya saya sendiri menjadikan, pengalaman ibu-ibu yang saya temui melalui mesin mencari google, sebagai referensi dalam merawat dan membesarkan Danis. Habis gimana lagi, kalau sama Dokter bawaanya suuzon mulu. Hehe… Sudah ga keitung deh berapa kali saya ganti Dokter Spesialis Anak (DSA).
Tapi berkat ketengilan saya, alhamdulillah Danis baru kena obat setelah dia berumur 7 bulan. Itupun hanya Paracetamol (4 kali kasih) dan obat batuk (2 kali kasih) karena flu. Alhamdulillah juga, sampai saat ini Danis masih full ASI dan full home made Makanan Pendamping Asi. Walaupun badannya kurus dan diprotes DSA barunya, tapi ya sutra lah.. berat badanya sekarang masih normal kok dan yang penting anaknya sehat!
Sementara saya sendiri, semua tantangan dan cobaan dalam membesarkan Danis, Insya Allah membuat saya menjadi sosok baru yang Insya Allah lebih baik. Saya belajar untuk mengendalikan marah dan menjaga hati dari penyakit sirik dan dengki. Saya mencoba untuk tetep rendah diri, walaupun kadang kebablasan jadi ga percaya diri. Hihi… Saya mulai menghindari konflik, bukan karena saya tidak mahir memanagenya, tapi saya tidak mau ada yang sakit hati karena sikap keras saya.
Saya belajar untuk ikhlas, meski susahnya minta ampun. Ikhlas dalam mengerjakan apapun. Ihklas disuruh ini-itu, meski sering merasa diperlakukan tidak adil terutama dalam hal perkerjaan. Tapi hey… saya masih bekerja loh. Mendapat penghasilan dan berinteraksi dengan orang-orang hebat. Apalagi yang mesti saya keluhkan? Yaah.. walaupun kadang kesel juga sih jika pekerjaan tidak sesuai harapan. Tapi, hey… apa sih di dunia ini yang selalu sesuai dengan kemauan? Jadi buang-buang waktu, jika harus saya keluhkan.
Dari semua hal tersebut, tujuannya saya sebenarnya cuma satu, agar Danis tidak mewarisi sifat buruk saya dan suami. Agar Danis tumbuh menjadi pribadi yang baik dan menyejukan. Jadi, cukup hidung pesek saya saja yang dia tiru. ;)
We love you kid!
Subscribe to:
Posts (Atom)