I could stay at home, but I prefer to work because I wanna teach my kids nothing in life comes easy ...
Thursday, February 4, 2010
Fatty ...
Hehe.. lucu yah. Bener juga. Presiden kok kerjaanya curhat mulu, ngeluh mulu. Dan kebencian saya terhadap sosok orang satu negeri ini, semakin menjadi-jadi. Memang sih, Indonesia itu kompleks banget. But you just like a looser if you keep complaining all the time. Come on… U’re President. Use you power to make everything better. And there will no any excuse for your complaining because this is your second chance. Wake up, fatty…
Huhu.. semoga kebencian ini tidak membawa dampak buruk buat my baby. Huhu..
Hmm.. Btw, syukur deh GM masih kritis. Padahal dia tim sukses si susi juga bukan?
Hmm…
Hmm...
Hmmm.. baik-baik selalu yah kamu disana.
Monday, January 25, 2010
curhat dikit
Sekarang, kantor tidak membebankan pekerjaan seberat dulu lagi. Malah menurut saya, nyaris tanpa aktivitas yang berarti. Terkadang saya merasa, ini seperti hukuman. Karena berkali-kali, entah itu Produser maupun Eksekutif Produser seperti menyayangkan kehamilan saya. Sebab menurut mereka, program yang saya megang saat itu meskipun baru namun sudah menunjukan penerimaan yang relatif bagus dari penonton jika melihat rating dan share yang memang merupakan indikator dari respon masyarakat terhadap sebuah program.
Namun semenjak posisi saya (sebagai host) digantikan, kejayaan program itu seolah turun begitu saja. Bos-bos diatas dengan begitu yakin menganggap hal ini terjadi karena posisi saya digantikan oleh orang lain. Padahal pengganti saya, sudah jauh lebih senior dan berpengalaman sebagai host. Tapi masalahnya, dia pria! Dan itu yang dipercaya para bos sebagai penyebab kejatuhan program kami..
Entah apa karena saya yang sedang sensitif atau bagaimana, tapi saya merasa ‘ketidaksukaan’ mereka dengan kehamilan saya memang benar adanya. Hal ini terbukti ketika salah satu pimpinan mengatakannya langsung ditengah-tengah Rapat Kerja divisi dan di dengar langsung oleh puluhan orang yang mengikuti raker tersebut.
Memang ada sedikit rasa bangga ketika Ia mengatakan, bahwa program kami itu berjalan dengan baik ketika saya masih dapat bertugas dan tidak lagi saat orang lain yang mengerjakan. Tapi kenapa masalah kehamilan ini harus diungkapkan berkali-kali sih.. Diumumkan pula.
Kegundahan saya sedikit terobati kala hipotesa para bos-bos tadi dipatahkan oleh atasan mereka sendiri. ”Intinya Kreatifitas!!! Bukan semata-mata faktor Host,” begitu kata mereka.
Huh… saya tidak tahu harus berkata apa saat ini. Rasanya, tidak mau berpikir yang buruk-buruk karena takut berdampak buruk juga ke janin saya.” Tapi saya sudah berkali-kali mengatakan bahwa, ”saya masih kuat kok untuk bekerja seperti biasa. Tentu dengan intensitasi yang sedikit berkurang. Misalnya seperti membantu program lain untuk meliput di Jakarta saja. Tapi permintaan itu tidak diluluskan, padahal yang minat dengan tenaga saya cukup banyak mengingat minimnya SDM disini.
Tapi ya sudah lah, sekarang saya coba untuk nikmati saja. Toh tidak ada ruginya juga. Saya tetap digaji seperti biasa (minus tunjangan liputan tentunya) dan saya bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya agak susah saya lakukan dengan ritme kerja yang gila-gilaan. Hanya saja masalahnya sekarang adalah, MALAS..!!! Hal ini yang benar-benar harus saya cari jalan keluarnya. Huh...
Monday, November 9, 2009
Selalu Gagal
“Unfortunately we regret to inform you that we cannot process your application due to the reason that you did not meet either academic requirements or other standards as set by the scholarship programme…”
Hmm.. entah berapa kali saya menerima email penolakan seperti ini. Padahal sama seperti usaha -usaha sebelumnya, usaha saya kali ini sudah sepenuh hati. Tapi masih saja berbuah penolakan. Bahkan untuk usaha kemarin, saya sampai mengorbankan waktu lebaran bersama keluarga juga meninggalkan suami yang saat itu tengah berduka karena ditinggal Bunda. Uuuppmff… harus seperti apa lagi yah saya berusaha?
Memang saya sangat lemah untuk salah satu item persyaratan, B. Inggris. Tidak memenuhi standarisasi mereka. Tapi jika saya sedikit boleh sombong, saya pikir di beberapa item persyaratan lainnya sudah cukup memenuhi. Huh.. memang tidak boleh ya, sedikit saja melonggarkan persyaratan yang ada?
Saya sudah mencoba segala cara untuk memperbaiki bahasa inggris saya. Tapi kok, rasanya masih saja jauh dari harapan. Apa saya yang memang bodoh? Atau metode belajar yang salah? Atau mimpi saya yang terlalu tinggi hingga sulit untuk diraih?
Kecewa, sedih dan merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa. Hmm.. lalu sampai berapa kali yah, saya harus mencoba? Tuhan, mohon untuk dijawab segera.
Sunday, November 8, 2009
Punya baby
Saturday, July 25, 2009
Tentang Pilihan
Mereka sebal menjadi orang yang kalah karena pilihan mereka (yang sebenarnya juga bukan pilihan mereka) kalah. Tapi intinya, mereka gundah karena menjadi sosok yang beda, tidak mengikuti trend dan sebagainya.
Bagi saya, tidak ada yang salah dari pilihan saya meski kalah. Dan saya terenyuh ketika membaca tulisan seorang tokoh yang begitu meyakini pilihannya benar meski kalah. Karena bagi saya (atau mungkin dia), kekuasaan cenderung korup apalagi jika dibiarkan terlalu lama dipundak orang yang sama.
Tapi mengutip tokoh tadi, saya hanya bisa bilang : Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global…
---------
Mengapa JK Saya Promosikan?
Sabtu, 25 Juli 2009 | 04:48 WIB
Ahmad Syafii Maarif
Dalam kultur demokrasi yang kita perjuangkan agar kian sehat, kuat, dan bersih, mungkin tidak ada salahnya menyampaikan ”rahasia” dapur politik pribadi.
Pada putaran pertama Pilpres 2004, saya memilih Amien Rais-Siswono. Mereka saya pandang akan melakukan perubahan politik yang lebih berpihak kepada rakyat, tidak membungkuk kepada asing. Pilihan itu saya nilai benar meski kalah—posisi nomor empat, di atas Hamzah Haz-Agum Gumelar—karena aneka faktor.
Meski Amien Rais-Siswono menjadi pilihan saya, kekalahan ini tidak mengagetkan meski menyisakan perasan tak sedap. Setelah Amien Rais kandas, untuk beberapa lama, merasa tak nyaman melihat saya. Tim suksesnya menduga, saya tidak mendukung sepenuh hati.
Dalam posisi sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya tidak mungkin melangkah lebih jauh. Perkara ada pihak yang tidak nyaman, biarlah itu menjadi simpanan dalam memori masing-masing. Saya menerima semuanya dengan perasaan biasa.
Rindu Indonesia sejahtera
Jika melihat hasil pertarungan politik beberapa tahun terakhir, saya sadar tidak punya pengaruh signifikan dalam pemilu legislatif dan pilpres. Karena itu, jangan memandang saya sebagai warga penting di republik ini. Saya adalah seorang warga sepuh yang amat merindukan Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat penuh. Jika saya kadang terkesan mengeluarkan pernyataan bernuansa politik, itu karena kecintaan saya kepada bangsa dan negara ini agar cepat keluar dari belenggu ketidakpastian.
Bisa saja pernyataan semacam itu dinilai kurang arif. Itu risiko yang harus saya terima. Di dunia politik, orang tidak jarang memberi tafsiran saling berlawanan, bahkan tafsiran liar. Saya ingin, pemimpin puncak Indonesia modern adalah pribadi yang teguh, berani, tegas, tidak peragu. Pertimbangan inilah yang sering memaksa saya untuk tidak diam.
Soal JK
Kembali ke Pilpres 2004. Karena pilihan saya kandas dalam ronde pertama, pasangan yang akan bertarung 20 September 2004 adalah Mega-Hasyim versus SBY-JK. Lagi-lagi karena ingin perubahan, saya beralih ke pasangan SBY-JK meski hubungan baik dengan Mega-Hasyim tetap terjaga.
Kepala BIN Syamsir Siregar bersama pengusaha Rusdi Latif malah mengajak saya ke Aceh untuk sekadar membaca peta meski sebenarnya telah terjadi kampanye terselubung. Di Aceh saya tidak menganjurkan untuk memilih pasangan yang mana, tetapi karena bersama rombongan BIN, orang tentu akan memberi tafsiran tersendiri.
Sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya berusaha netral, tetapi amat sulit. Sebagaimana dimaklumi, SBY-JK memenangi Pilpres 2004. KPU yang dibentuk di bawah pemerintahan Mega-Hamzah, meski belakangan menyisakan masalah hukum, telah bekerja profesional. Hampir tidak ada protes atas kinerja KPU dalam Pileg/Pilpres 2004.
Dengan latar belakang itu, mengapa pada Pilpres 2009 saya mempromosikan JK berpasangan dengan Wiranto? Tentu dengan kelebihan dan kekurangannya. Mohon maaf jika saya tidak pernah simpati kepada Golkar meski JK ketua umumnya. Saya memilih JK berdasar jejak rekam dan kiprahnya dalam politik kebangsaan selama 10 tahun terakhir, yang saya nilai positif dan berani. Seandainya JK lahir di Jawa, Kalimantan, atau Ende, tetapi dengan jejak rekam yang sama, saya tetap memilihnya.
Jadi, tidak ada hubungan dengan jargon Jawa-luar Jawa, hal yang sudah lebur dalam kemasan keindonesiaan saya. Tentang jejak rekam JK, banyak dibongkar, bertalian dengan proses perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh, gertakan terhadap IMF yang ingin mendikte Indonesia, atau beberapa kebijakan publik yang kontroversial. Faktanya jelas. Para penulis sejarah politik kebangsaan pasti akan bermunculan untuk mengenal lebih jauh sosok JK meski dia gagal menjadi presiden ke-7 Indonesia.
Sebenarnya, baru belakangan JK menyatakan siap dicalonkan menjadi presiden karena desakan berbagai situasi, bukan diarsiteki lebih dini. Jika dirancang sejak dua tahun sebelumnya, strategi akan lebih matang meski Golkar tidak sepenuh hati mendukung.
Ketika sekitar dua tahun lalu saya katakan kepada JK agar berpikir untuk maju sebagai capres, isyarat yang terlihat adalah ”geleng”, bukan ”angguk”. Artinya, sejak mula JK tidak pernah bermimpi menjadi presiden. Maka, kekalahannya secara kesatria dapat dipahami, karena tidak ingin menjadi presiden.
Namun, jika hoki, saya percaya Indonesia akan berubah ke arah lebih baik dan bermartabat dalam tempo cepat. Seandainya ada putaran kedua dan yang lolos pasangan SBY-Boediono versus Mega-Prabowo, demi perubahan, pilihan saya jatuh kepada Mega-Prabowo, dengan segala catatan kaki terhadap mereka.
Tak menyesal
Meski terempas, saya tak menyesal telah mendukung JK-Wiranto karena negeri ini memerlukan pemimpin nasional yang tangguh dan sigap, kualitas yang terlihat pada pasangan itu.
Dalam pertimbangan serupa, saya berharap agar pemilih pasangan SBY-Boediono jangan menyesal jika janji-janji tidak menjadi kenyataan, kemiskinan tetap mendera bangsa ini.
Kekalahan JK tidak perlu ditangisi sebab sejarah akan mencatat, dalam Pilpres 2009 demokrasi Indonesia masih terpukau bentuk, bukan jejak rekam substansial seseorang.
Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global.
Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04481387/mengapa.jk.saya.promosikan