Tuesday, March 6, 2012

Paris..? Hmm...

Udah lama ga ngeblog. Mumpung lagi ngedit dan dari pada bengong, ga bawa buku apalagi DVD, maka saatnya sekarang untuk ngeblog lagi. Kali ini saya mau menulis tentang pengalaman singkat menginjakan kaki di kota sejuta pesona, Paris. Kota yang katanya menjadi impian orang-orang muda dunia untuk tinggal atau sekedar berkunjung menikmati semua keindahannya.

Waktu tahu bisa punya kesempatan untuk ke Paris, rasanya…. Hmm, ga usah diceritain lagi lah yah. Yang pasti excitednya sungguh menggila. Kesempatan yang ga pernah terbayangkan sebelumnya, kini ada di depan mata dan diberikan secara percuma. Err… ga percuma sih, disuruh kerja juga. Huhu..

Anyway, saya menjajakan kaki pertama kali di tempat ini pada awal Januari tahun ini, dalam perjalanan menuju Haiti. Yah, tujuan utama saya sebenarnya Haiti untuk meliput kondisi social politik disana pasca rentetan konflik perebutan kekuasaan dan gempa besar pada 2010 lalu.

Ini adalah perjalanan terpanjang saya. Bayangkan saja, untuk mencapai Haiti saya harus transit sebanyak 3 kali dan harus pindah bandara di Perancis untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Total, hampir dua hari dua malam untuk mencapai Haiti.

Namun justru perjalanan panjang inilah yang membuka kesempatan saya bertemu dengan Paris. Dari Jakarta, saya transit pertama kali di Singapura, kemudian ke Charles De Gaulle, Paris. Untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya ke Bandara Pointe Pitre di Guadalupe, saya harus keluar dari Charles De Gaulle dan pindah ke Bandara yang lebih kecil di kota Paris yaitu Orly.

Saya tiba di Paris pukul 6 pagi waktu setempat. Surprise ternyata rasanya biasa saja waktu tahu sudah sampai Paris. Hehe.. Mungkin karena Paris bukan tujuan utama perjalanan saya kali ini dan beban pekerjaan yang masih menggelayuti. Terlebih, saya tidak suka Paris di bulan Januari. Dinginnya sadis. Jam 8 pagi masih gelap gulita dan hujan yang tak berhenti turun.

Belum banyak aktivitas yang berarti di Charles De Gaulle pagi ini. Toko-toko juga masih tutup. Mau jalan-jalan, waktu transit kami terlalu singkat. Hanya 6 jam. Cuaca juga tidak memungkinkan. Atas kesepakatan dengan rekan kerja saya, akhirnya kami memutuskan untuk langsung menuju Bandara Orly dan menunda dulu keliling kota ini

Setelah tanya sana-sini, kami menggunkan shuttle bus yang disediakan maskapai Air France untuk mencapai Orly. Biaya, sekitar 32 Euro untuk kami berdua. Belakangan saya baru tahu, ternyata untuk penumpang transit seperti kami ini sebenernya shuttle bus disediakan cuma-cuma.

Dengan kemacetan pagi hari, perlu waktu sekitar satu jam dari Bandara Internasional Charles De Gaulle menuju Bandara Internasional Orly. Kalau di Indonesia, mungkin seperti Cengkareng dan Halim Perdana Kusuma. Bandara ini juga jauh lebih kecil dari Charles De Gaulle.




Sampai di Orly, pikiran saya langsung sibuk dengan tugas-tugas yang menunggu di Haiti. Kekhawatiran apakah segala sesuatunya bisa berjalan sesuai rencana dan rintangan apa saja yang mungkin akan kami hadapi. Namun sesekali, kepikiran juga sih bagimana caranya bisa sempat mampir dan foto di Menara Eiffel ketika transit dalam perjalanan pulang nanti. Hehe…

Tidak mudah memang bekerja dinegeri orang. Di negeri sendiri saja, banyak halangan apalagi di negeri yang bahasanya tidak kita mengerti. Stress sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi hey, namanya juga tugas. Tentu harus dijalankan dengan sebaik mungkin.

Maka setelah hari-hari terakhir saat di Haiti, saya mulai mengatur strategi dalam kunjungan kedua di Paris. Kami berhak untuk bersenang-senang, setelah kerja keras kami. Lagipula, dalam perjalanan pulang kami nanti akan transit selama hampir 14 jam! Konyol kan kalau segitu lamanya nunggu, kita tidak sempatkan diri untuk keliling Paris. Visa sudah ditangan. Kurang apalagi?

Namun saya bingung, bagaimana teknis saat sudah di Paris nanti. Apakah naik bis karena lebih murah, atau taksi agar tidak tersesat. Namun masalah lain muncul karena kami tidak mungkin berkeliling dengan barang bawaan yang begitu banyak. Cara terbaik adalah dengan menyewa mobil. Namun siapa yang bisa kita percaya saat meninggalkan barang-barang dengan orang yang baru dikenal?

Saya mencoba menghubungi KBRI kita di Paris untuk minta petunjuk mengenai hal ini. Meski sebenarnya secara tidak langsung, saya berharap juga mereka sendiri yang menemani kami. Karena pengalaman-pengalaman saya sebelumnya, biasanya KBRI itu sangat baik terhadap wartawan yang berkunjung. Namun untuk Paris, sepertinya ekspektasi saya terlalu tinggi.

Mereka tidak banyak membantu. Namun menyarankan saya untuk menyewa mobil milik orang Indonesia. Ya sudah lah, pikir saya. Sama saja. Yang penting orang Indonesia, bisa dipercaya. Maka ketika saya menghubungi nomer yang KBRI berikan, saya kaget begitu tahu harganya: 420 Euro hanya untuk menjemput kami di Orly, berkeliling di kawasan Etoile lalu mengantar kami ke Charles De Gaulle.

“Wah pak, mahal sekali. Budget saya Cuma 200. Itupun Dollar bukan Euro,” ujar saya kepada si bapak yang akan menyewakan mobil. Lalu si bapak membalas; “Ok, 200 Euro tapi Cuma 4 jam yah,” balas si bapak. Tanpa berpikir dua kali, saya pun langsung mengatakan tidak. Gilaaa yah, sesama orang Indonesia ajah dimahalin!!! Bener-bener sakit hati deh nemu ada orang Indonesia yang perhitungan banget sama sesama ‘saudaranya’ sendiri.

Akhirnya, di bandara Toussaint Louverture, Port-Au-Prince, dalam perjalanan pulang kami menuju Indonesia, saya menyerahkan kepada semesta apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang jelas, saya telah membulatkan tekad untuk sekedar menengok Eiffel dalam kunjungan singkat saya di Paris, apapun caranya, tapi tetap realistis dan ramah di kantong. Hehe..

Rupanya semesta mendengar curhan hati saya. Dalam penerbangan Air France dari Haiti menuju Guadalupe, saya duduk berdampingan dengan warga negara Prancis yang tinggal di Guadalupe.

Sekedar informasi, Guadalupe adalah kolonialisasi Prancis di Benua Amerika. Negeri kecil yang tropis dan didominasi oleh masyarakat berkulit hitam ini menggunakan Prancis sebagai bahasa Nasional mereka dan Euro sebagai mata uangnya.

Menurut teman seperjalanan saya itu, tidak sulit sebenarnya bagi kami untuk berkeliling di Paris apalagi mengingat kami punya waktu hampir 14 jam transit. Pria yang umurnya sekitar 35 tahun ini menunjukan kepada saya sebuah peta yang merupakan salah satu halaman dari majalah internal Air France. Bahkan ia tidak segan merobek peta tersebut dan memberikan kepada kami. “Trust me, u not gonna lost in Paris,” ucapnya meyakinkan saya.

Maka setelah menempuh perjalanan selama 10 jam di pesawat dan transit lebih dari 8 jam di Guadalupe! Iyah, 8 jam tanpa boleh keluar dari boarding room yang tidak memiliki fasilitas ruang merokok, internet, juga restoran itu, akhirnya kami tiba juga di bandara Internasional Orly, Parisss…!!! Uhuuuyyy… Senangnya bukan kepalang. Yang pertama saya lakukan adalah check-in di Foursquare. Lumayan, buat kenang-kenangan. Hehe..

Sesuai petunjuk pria baik tadi, maka saya langsung menuju bandara Charles De Gaulle untuk early check-in dan bagasi. Berbeda dengan ketika kami berangkat, dari Bandara Orly ini ternyata kami mendapat voucher gratis untuk menumpangi shuttle bus Air France menuju De Gaulle. Lumayan lah, bisa ngirit. Hehe.. Dan yang lebih membahagiakan, hari ini Paris tidak hujan walaupun cuaca diluar sana mendung.

Setelah check-in dan nyasar sana-sini, akhirnya kami berhasil menemukan bis yang akan membawa kami ke pusat kota Paris di Etoile. Sebenarnya bis ini sama dengan yang kami gunakan dari Bandara Orly tadi, yaitu LessCar yang disediakan oleh Air France untuk para penumpangnya dan masyarakat umum.

Bis ini memiliki 4 jalur, De Gaulle-Orly, Orly-De Gaulle dan sisanya menuju pusat kota. Memang harga tiketnya lebih mahal jika dibandingan naik kereta. Namun percaya lah, naik bis ini lebih praktis dan lebih murah dari Taksi.

Cuaca Paris berkisar antara 4 derajat celcius hari itu. Hujan turun dalam perjalanan kami menuju Etoile. Kata teman saya, saat Winter hujan memang selalu turun di Paris. Harga tiketnya, kalau saya tidak lupa, sekitar 24 Euro untuk pulang pergi.

Saat itu jujur saja, saya mulai kehilangan euphoria Paris. Mungkin karena cuaca yang dingin, backpack yang berat, hujan dan tubuh yang sangat lelah. Terlebih setiba di Etoile, tepat di hadapan Arc de Triomphe yang tersohor itu, rasa lelah mencapai puncaknya.

Tubuh saya mengigil. Ia menolak untuk saya bawa jalan menuju Menara Eiffel yang berjarak hanya sekitar 1 kilometer itu. Tanpa berpikir dua kali, saya langsung menarik teman seperjalanan saya untuk masuk ke sebuah café yang terlihat cukup berkelas. “Met, emang lo ada duit buat makan disini,” kata teman saya. Lalu saya balas, asal terima kartu kredit, pokoknya aman lah. Hehe..

Saya memang membawa Euro seadanya. Hanya 200 saja dengan perhitungan untuk transportasi dan makan ringan. Diluar perkiraan, ternyata kebutuhan meningkat. Tapi syukurlah ada kartu kredit, benar-benar teknologi yang mengerti saya. Hehe…

Setelah melahap steak rib eye dengan kentang goreng yang nikmatnya selangit (maklum, laperrrr berat dan kedinginan), akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Eiffel. Oiya, jangan tanya yah berapa biaya yang kami habiskan di café ini. Ga perduli juga sih, yang penting kenyang!



Hujan belum juga reda. Sepatu dan pakaian saya mulai basah. Tapi rasa penasaran akan kedigdayaan Eiffel Tower memaksa kaki kami terus melangkah. Ditengah pejalanan, tiba-tiba seorang yang berada di dalam mobil Peugeot memanggil kami. Ia bilang, Ia adalah pemilik konveksi ternama di Italia yang baru saja menggelar Fashion Show di Paris. Ia ingin memberikan dua jaket kulit untuk saya dan teman saya yang merupakan sisa pergelaran semalem, secara cuma-cuma…!

Tentu saja yang melonjak kegirangan mendapat tawaran tersebut. Namun tak lama berselang, pria yang berusia sekitar 50 tahun itu menambahkan: “I’m going back to Italy now by car, but I need money to buy a gas,” Yaahhh.. ga enak endingnya. Saya dan teman saya, tanpa basa-basi, langsung meninggalkan si bapak tadi. Lucu juga yah, ternyata bukan di Jakarta saja yang banyak penipuan seperti ini, sekelas Paris pun ternyata tak sepenuhnya aman.

Setelah perjalanan panjang dan godaan untuk berbalik pulang karena kelelahan, akhirnya kami tiba juga di sebrang Menara Eiffel. Reaksi saya saat itu: “Ohh.. ini toh yang namanya eipel…” Sangat gloomy, burem, tak seindah yang saya bayangkan. Wajar sih, it’s Winter… You can not expect more. Tanpa matahari, bagi saya Eiffel terlihat seperti tumpukan besi tanpa arti.

Sungai Seine juga berwarna keruh airnya. Ga beda jauh lah sama Ciliwung. Bau pesing merebak disekitaran taman di areal Champ de Mars. Ga jauh beda sama terminal Pulo Gadung. Saya tak bisa, bahkan cenderung malas melihat puncak Eiffel karena malas air hujan akan membasahi wajah saya yang sudah lusuh.

Teman saya langsung mengeluarkan kamera SLR-nya. Cepret sekali, cepret dua kali, lalu dia meminta saya berpose. Cepret sekali, cepret dua kali. “Gimana met, udah puas belum foto-fotonya? Mo kemana lagi sekarang kita?” kata teman saya yang langsung membuat saya tertawa kencang. Sepertinya kami memang satu pemikiran. Tempat ini hanya cocok untuk berfoto dan memamerkan kepada teman-teman se-Fesbuk. Selebihnya, Jakarta tetap lebih indah.

Yah, tempat manapun sebenarnya indah. Asal kita kesana untuk berlibur atau tidak sedang bekerja dan bersama orang-orang tercinta. Karena semua yang saya cinta ada di Jakarta, maka kota ini selalu indah apapun kondisinya.

Rencana menengok museum Louvre pun batal. Karena badan sudah berontak dan hari beranjak malam meski baru pukul empat sore. Siang memang pendek disaat musim dingin. Hey, it’s Winter… You can not expect more, right?

Akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke Bandara meski kami masih punya banyak waktu tersisa. Namun dalam perjalanan saya berdoa khusuk, semoga bisa kembali ke tempat ini ketika Summer yang indah bersama para belahan jiwa saya. Pure untuk liburan, bukan selingan ketika bekerja. And I know You will answer my wish, Lord. Aminnn… 

Thursday, September 22, 2011

Wartawan

Beberapa hari terakhir ini, kasus bentrok antara awak wartawan dan siswa SMU 6 menjadi perbincangan hangat di televisi maupun situs jejering sosial. Saya pribadi sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan masalah ini. Bukan karena tidak memiliki corps de’etat tapi, aduh males banget sih orang lagi pusing mikirin Negara yang lagi digerogoti para koruptor, ini malah berantem.

Bentrokan ini sendiri berawal dari perampasan kamera milik salah seorang wartawan televisi oleh siswa SMU 6, ketika tengah meliput aksi tawuran. Tidak terima diperlakukan seperti itu, esok pagi para kuli tinta ini melakukan aksi damai di depan SMU 6. Entah bagaimana ceritanya (karena banyak versi yang beredar), aksi damai tersebut berujung pada tindak kekerasan oleh kedua belah pihak.

Menyikapi hal ini, sudah bisa ketebak semua media satu suara. Mereka menyebut para siswa yang salah. Sekolah dan para gurupun ikut kena getahnya. Mereka dituduh, tidak bisa mendidik para tunas bangsa tersebut. Sementara di pihak lain, dalam hal ini masyarakat umum, tidak sedikit yang justru membela para guru dan siswa SMU 6. “Waktu anak 6 dikeroyok anak 70, emang ada media yang beritain. Kenapa sekarang tiba-tiba masalah ini dibesar-besarin? Apa karena melibatkan wartawan?,” ungkap sebuah account di situs jejaring Twitter.

Mereka, yah.. masyarakat umum ini menilai, media terlalu berlebihan menyikapi bentrok antara awak mereka dengan anak-anak bau kencur itu. Mentang-mentang para kuli tinta tersebut punya wadah untuk menumpahkan kekesalan terhadap sesuatu, masalah kecilpun menjadi besar. Karena punya media, mereka bebas memberitakan dan membentuk opini sesuai yang mereka suka. Singkat kata, awak media lebay!

Lain cerita, kemarin siang saya mendapat telepon dari adik saya. Dia marah-marah karena kena tilang dan harus membayar denda Rp.500 ribu. Padahal persoalannya sepele, dia meminta form biru yang berarti mengaku salah karena telah melanggar lalu lintas. Setelah mendapat form itu, biasanya pemilik kendaraan langsung membayar denda di bank kemudian mengambil SIM yang ditahan. Namun ternyata polisi tersebut tidak suka. “Loh.. kamu kenapa tidak mau saya tawari form merah saja, biar ikut sidang. Jadi ya sudah, terima saja harus bayar segitu…” begitu kata si polisi itu.

Merasa dikerjai, adik saya meminta saya untuk menemui polisi tersebut. Dia berpikir, dengan membawa kakak yang seorang wartawan, apalagi dari stasiun televisi, pasti masalah apapun bisa diselesaikan dengan mudah. Waktu itu, saya bingung apa yang harus saya lakukan. Saya ingin membela adik saya, karena saya percaya dia memang tidak salah. Tapi saya ingin membela dia, dalam kapasitas saya sebagai seoranga kakak. Bukan wartawan yang seolah-olah ingin mengancam dengan cara membuat laporan tentang perilaku buruk para polisi tersebut, jika tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tapi lagi… saya khawatir jika melepaskan embel-embel pekerja pers saya, apa tuh polisi mau dengar dan mengabulkan permintaan saya?

Jujur saja, hal ini bukan kali pertama kali terjadi. Sudah sering, baik saudara maupun orang yang tidak saya kenal, tiba-tiba menelepon atau mengirim pesan meminta bantuan dengan mengandalkan latar belakang pekerjaan saya. Ada yang minta tolong karena kena tipu. Ada yang merasa mengalami malpraktek dan sebagainya. Fiuh.. kalau sudah begini, dilemma sekali rasanya. Ingin membantu, tapi saya tidak mau dengan memanfaatkan media tempat saya bekerja.

Saya pribadi memang sering mendapat privileges dari pekerjaan saya sebagai wartawan. Saya tidak pernah ditilang, saya sering mendapat kemudahan dan sebagainya. Tapi sejujurnya, saya tidak mau seperti itu. Saya tidak mau sengaja menggunakan seragam saat mengurus pembuatan SIM. Tapi saya tahu, jika saya tidak menggunakan seragam itu, saya akan dipersulit.

Tapi saya juga tidak mau, orang-orang yang bekerja di media menggunakan kekuatan mereka untuk mengambil keuntungan pribadi semata. Saya tidak mau, orang-orang berpikir media melakukan aksi ‘balas dendam’ dengan pemberitaan yang memojokan anak-anak SMU 6. Padahal sejujurnya, bocah-bocah ini memang harus diberi pelajaran, karena aksi kekerasan mereka bukan sekali ini terjadi. Kebetulan saja yang kena awak media.

Saya ingin, para jurnalis di Indonesia tetap menjadi corong yang membawa perubahan. Saya tidak mau awak media ditunggangi. Sementara, saya juga tidak mau mereka sendiri, berbuat semana-mena karena punya kuasa melalui media. Saya mau semua berjalan apa adanya.

Tidak ada privilege bagi seorang wartawan, dimanapun dia berada. Semua sama. Saya tidak mau wartawan ditakuti karena pekerjaan mereka. Saya juga tidak mau, pekerjaan kita dipandang sebelah mata. Menilai bahwa integritas kita bisa dibeli. Kalaupun ada yang seperti itu, jangan pernah berpikir semua awak media sama.

Hmm.. klise sih, apa mungkin yah bisa seperti itu? Karena saya pun sebenarnya sudah terjebak dalam kepentingan besar yang memanfaatkan media tempat saya bekerja. Untungnya apa yang saya kerjakan sejauh ini, masih sejalan dengan hati dan pikiran saya. Jika tidak, hmm… mungkin saya harus siap-siap angkat kaki.

Monday, September 12, 2011

Unsatisfied Australia















Waktu masih pegang program “Bukan Jalan-Jalan Biasa”, salah satu tokoh yang saya incar untuk diwawancarai adalah Mantan Perdana Menteri Australia, Kevin Rudd. Meski sekarang dia hanya seorang Menteri Luar Negeri, namun menurut saya banyak cerita menarik tentang tokoh ini, terutama dikaitkan dengan Indonesia. Memang, beberapa kali Ia menyatakan kesediaan untuk diwawancara. Sayang bukan di negerinya sendiri, melainkan disela-sela lawatan ke Indonesia. Ga nyambung dong, dengan tema besar program yang saya pegang

Lama tak berbalas, tiba-tiba suatu pagi saya mendapat surat elektronik dari kantor Rudd. Isinya menanyakan, apakah saya masih tertarik untuk mewawancarai politisi dari partai Buruh itu. Reaksi saya saat itu biasa saja. Karena, tim untuk program yang sama, baru saja kembali dari Australia. Agak mustahil kembali ke negara yang sama, untuk liputan yang sama pula. Lagipula, saya kan sudah tidak lagi pegang program ini.

Ketika surat elektronik itu saya sampaikan ke Produser program tersebut, diluar dugaan ternyata saya diminta untuk menerima undangan tersebut. Nah, saat ini nih… Udah ga kebayang deh rasanya. Seneng, takut, khawatir semua bercampur jadi satu. Seneng karena, hey… I’m going to Australia!!! Huhu… ngebayangin ajah jarang-jarang, tiba-tiba tuh penawaran sudah di depan mata. Takut, tidak bisa memenuhi harapan mereka. Iyah, mereka… bos-bos itu, yang belakangan saya ketahui agak kecewa dengan hasil liputan Australia sebelumnya. Khawatir karena bahasa Inggris saya yang menyedihkan ini. Apa saya bisa yah? Berulang kali mikirian ini mampir di otak saya. Singkat cerita, yah.. saya tidak PeDe!

Hal ini diperparah dengan rekan kerja saya aka camera person yang base on pengakuan teman-teman yang sudah pernah kerja bareng dia, bukan rekan kerja yang asik. Kerja sama dia, kita dituntutu harus sabar dan penuh pengertian. Bukan hanya dia saja sih, mengurus budget, tiket dan alat juga selalu menuntut kesabaran serta pengertian tingkat tinggi. Apalagi untuk assigement luar negeri, semua proses, bener-bener bikin emosi jiwa.

Oiya, saya juga sempet sedih waktu tahu orang lain yang mewawancarai Kevin Rudd. Bukan saya. Katanya sih, biar lebih bagus. Huhu.. padahal saya butuh Rudd untuk portfolio saya. Tapi mau bagaimana lagi, show must go on kan. Yang penting saya bisa ke Australia. Kesempatan jarang datang dua kali kan. Jadi ga perlu juga lama-lama sedih. Iyah kan?

Berangkat…

Tanggal 22 Juli lalu, berangkat juga saya ke Australia. Kota pertama yang saya tuju adalah Perth. Kesan pertama, standar. Nothing special. Liputannya pun garing. But, still.. I did my best. Hari keempat, kita langsung cabut ke Adelaide. Kota dimana saya, eh.. boss saya akan mewawancarai Kevin Rudd. Perlu waktu sekitar 3 jam perjalanan dari Perth yang terletak di Barat Australia, menuju Adelaide yang berada di Selatan. Perbedaan waktu antara dua negara bagian ini 2,5 jam.







Saya langsung jatuh cinta dengan kota ini. Meski kata orang-orang sini, Adelaide membosankan, tapi saya sukaaaa… Adelaide. Tidak terlalu ramai dan banyak bangunan bagus. Dengan bantuan konsulat Jendral RI di Sydney, kami menginap di …Sebuah apartement dan hotel yang bagus banget menurut saya dan sesuai dengan budget kami. Yang terpenting lagi, apartemen ini terletak tidak jauh dari hotel Intercontinental, tempat saya membuat janji dengan Kevin Rudd, keesokan pagi.


Urat-urat saya yang dari kemarin menegang, sedikit mengendur selama dua hari kedepan. Pasalnya, saya akan bebas tugas. Yups, di Adelaide ini bos saya yang akan pegang kendali. Dia juga tiba hari ini dan kembali ke Jakarta, keesokan hari setelah wawancara selesai. Yah.. maklum bos, datang belakangan pulang duluan. Hehe..







Wawancara dengan Kevin Rudd berjalan sangat lancer. Nih orang humble banget. Nice.. beda sama pejabat-pejabat kita, yang rata-rata ngebossy abis. FYI, meski dia mantan PM, ga ada tuh satupun penjaga yang jagain dia saat wawancara . Padahal wawancara di luar loh. Di belakang hotel Intercontinental. Bahkan dia Cuma menggunakan mobil sedan biasa saat meninggalkan hotel. Dan lagi-lagi ga pakai iringan!

Semakin Berat *yawn

Pagi-pagi di hari ketiga di Adelaide, saya dan campers sudah nongkrong manis di terminal domestic Adelaide. Tujuan kami selanjutnya, Alice Spring. Salah satu kota gersang di Australia. Kota ketiga, dari empat kota yang akan kami singgahi. Badan rasanya sudah remuk semua. Cape. Suasana kerja, juga semakin tidak nyaman. Tidak nyaman saat melihat begitu semangatnya nih campers kerja, saat ada bos. Giliran sama saya, ampuuunnn deh. Tapi saya tetap baik. Tetap perhatian, bahkan tidak pernah terlewat membuatkan dia sarapan. Pokoknya menahan diri untuk kelancaran semuanya.







Apalagi di Alice Spring ini adalah tugas terberat saya, meliput soal kehidupan suku Asli benua Australia. Saya diminta melakukan ini, karena tim sebelumnya gagal. Pulang, tanpa secuilpun cerita tentang orang-orang Aborigin Australia. Huhu.. saya juga sebenarnya juga ga yakin bisa sih. Isu soal orang-orang Aborigin ini terlalu kompleks. Dan tak satupun yang saya kuasai. Berbekal seorang fixer asal Melbourne dan tayangan Tropic Capricorn milik Simon Reeve, ya sudah… saya kumpulkan tenaga yang masih tersisa untuk menyelesaikan tugas ini.

Secara umum, Alice Spring adalah kota yang menarik. Kita bisa menikmati gurun dan bentangan alam yang cantik. Terlebih saat menjelang senja. Sayang disini semua serba mahal. Dan stigmatisasi soal orang-orang Aborigin yang banyak berkeliaran di kota ini, juga sedikit mempengaruhi mood kerja saya.

Yah.. mayoritas masyarakat Aborigin memang hidup menganggur. Di siang hari, mereka hanya duduk santai, sambil menikmati sinar matahari. Di malam hari, mereka juga santai sembari menenguk botol-botol berisi minuman beralkohol. Hal ini yang memicu tingginya angka kriminalitas, kekerasan pada anak-anak dibawah umur dan sebagainya.








Bagi saya, pemerintah Australia sudah banyak berbuat. Mereka memberikan basic card yang bisa digunakan untuk belanja sehari-hari secara cuma-Cuma, memberikan perumahan dengan sistim sewa murah, pendidikan dan sebagainya, tapi kehidupan para suku asli benua ini tidak juga berubah. Entah dimana yang salah. Mengutip kata-kata Kevin Rudd, memang pemerintah Australia telah berbuat banyak. Tapi mereka terlambat, mengantisipasi apa yang terjadi pada penghuni awal benua terkecil di dunia ini akibat ekspansi besar-besaran para imigran, selama puluhan tahun.

Hello Sydney…

Setelah berjibaku lahir dan bathin, menghadapi tugas yang berat, rekan kerja yang juga ga kalah berat, Jumat sore akhirnya saya tiba di SYDNEYYY…!!!! Huaaa.. seneng banget. Langsung hilang nih semua pegel dan kesel bisa berada di kota metropolis yang diisi beragam rupa, bahasa dan budaya ini. Hari pertama saya menginap di hotel Formule, tidak jauh dari bandara.

Tentu saya tidak menyia-nyiakan waktu untuk segera mengeksplorasi kota cantik ini. Namun sayang, karena banyak difasilitasi konsulat, kami termaksa memenuhi permintaan mereka untuk meliput sebuah pengajian orang-orang Indonesia disana. Fiuh, mau bagaimana lagi. Mereka sudah baik, mau membantu. Masa di minta tolong segini saja tidak mau. Lagipula, siapa tahu bisa buat nambah-nambahin materi. Yasudah, sebelum gila-gilaan Jumat malam di Sydney (cieehhh..) kami akhirnya, meliput pengajian dulu. Hehe..

Selang setengah jam meliputa pengajian tersebut (iyah lah, ngapain lama-lama hehe..), kami segera meluncur ke pusat kota Sydney. Apalagi, kalau bukan untuk bertemu dengan the phenomenal, Opera House!!! Sydney terasa sangat hidup di Jumat malam. Muda-mudi dengan pakai rapih, hilir mudik ditengah-tengah kemacetan. Yah kemacetan dimana-mana, tapi.. saya tetap menikmatinya.


















Nah.. ditengah euphoria bertemu si Opera House ini lah, si camera person tiba-tiba bertingkah. Menyulut amarah, untuk persoalan yang tidak seberapa. Akumulasi kekesalan saya selama ini, akhirnya pecah juga malam itu. Selama ini, saya sering mendapat wanti-wanti tentang makhluk ini. Mereka bilang, sifatnya ajaib. Ajaib bikin panas hati. Akhirnya saya mengalami sendiri. Dan Sydney seketika menjadi buruk rupa. Saya mengibarkan bendera perang. Tidak mau lagi berteman, dengan orang yang tidak tahu caranya berteman.

Perjalanan saya di Australia, sangat menyengkan. Saya suka tiap apartemen yang kami tempati. Saya bersyukur bertemu orang-orang yang banyak menolong dan baik hati. Saya tidak percaya, bisa menemukan pengalaman seperti ini. Tapi rekan kerja saya yang satu itu, benar-benar merusak segalanya.

Fiuh.. semoga saja ada kesempatan kedua bagi saya, untuk melihat Australia dalam kondisi yang lebih baik lagi. Amiinnn…

Monday, May 9, 2011

Huhu..

Finally, dua orang sahabat saya akhir tahun ini resmi berangkat ke Inggris. Mereka dapat beasiswa Chevening. Begitu dengar, saya langsung lemes. Sedih dan senang. I'm sooo happy for their both. Tiap hari denger curhat mereka soal mimpi. Tiap hari liat usaha mereka untuk meraih mimpi itu. Dan sekarang, cling... that dream coming true. Gilak yah...I'm living with super people.

Tapi tentu saya sedih. Karena pada dasarnya mimpi mereka adalah mimpi saya juga. Hanya bedanya, mereka serius mengejar, mungkin sampai ke negeri Cina. Sedangkan saya masih mengejar stok ASI dan deadline. Hehe... Yes, never ever think that I'm not happy with my life. I'm super happy. Nothing regrets. Rejeki ga mungkin salah kamar selama kita mau berusaha. Yah, saya hampir setahun ini dilimpahkan beragam rizki. Jusuf Abiyyu Daniswara, suami yang baik dan mencukupi semua kebutuhan saya dan pekerjaan yang memungkinkan saya melihat dunia.

Lalu kenapa sedih? Karena saya ingat lagi sama mimpi itu. Inget dulu terobsesi sampe kaya orang bego. Inget begitu banyak biaya dan waktu yang terbuang tapi ga berhasil-hasil. And the saddest part is, I gave up! huhu...

Ah sudah lah... ga usah dibahas lagi. Intinya sekali lagi, I'm happy for all of my best friends! U guys totally deserve to get it. And I probably the next. hehe.. AMIN!

Love you Pak Gentur and Baby Danis ;)

Thursday, February 24, 2011

we love you kid!














Waahhh… sepi banget nih blog. Ga ada yang punya yah? ;) Iyah nih, udah lama banget ngga ngeblog. Padahal banyak hal yang ingin saya tulis terutama 8 bulan terakhir ini when I officially being mother of handsome-baby, Jusuf Abbiyu Daniswara, hehe…

Yups, pengalaman saat mendengar kata pertama dia, pengalaman saat mulai tengkurap sendiri, mulai makan dan pengalaman saat sakit pertama kali yang bikin panic tujuh turunan, adalah pengalaman berharga yang ingin sekali saya abadikan. Syukur-syukur dibaca orang dan dijadikan referensi.

Soalnya saya sendiri menjadikan, pengalaman ibu-ibu yang saya temui melalui mesin mencari google, sebagai referensi dalam merawat dan membesarkan Danis. Habis gimana lagi, kalau sama Dokter bawaanya suuzon mulu. Hehe… Sudah ga keitung deh berapa kali saya ganti Dokter Spesialis Anak (DSA).

Tapi berkat ketengilan saya, alhamdulillah Danis baru kena obat setelah dia berumur 7 bulan. Itupun hanya Paracetamol (4 kali kasih) dan obat batuk (2 kali kasih) karena flu. Alhamdulillah juga, sampai saat ini Danis masih full ASI dan full home made Makanan Pendamping Asi. Walaupun badannya kurus dan diprotes DSA barunya, tapi ya sutra lah.. berat badanya sekarang masih normal kok dan yang penting anaknya sehat!

Sementara saya sendiri, semua tantangan dan cobaan dalam membesarkan Danis, Insya Allah membuat saya menjadi sosok baru yang Insya Allah lebih baik. Saya belajar untuk mengendalikan marah dan menjaga hati dari penyakit sirik dan dengki. Saya mencoba untuk tetep rendah diri, walaupun kadang kebablasan jadi ga percaya diri. Hihi… Saya mulai menghindari konflik, bukan karena saya tidak mahir memanagenya, tapi saya tidak mau ada yang sakit hati karena sikap keras saya.

Saya belajar untuk ikhlas, meski susahnya minta ampun. Ikhlas dalam mengerjakan apapun. Ihklas disuruh ini-itu, meski sering merasa diperlakukan tidak adil terutama dalam hal perkerjaan. Tapi hey… saya masih bekerja loh. Mendapat penghasilan dan berinteraksi dengan orang-orang hebat. Apalagi yang mesti saya keluhkan? Yaah.. walaupun kadang kesel juga sih jika pekerjaan tidak sesuai harapan. Tapi, hey… apa sih di dunia ini yang selalu sesuai dengan kemauan? Jadi buang-buang waktu, jika harus saya keluhkan.

Dari semua hal tersebut, tujuannya saya sebenarnya cuma satu, agar Danis tidak mewarisi sifat buruk saya dan suami. Agar Danis tumbuh menjadi pribadi yang baik dan menyejukan. Jadi, cukup hidung pesek saya saja yang dia tiru. ;)

We love you kid!

Thursday, November 4, 2010

Imajiner

Wawancara imajiner antara aku dan diri saya

A (aku) : Hallo mba.. apa kabar?

Saya (S) : Baik… terima kasih

A : Keluarga gimana mba? Katanya baru punya baby yah? (*basabasi nih ceritanya, sebelum nanya beneran)

S : Iyah, baru 4 bulan tanggal 2 kemarin. Alhamdulillah baby saya sehat. Semakin lincah. Cuma yah gitu.. mukanya suka brutusan. Sama kulit kepalanya juga. Kayanya alergi deh. Tapi ga tau alergi apa. Makan seafood sudah saya stop. Susu juga gituh. Kosmetik bayi mulai dikurangin. Padahal mandi sudah pakai Lac**cid, trus dikasih Swit**l cream, eh.. ga ngaruh tuh masih ada. Saya ganti pakai Sudo***eam, sesuai rekomendasi ibu-ibu, ga ngaruh juga. Huh.. pusing deh saya. Tapi ga papa deh, yang penting anaknya ga rewel dan sehat.

A : Ouww… gituh yah (*panjang bener jawabnyam padahal Cuma basa-basi gan)

S : Pusing deh saya. Kayanya terpaksa harus ke dokter spesialis alergi anak nih. Huhuhu.. padahal saya berjanji sama diri sendiri ga mau ke dokter, kecuali untuk imunisasi, kalo ga urgeenntt banget. Sebel, suka dikasih obat macem-macem. Tapi mau gimana lagi, masa baby mukanya ga mulus sih…

A : Yaudah mba, ga papa. Tapi masih ASI kan? (*tuh.. basabasi lagi nih)

S : Asi dunks… Insya Allah target setahun lah. Cuma Asi mba, makanan terbaik buat bayi dari usia 0 – 6 bulan. Selain itu, tidak boleh dikasih apa-apa. Apalagi susu formula. Karena bisa bikin diare, infeksi pencernaan dan alergi mba. Dikasih makanan padat juga ga boleh. Karena pencernaanya belum siap. Pokoknya harus 6 bulan pas.. baru deh dikasih solid food.

Makanya lagi giat pomping nih. Apalagi sekarang mulai kerja dan dapat program yang harus ninggalin dia lama-lama. Alhamdulillah banyak nih Asinya. Malah sempet donor buat temen dan saudara. Cuma yah gitu keselnya, ga berangkat-berangkat nihhh… padahal stok sudah banyak banget. ASI saya tuh tersebar dimana-mana. Ada di kulkas kantor, kulkas ibu saya. Huhu.. kesel ga berangkat-berangkat.

A : Loh memang kenapa ga berangkat-berangkat? (*Adooh.. ini kapan mulainya nih)

S : Susaaah mba narasumbernya. Belum ada yang confirm. Bekerja di tv seperti saya ini kan gitu mba. Semua harus fix. Apalagi program saya ini termasuk high-budget program. Phieww… gini deh tantanganya. Beda banget waktu saya dimedia cetak. Oiya, saya pernah kerja di cetak juga loh mba. Dicetak itu, semua bisa digambarkan hanya dengan kata-kata. Sementara di tv, mana bisaaa.. semua harus ada gambar dan gambar. Without it, you’re failed! Mungkin karena lebih susah itu kali yah, jadi begitu kelar, waduuuhh.. nikmatnyaaa minta ampun. Apalagi setelah ditayangkan trus dapat apresiasi OK, waahh.. itu nikmatnya seperti orgasme mba.

A : haha.. gituh yah… (*dengan senyum palsu dan pantat panas karena ga mulai-mulai wawancara)

S : Tapi jujur sih, saya juga kangen nulis. Senang bisa mengekspresikan segalanya dalam kata-kata. Karena ga lama dipakai, saya yakin kemampuan saya dibidang ini pasti sudah turun drastis. Menurut saya, menulis itu harus cerdas. Sementara di tv, kita tidak perlu cerdas. Yang penting hoki. Dan saya sekarang sedang mengutuk itu, karena lagi ga hoki-hoki. Hikss.. Eh btw, mba mau nanya apa yah..?

A : Ouw.. iyah mba (*langsung tersenyum sumringah). Mba kan kakanya Sjahbandi, pemain bola muda yang dapat beasiswa sekolah bola di klub raksasa Manchester United kan? Saya mau tanya-tanya soal adik mba. Memang dari kapan Bandi suka main bola mba?

S : Hah.. kata siapa saya kakaknya Sjahbandi? Saya kakanya Faldy Fachrial. Dia memang pemain bola, cuma di klub di Bekasi saja. Memang dia dapat beasiswa? Kok saya ga dikasih tau yah..

A : Waatttt dee.. FFF******KKKK…!!?!?!

Monday, November 1, 2010

Susu dan Kekuasaan

saya copas dari: http://aimi-asi.org/2010/11/susu-dan-kekuasaan/

By Sari Intan Kailaku on November 2nd, 2010

Benarkah menyusui adalah hal yang paling alami di dunia? Tidak di Indonesia, di mana perusahaan makanan bayi internasional bersaing memasarkan produknya dengan segala cara.

Oleh Tobias Zick

Bintik-bintik merah menghiasi dahi Zulfa, lengan kecilnya terkulai lemas, matanya terlihat sangat besar; beratnya hanya 4,5 kg – pada umur 8 bulan. Jelas ini merupakan kasus malnutrisi.
Sesaat setelah lahir, perawat memberi Zulfa susu formula; ibunya diberi satu kaleng susu formula untuk dibawa pulang. Sejak saat itu, dia berjuang mengumpulkan uang untuk membeli susu formula. Suaminya adalah penjahit dan bagian terbesar dari penghasilan mereka dihabiskan untuk membeli susu formula. Kadang mereka mencampurkan lebih banyak air daripada yang diinstruksikan.

Setelah beberapa lama, dia mencoba menyusui Zulfa, tapi tidak ada ASI yang keluar. Sering kali Zulfa sakit diare, muntah, infeksi saluran pernapasan – dan membuat orang tuanya sangat ketakutan. Akhirnya seorang tetangga merekomedasikan agar mereka pergi ke Layanan Kesehatan Cuma-Cuma di Rumah Sakit Islam dan mencari Dr. Asti, seorang ahli dalam hal tersebut.

Dr. Asti Praborini memutuskan untuk merawat sang ibu di rumah sakit selama 3 minggu dan mengatasi bingung puting yang dialami hingga dia bisa meyusui Zulfa. Sejak saat itu, kondisi bayinya sedikit demi sedikit membaik, diare tidak datang lagi, dan berat badannya naik. “Sering kali penyebab malnutrisi tidak bisa diketahui secara pasti”, jelas Dr. Asti, “tetapi kasus ini sangat jelas: Bayi tersebut adalah korban dari menyusu susu botol.”

Menurut UNICEF, setiap tahun 30.000 anak Indonesia meninggal karena tidak diberi ASI eksklusif selama 6 bulan. Sekitar 45% keluarga Indonesia tidak memiliki akses ke air bersih. Dan susu formula yang dibuat dengan air yang terkontaminasi dapat menghasilkan campuran mematikan. Daftar resikonya terhadap kesehatan panjang: malnutrisi, diare, infeksi saluran pernapasan, alergi, anemia. Sehingga World Health Organization (WHO) merekomendasikan secara global untuk memberikan ASI eksklusif di 6 bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun, denga memperkenalkan makanan padat secara bertahap.

Di Indonesia, sebagaimana banyak negara di dunia, rekomendasi ini hanyalah teori. Hanya 32% bayi di bawah usia 6 bulan yang diberi ASI eksklusif – yang angkanya terus menurun. Antara tahun 2002-2007, menurut UNICEF, persentasi bayi umur 2 bulan yang diberi ASI eksklusif menurun drastis, dari 64% menjadi 48,3%. Di saat yang sama, jumlah yang diberi susu formula meningkat.
Mengapa demikian? Menurut UNICEF, tantangan memberikan ASI termasuk “Yang tak kalah pentingnya adalah pemasaran secara agresif oleh perusahaan makanan bayi yang tidak hanya mempengaruhi para ibu, namun juga tenaga kesehatan profesional”.

Dr. Asti Praborini mengatakan, “Saya melihat kasus seperti Zulfa hampir setiap hari. Dan banyak yang tidak selamat. Dari pengalaman saya, saya bisa mengatakan bahwa menyusu susu botol bisa membunuh.”
Selama 30 tahun, dia telah berjuang melawan kurangnya informasi.
Dia bekerja di berbagai rumah sakit dan hampir di semua tempat, pertama kali dia masuk, hal yang dilihat adalah selasar dan bangsal penuh dengan iklan. Bayi baru lahir dirawat di “ruang bayi” dan diberi susu formula dari perusahaan yang “bekerja sama” dengan rumah sakit tersebut, misalnya dengan memberi dana kepada bidan dan dokter.

Berulang kali Dr. Asti Praborini melihat pasien yang mengatakan hal seperti ini, “Tapi iklan di TV mengatakan akan membuat bayi saya sehat, kenyang, dan pintar.” Atau, “Bidan bilang air susu saya tidak akan cukup untuk bayi saya.”

Dia mengambil tas kecil, mengeluarkan kelereng kecil, sarana ilustrasi untuk kasus seperti ini. Memegang kelereng di antara jempol dan telunjuk, dia menjelaskan:
Ini adalah besarnya lambung bayi anda begitu lahir – dan mereka mengatakan bahwa ASI anda tidak cukup untuk mengisi ini? Dia mengeluarkan kelereng yang agak lebih besar: ukuran lambung bayi setelah 3 hari. Bola tenis meja: ukuran lambung setelah 1 minggu.
“Tentu saja susu formula bisa berguna”, kata Dr. Asti, “dalam hal kelahiran prematur. Tapi tentunya bukan sebagai produk massal.”

Sebuah supermarket Carrefour di Jakarta: Dua rak tinggi terisi warna warni menarik dari berbagai perusahaan makanan bayi internasional; pramuniaga dari produsen Eropa dan Amerika tersenyum lebar: Nestlé, Frisian Flag, Numico, Wyeth, Abbott – semua ada di sana. “Mencukupi gizi bayi anda” tertulis di salah satu kemasan, menunjukkan untuk usia 0 hingga 6 bulan; “Mencukupi gizi bayi Anda”, tertulis di kemasan untuk bayi 6-12 bulan. “Formula Bayi untuk Perkembangan Otak dan Tubuh” janji sebuah produk lain untuk bayi 0 hingga 12 bulan, huruf-huruf “IQ” berkilau di kalengnya. “Gain school advance” adalah pesan mengikuti batasan umur tersebut. Terdapat formula untuk ibu hamil, ibu menyusui – dan bahkan untuk wanita mengenakan kerudung, dengan tambahan vitamin D untuk mengkompensasi kekurangan paparan sinar matahari.

Majalah Indonesia penuh dengan iklan susu formula, berikut di jalan-jalan utama Jakarta, anda melihat papan iklan besar, di bangsal bayi di rumah sakit terpampang logo perusahaan di dinding, kartu pasien, bahkan di kepala tempat tidur bayi.

Tetapi apa yang berlangsung dalam bayang-bayang bahkan lebih efektif. Di sebuah kedai kopi di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, kita bertemu Ibu Magdalena, seorang bidan, yang melihat 20 tahun sejarah pekerjaannya. Dia sudah melihat banyak pantai spektakuler di Asia: Thailand, Bali … dia juga sudah pernah ke Jepang, walaupun biasanya bidan tidak termasuk golongan berpenghasilan besar di Indonesia. Bagaimana dia bisa begitu?

Dengan mencapai target penjualan yang ditetapkan perusahaan susu formula, dia menjelaskan. Untuk rata-rata 20 paket per bulan, imbalannya adalah sebuah seminar, diikuti 4 hari liburan di pantai. Suatu kali, dia mengingat, 4 pesawat penuh bidan terbang ke Bali, atas undangan Numico. Mereka yang mencapai penjualan luar biasa bisa pergi ke Mekkah, dibayar oleh perusahaan. Kadang kompensasi tidak berbentuk perjalanan, tetapi uang tunai, penyejuk udara atau lemari es, baik untuk tempat kerjanya maupun rumahnya. Selama karirnya, Ibu Magdalena memberikan susu formula kepada ratusan bayi baru lahir. “Kini saya malu atas apa yang saya lakukan”, dia mengatakan. “Tapi saya melakukannya karena kurangnya pengetahuan.”

Dokumen yang diperoleh majalah kami menunjukkan cerita Ibu Magdalena bukan sebuah kasus tunggal. Sejak 2007, Numico telah menjadi bagian dari korporasi global Danone, berpusat di Paris. Permohonan majalah kami untuk sebuah pernyataan diteruskan oleh departemen komunikasi Danone ke Numico di Indonesia, yang juru bicaranya menjawab lewat e-mail, bahwa tidak membantah keberadaan sistem kompensasi penjualan untuk bidan dan merujuk pada keberhasilan program “pendidikan bidan” dari perusahaan, melalui “di 2010 kami akan mengirim 30.000 bidan ke seminar dan lokakarya. (…) Keunggulannya adalah kemampuan ini akan diteruskan dari bidan ke ibu melalui pelayanan dan pedidikan yang lebih baik.” Lebih lanjut, juru bicara tersebut mengatakan, “Di 2010, kami memiliki lebih dari 200 proyek di Indonesia. Kami menelusuri dampak proyek terhadap angka kematian ibu dan bayi.”

Untuk memahami dimensi dari pasar susu bubuk dunia, kita perlu melihat jauh ke belakang – pada tahun 1867, saat Heinrich Nestle, seorang apoteker dari Frankfurt, Jerman, yang saat itu tinggal di Swiss, dari keterbatasan uang dan improvisasi menemukan apa yang ia sebut “Kindermehl” (makanan anak-Red). Sebelum itu, ia telah berusaha menghasilkan uang dengan menjual limun dan gas cair – kedua usaha tersebut gagal. Namun, Kindermehl ternyata menjadi terobosan baginya, walaupun, menurut sejarah perusahaan, ia tetap berperilaku sederhana: “Penemuan saya bukanlah temuan baru tapi merupakan implementasi yang tepat dan rasional dari bahan-bahan yang telah lama diketahui sumber nutrisi yang baik untuk anak: susu, roti dan gula dari kualitas terbaik adalah bahan utamanya.”

Kindermehl mendorong perkembangan perusahaan Nestle dengan sangat cepat hingga menjadi korporat global. “Dalam waktu singkat, ia menunjukkan bakat dalam pemikiran strategi pemasaran”, kata sejarah perusahaan mengenai Heinrich Nestle. “Dalam 7 tahun, ia telah menjual 1,6 juta kaleng Kindermehl di 18 negara di seluruh benua.”

Kritikan atas kesuksesan dan ekspansifnya kebijakan perusahaan pertama kali muncul pada 1975 dalam film pendek ”Bottle Babies” oleh pembuat film dokumenter Peter Krieg. Adegan pertama menunjukkan seorang ibu asal Kenya menggendong bayinya yang sedang menangis ke rumah sakit. Suara dokter menyebutkan gejala-gejalanya: diare, muntah, takikardia (denyut jantung cepat-Red), apnea (nafas berhenti tiba-tiba). Anak tersebut sedang di ambang kematian akibat malnutrisi – setelah sang ibu mengikuti, bukannya menyusui, pesan iklan susu formula yang ada dimana-mana. Film tersebut menunjukkan contoh dari pemasaran secara agresif oleh perusahaan: hadiah sampel didistribusikan di rumah sakit-rumah sakit, hadiah promosional untuk dokter dan bidan, siaran radio dengan slogan: “Susu bubuk milik kaum kulit putih yang membuat bayi Anda tumbuh cerdas dan cemerlang”.

NGO dari Swiss “Aktionsgruppe Dritte Welt” menerbitkan sebuah laporan berjudul: “Nestle membunuh bayi-bayi”. Nestle dengan sukses melakukan perlawanan hukum terhadap publikasi itu, namun dugaan-dugaan terus berlanjut, dan kampanye boikot terhadap Nestle bermunculan di seluruh dunia.

Pada 1981, World Health Assembly mengadopsi Kode Internasional yang dengan tegas mengatur pemasaran dan promosi pengganti Air Susu Ibu: melarang promosi kepada masyarakat umum, melarang promosi melalui fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan, dan melarang pelabelan yang menyesatkan.

Namun, saat ini International Baby Food Action Network (IBFAN) secara periodik masih menerbitkan laporan-laporan pelanggaran terhadap Kode WHO. Kritik-kritik menyebutkan analogi dengan industri rokok: membantah hasil penelitian ilmiah, selalu menemukan celah untuk menghindari pembatasan oleh hukum. Pada 1999, direktur eksekutif UNICEF pada saat itu, menyatakan: “Siapapun yang membuat klaim tentang susu formula untuk bayi yang dengan sengaja merusak keyakinan wanita untuk menyusui tidak pantas dianggap sebagai pengusaha cerdas yang hanya sedang melakukan pekerjaannya, namun sebagai pelanggar hak asasi manusia yang paling buruk.”

Nestle, yang seringkali menjadi sorotan kritik IBFAN, secara rutin menerbitkan laporannya sendiri mengenai berbagai dugaan. Pada banyak kasus, perusahaan menegaskan bahwa tuduhan tersebut “tidak beralasan”, seringkali berurusan dengan produk-produk yang “tidak termasuk dalam Kode, seperti makanan pendamping untuk bayi berusia 6 bulan.” Di situsnya, Nestle menyatakan: “Kami mengikuti langkah-langkah pemerintah nasional menerapkan Kode WHO di semua negara di seluruh dunia.”

Saat ini Nestle sudah menjadi salah satu dari banyak perusahaan yang berjuang untuk mendapatkan bagian pemasaran di pasar yang sedang tumbuh di Afrika dan Asia. Numico, contohnya, adalah pemegang pasar terbesar di Indonesia, negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia. Menurut dokumen yang berhasil kami himpun, Numico Indonesia berencana untuk “secara agresif meningkatkan cakupan dan distribusi”. Salah satu target yang telah dicanangkan adalah “memperkuat Tim Medis untuk memperluas cakupan petugas kesehatan dan rumah sakit”. Dalam segmen “premium dan standar”, perusahaan ini akan berfokus pada dokter; sedangkan pada segmen “ekonomi”, bidan menjadi fokusnya.

Berdasarkan analisis pasar mendalam yang terakhir oleh UNICEF pada 2006, semua perusahaan susu formula di pasar Indonesia telah melanggar Kode WHO. Namun, Indonesia hanya satu contoh menonjol dari masalah yang global. Wilayah konflik, khususnya, menjadi arena pemasaran yang disukai oleh perusahaan barat – karena pada wilayah-wilayah tersebut, dalam hal hukum dan pengendalian, kekacauan secara luas masih terjadi. Di Afghanistan, sebuah perusahaan Eropa dapat mengiklankan susu bubuknya di televisi dengan “bermutu tinggi untuk bayi Anda sejak lahir.” Seorang aktor terkenal muncul di acara TV sebagai duta dari pesan tersebut. Afghanistan merupakan salah satu negara dengan angka kematian bayi tertinggi di dunia, yaitu 151 bayi dari setiap 1000 kelahiran.

Saat Diba Jafar (30), seorang ibu dari Jakarta, sedang hamil, ia mengedukasi dirinya sendiri mengenai nutrisi bayi, menyusui dan hal-hal terkait melalui internet. Ia menemukan rekomendasi dan tatalaksana yang dikeluarkan oleh WHO dan UNICEF tentang menyusui eksklusif. Namun, kemanapun dia pergi di Jakarta, dia menemukan yang sebaliknya.

Di rumah sakit dimana ia melahirkan putranya, Rafa, semua bayi baru lahir segera dibawa ke ”kamar bayi”oleh perawat, dua lantai di bawah kamar ibu, dimana perawat kemudian memberi bayi-bayi susu formula dengan menggunakan botol. Diba berkeras ingin menyusui bayinya, bahkan melewatkan beberapa malam duduk di sebuah kursi plastik kecil di dalam kamar bayi dan menempelkan kertas bertuliskan ”ASI Eksklusif!” di tempat tidur Rafa.

Beberapa bulan kemudian, Diba duduk bersama dengan beberapa ibu muda lain. Mereka menemukan bahwa mereka semua menghadapi masalah yang sama: nyaris tidak ada informasi dari petugas di rumah sakit mengenai menyusui, dan harus berjuang terus menerus melawan perawat dan bidan yang menjaga bayi mereka di kamar bayi, yang hanya mengizinkan mereka untuk menyusui pada jadwal tertentu.

Diba dan teman-temannya mendirikan sebuah jaringan, AIMI, untuk membantu menyediakan informasi bagi para ibu. Dalam beberapa minggu pertama, mereka menerima ratusan telepon dan email dari para ibu yang membutuhkan saran…sehingga mereka sadar bahwa jelas sekali ada yang salah di negara ini. Mereka memperluas organisasinya, dan saat ini mereka tidak hanya mengadakan pelatihan dan menyediakan informasi mengenai menyusui, namun juga memberikan advis hukum, memantau Kode, melobi dukungan untuk menyusui dan membuat draf rekomendasi untuk Kementerian Kesehatan. ”Jika para ibu tahu hak mereka,”, kata Diba, ”mereka bisa bersikeras untuk mendapatkannya. Masalahnya adalah, banyak yang belum tahu haknya.”

Kesuksesan AIMI menimbulkan harapan – tapi apakah akan cukup untuk mengubah berbagai hal secara prinsip di negara yang besar seperti Indonesia?

Untuk mengubah keadaan, seringkali perlu pukulan keras. Untuk Bidan Budi, pukulan keras itu terjadi pada bulan Mei 2006. Terjadi gempa di kota tempat tinggalnya, Klaten, Jawa Tengah; dekat letusan gunung berapi Merapi; enam ribu orang meninggal, dan empat puluh ribu orang terluka. Salah satu bantuan yang datang dari segala penjuru dunia adalah berton-ton susu bubuk, yang didistribusikan secara tidak terkoordinasi. Bahkan ibu yang tadinya menyusui mulai memberi bayinya susu formula. Dalam waktu singkat sejumlah besar bayi menderita diare berat – karena bencana, air disana telah sangat tercemar.

UNICEF menggelar program pelatihan untuk bidan mengenai manfaat dan teknik menyusui eksklusif. Mulanya Bidan Budi curiga: caranya bekerja selama dua puluh tahun tiba-tiba dinyatakan salah? Lalu datanglah saat itu, apa yang ia sebut sebagai ”momen pencerahan”. Ia melihat seorang bayi yang baru lahir, berbaring di atas dada ibunya dan kurang dari setengah jam setelah lahir bayi itu mulai merangkak menuju payudara dan mulai menghisap, persis seperti telah diprediksikan pada bagian teori di seminar tersebut. ”Itu seperti pertanda dari Tuhan”, katanya, ”saat itu saya sadar: selama dua puluh tahun, karena ketidakpedulian, saya telah mempertaruhkan kesehatan anak-anak.”

Pemerintah Klaten telah menerapkan peraturan regional dimana siapa saja yang menghambat dan membatasi seorang ibu untuk mendapatkan hak dasarnya untuk menyusui dapat dituntut karena melakukan perbuatan kriminal.

Rony Rukmito, Kepala Dinas Kesehatan Klaten, menceritakan bahwa tidak lama setelah penerapan peraturan baru tersebut, dua wakil dari perusahaan susu formula bayi datang padanya dan bertanya berapa jumlah uang yang ia inginkan agar ia mau mencabut peraturan itu. ”Saya katakan pada mereka”, ingatnya, ”kami harus memulai kampanye yang sukses demi kesehatan anak-anak kami, tolong jangan rusak itu.”
Perundang-undangan regional Klaten dapat menjadi contoh bagi perundang-undangan nasional di masa depan. Pemerintah Indonesia telah mengadakan sidang bersama sebuah panel berisi para ahli untuk menyusun draf perundang-undangan yang lebih ramah pada kegiatan menyusui. Diba Jafar dan rekan-rekannya di AIMI menjadi bagian dari panel tersebut. Sementara itu, UNICEF melakukan pengkajian yang membantah argumen para pelobi bahwa industri makanan bayi menciptakan lapangan pekerjaan yang besar: Menurut temuan-temuan pertama dari analisis UNICEF, manfaat yang didapat oleh tenaga kerja Indonesia adalah minimal, karena susu bubuk diimpor dari luar negeri dan dikemas secara otomatis di Indonesia.

Saat ini, sinar harapan meningkat: Menteri Kesehatan telah mengumumkan bahwa masalah gizi bayi adalah satu dari dua prioritas utama – bersama industri tembakau.

Namun, Kementerian Kesehatan seperti biasa harus berjuang dengan persaingan kepentingan, bahkan dengan kabinetnya sendiri. Baru-baru ini, misalnya, Nestle mengumumkan bahwa mereka sedang melipatgandakan kapasitas pengolahan susu mereka di Indonesia dan telah meresmikan pabrik barunya di Jakarta. Berdiri di baris paling depan pada acara pengguntingan pita: Menteri Ekonomi.

Categories: Informasi
Tags: ASI, features, Kode Internasional Pemasaran Makanan Pengganti ASI, Pelanggaran Kode, susu formula