Monday, May 25, 2009

Hey … Meita, mengapa kamu tidak pernah menulis lagi?

Hey … Meita, mengapa kamu tidak pernah menulis lagi? Hmmm… Iyah, lama banget yah saya tidak menulis. Sepertinya sudah mulai lupa bagaimana caranya merangkai kata-kata. Ga tau kenapa, mungkin karena hidup saya yang mulai ‘templete’. Gampang diterka, selanjutnya apa. Singkat kata, terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Dan semua soal politik dan politik dan politik lagi. Huh … saya jenuh!!!  

Memang beberapa waktu lalu Produser saya sudah menawarkan untuk menggarap program lain. Wow senengnya minta ampun. Tapi sepertinya dia setengah hati. Karena tiap hari masih saja saya diajak berdiskusi dan menanyakan siapa narasumber berikutnya. Huhuhu …  
Sebenarnya saya senang dengan apa yang saya lakukan. Tapi wajar saja kalau saya merasa bosan dan sekarang berada pada titik akumulasi tertinggi. Butuh suasana baru, sehingga kreatifitas tidak buntu. Seperti sekarang ini nih, huhuhu …  

Tapi sebenarnya lagi, saya juga sudah muak dengan prilaku elit politik kita. Pragmatis dan pathethic. Entah kenapa saya sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa dalam pemilu Legislatif kemarin hampir seluruh partai politik peserta Pemilu melakukan kecurangan. 
Hanya disini, kecurangan tersebut dilakukan dengan cantik dan apik serta terbalut system oleh Partai Demokrat sehingga suaranya bisa melonjak hingga sekitar 300 persen.  

Hmmm .. memang sih, ini hanya sekedar asumsi saya. Terutama setelah berbincang dengan salah-satu praktisi politik kenamaan tanah air, Denny JA. Dia bilang, bagaimanapun juga akan sulit mengalahkan incumbent. Sebab menurutnya, orang yang berada di lingkaran kekuasaan akan lebih mudah memenangkan pertarungan. “Yah misalnya pembagian Bantuan Langsung Tunai yang dilakukan beberapa minggu sebelum hari pencontrengan,” begitu katanya.  

Tapi ya sudah lah, sudah lewat juga. Sekarang saatnya melihat Pilpres. Masih asumsi saya, sepertinya Indonesia sedang krisis tokoh. Coba diantara kandidat yang ada, kok tidak ada yah yang bisa menggoda saya untuk mencontreng mereka. Walaupun katanya popularitas salah satu kandidat, Pak Beye, cukup tinggi, tetap saja bagi saya tidak ada apa-apanya. Kita sudah lihat lah bagaimana cara dia memimpin, apa saja pencapain yang sudah diraih. Dan lagi-lagi menurut saya tidak ada yang fenomenal. Lalu kenapa kita harus memilih dia lagi? Kenapa tidak dikasih kesempatan orang lain untuk memimpin. Hmm .... yah itu dia, karena memang tidak ada yang bisa dipilih lagi.  

Masih menurut Denny JA, dari survey yang lembaganya lakukan beberapa waktu, tingkat popularitas Pak Beye memang tinggi. Tapi dalam salah satu klausal yang ditanyakan kepada masyarakat, ternyata yang pro perubahan jauh lebih tinggi daripada pro status quo. Dari situ saya bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat memilih Pak Beye karena memang tidak ada pilihan lain.  

Siapa coba dari ketiga kandidat yang kira-kira membawa perubahan? Megawati..? Ya ampun, bukannya mau mengunderestimate putrid Proklamator ini. Tapi kita bisa lihat bagaimana dia ketika memaparkan visi misi ekonomi di Depan Kadin. Ditanya apa, dijawab apa.  
Lalu JK, hmmm… honestly, I like this guy. But don’t you think he too old to being our leader? Jika dia tidak menggandeng Wiranto, bukan saya akan sedikit berpikir untuk memilih Pak tua.  
Bagaimana dengan pak Prabowo? Saya juga sedikit suka dia. Bukan karena saya pernah mewawancarainya, tapi saya tergoda dengan iklan-iklan politiknya. Terasa konkrit dan menggunakan angka dan data-data (two tumbs up buat konsultannya). Tapi saya tidak suka dengan karakternya yang tempramen dan masa lalu dia yang berdarah-darah itu (walaupun saya tahu, siapa Jendral di negeri ini yang ketika berkuasa pada saat Orde Baru tangannya tidak berdarah-darah?).  

Kalau Boediono, waduuhhh… no comment deh. Saya tidak tahu apa-apa soal dia. Tapi dengan keputusan Pak Beye menarik dia sebagai Cawapres seolah-olah menunjukan kepada asing bahwa Esbeye tidak tunduk atau ditekan oleh Partai Islam. (Ingat, Islam saat ini menjadi kekuatan yang dinilai 'mengancam' asing dan partai Islam banyak yang merapat ke Demokrat. Sementara dimata saya, Esbeye sangat ramah terhadap Asing, dalam hal ini Amerika).

Karena itu menurut praktisi Intelejen yang juga anggota DPR, Soeripto mengatakan, Pilpres nanti harus diselesaikan dalam satu putaranya saja (saya tidak tahu kenapa dia mengatakan ini. Hmm.. apa karena PKS mendukung Pak Beye?). Karena jika sampai dua putaran, dia khawatir akan terjadi chaos yang bisa saja lebih dahsyat dari ’98. “Mereka sama-sama terobesesi untuk berkuasa. Dan ingat juga, ini pertarungan antar Para Bintang,” terang Soeripto.  

Yaaah… begitu lah. Lihat saja nanti. Yang penting sekarang, saya siap-siap saja buat mengerjakan program baru. Hmm… Jalan-jalaaaannn. =’)  


Ps : tulisan ini murni pendapat pribadi. Tanpa tendensi apa-apa.

Thursday, April 2, 2009

Bahagia


Seusai menjalankan tugas, saya dan tim mendapat sedikit kejutan dari narasumber yang menjadi tamu program kami beberapa waktu lalu. Ia menghadiahkan kami sejumlah buku plus tanda tangan dan sebaris pesan mencerahkan. Untuk dua kameramen dan satu anak magang yang merupakan bagian dari tim kami, ia menuliskan pesan yang sama: “Semoga sukses, bla…bla…bla…,” begitu sebutnya.


Lalu tiba giliran saya. Ada sedikit jeda. Narasumber saya tadi tidak serta merta menuliskan pesan yang sama seperti pada rekan-rekan saya lainnya. “Kalau untuk kamu, pesannya apa yah meita,..?” tanyanya yang seolah ditujukan pada dirinya sendiri. Dan sejurus kemudian ia berujar sembari mulai menorehkan tinta penanya di buku yang akan diberikan kepada saya. “Untuk meita, semoga bahagia…..”


Kening saya berkerut penuh tanda tanya. Seakan menangkap segala kebingungan saya, ia pun langsung berkata …. “Kamu tahu meita, wanita itu harus bahagia. Jika ternyata dia juga sukses, itu bonus. Tapi pria itu harus sukses. Dan jika dia bahagia, itu bonus….”


Hmmm…. Bener banget pak. Saya ingin bahagia.


Itu saja… =’)




meita annissa

Wednesday, December 10, 2008

Kompromi

Sebuah pesan singkat masuk menjelang pukul tujuh pagi ini. Saat saya berusaha mengalahkan kantuk karena baru terlelap menjelang subuh dan menahan amarah karena janji yang telah dibuat dengan seorang rekan kerja tertunda hingga dua jam kedepan. Sebuah pesan singkat yang menyejukan sekaligus membuat saya tambah pusing saja. Pesan itu dari seorang sahabat yang meski tengah sibuk dengan urusan pernikahannya akhir pekan ini, namun masih sempat meluangkan waktu untuk memberi solusi atas sebuah persoalan diri.


Pesan itu berisi ajakan untuk belajar lebih berkompromi. Terhadap hidup, terutama dalam sebuah hubungan. “Lo tolong buka blog gw, lita di list artikel kiri atas, klik tulisan ‘titik temu’” begitu ucapnya diakhir pesan.


Untuk beberapa hal, saya punya banyak kesamaan dengan sahabat saya ini. Pun dari cara pandang dan dalam memaknai sebuah permasalahan, kita tidak jauh beda. Termasuk dalam hal yang satu ini : kompromi.


Dia bilang berkompromi adalah “Saat saya mengurangi kemauan saya dan dia menambah upaya untuk memenuhi keinginan saya. Ketika dia sedikit mengabaikan kepentinganya dan saya berusaha untuk selalu memahaminya.” Ok , dalam tataran wacana teori teman saya ini mungkin terdengar hampir sempurna. Tapi toh pada kenyataanya, terutama apa yang saya alami sekarang teori tersebut mentah begitu saja.


Tapi saya sadari, persoalan utama yang masih mengganjal adalah bagaimana mengenyampingkan ego dan menyadari bahwa perbedaan tidak harus disikapi secara frontal. Sayangnya bagi saya, ketika bicara soal masa depan sikap kompromis perlu sedikit dikesampingkan. Mungkin di satu sisi saya bisa menerima perbedaan tadi. Memahami berbagai kekurangan yang dimiliki. Tapi lagi-lagi jika bersentuhan dengan masa depan, maka saya akan menuntut sampai kapan saya harus menjadi seorang kompromis? Sementara disatu sisi, usaha menuju perubahan-yang saya nilai baik untuk masa depan, tidak dilakukan.


Untuk pertanyaan tadi, teman saya punya jawabanya. Ia bilang, hubungan dua manusia tidak sama dengan dagang, dimana satu barang harus ditukar dengan barang lain yang nilainya setara. “Jika kita punya cabe, sementara yang orang butuhkan adalah kecap, kita tak harus memaksakan diri menyerahkan cabe untuk mengganti roti yang telah dia berikan. Dia juga tidak perlu memaksakan diri makan gudeg (sahabat saya ini orang jawa) meski saya telah belajar makan konro (calon suaminya orang makassar). Ada kalanya saya dan dia membiarkan sesuatu apa adanya, tanpa harus ditambah atau dikurangi agar berada di titik tengah.”


Tentu saya setuju dengan pernyataan teman saya tadi. Terlebih dalam argumenya kali ini, dia memberi catatan dimana saya pun berpikir demikian: “Standar baku untuk cowok itu hanya dua aja kok met: tanggung jawab & mau berusaha” ucapnya. Lalu dengan hanya menggantongi dua standar baku tersbeut, namun ternyata hanya satu yang bisa dipenuhi, apa saya masih bisa bersikap kompromi?

Thursday, November 13, 2008

Pertemuan dengan Anto Djadul


“Saya Anto mba.., Anto Djadul. Djadul-nya jangan lupa yah,” ujar pria kurus hitam itu tersipu malu saat kali pertama kami bertemu. Pagi itu ia menggunakan pakaian lengkap khas tentara kompeni di era penjajahan Belanda dulu. Kemeja putih yang sudah menguning warnanya termakan usia, dipadukan dengan dasi kumal warna merah dan jas putih serasi dengan celana panjang warna senada plus topi bulat putih yang akan mengingatkan kita pada jaman dahulu kala. "Ini (setelan jas dan celananya) baru datang lo mba. Baru tadi pagi dikirim dari Jawa. Harga satu stelnya Rp.160 ribu," jelas Anton sembari memamerkan giginya yang menguning dan tak karuan bentuknya.

Hari ini kami akan melakukan pengambilan gambar untuk salah satu program, di sebuah stasiun televisi swasta. Program berita ringan yang bertutur tentang perjalanan sejarah. Produser kami sengaja mendaulat pria asal Jawa Tengah itu sebagai memandu acara yang memang sesuai dengan penampilan serta hobi Anto yang menggilai apapun yang bernuansa tempo doeloe. Jadi di acara ini, Anto tak perlu menjadi orang lain. Cukup dirinya sendiri.

Anto memang unik. Dari pertama kali bertemu, dia memang sudah unik. Bayangkan saja, ketika kami menjemput di bawah jembatan pasar glodok, ia pede saja dengan 'seragam' lengkapnya itu beserta sepeda ontel tua miliknya yang menjadi properti produksi, berdiri di pinggir trotoar sembari celingak-celingung mencari mobil kami. Semua mata tertuju padanya.

Tapi Anto tetap cuek bebek. Ia tidak melepas kostum lalu menggantinya dengan kaos biasa, meski keringat terus mengucur karena panasnya cuaca Kota pagi itu. "Wah.. aku sudah nunggu dari tadi mba," ucapnya dengan logat Jawa kental sembari melangkah masuk ke mobil kami.


Pertemuan Anto dengan kru stasiun televisi swasta itu memang tidak disengaja. Kala itu, Anto adalah narasumber mereka. Tertarik dengan penampilanya yang lugu dan apa adanya, Anto pun di daulat menjadi pemandu acara. Entah karena untuk menekan budget atau guna menonjolkan karakter si host, sang produser menyerahkan seluruh urusan kostum dan properti ke Anto sendiri.

Mulai dari kacamata tua ala John Lennon, sepeda ontel sampai kamera yang meski sudah tua namun masih berfungsi dengan baik. Jika membutuhkan properti atau kostum tambahan, sang produser tinggal meminta Anto untuk mencari dan membelinya sendiri. Tentu, nanti uang yang sudah ia keluarkan akan diganti.

Sehari-hari, ia adalah tukang parkir di kawasan Glodok Kota. Kawasan yang tak pernah mati, meski malam tengah beranjak pagi. Dua belas tahun sudah ia menggeluti profesi ini. "Tapi saya ga pernah masuk ke dalam mba. Padahal saya pengen banget tau ada apa disana. Paling kedengeran suaranya aja. Jedag.. Jedug..," selorohnya.

Anto tinggal sendiri di Jakarta disebuah kamar petak kumuh yang tak jauh dari kawasan tempatnya bekerja. Sementara istri dan kedua anaknya hidup di desa. Bertahun-tahun, sang istri mengidap kanker rahim yang ketika saya tanya sudah stadium berapa, ia malah mengeleng tak tahu apa arti istilah itu. "Pokoknya perutnya sudah dioperasi berkali-kali. Bekas jahitanya aja banyak banget," ungkap Anto.

Penghasilan Anto sendiri sebagai tukang parkir, jelas tak seberapa. Dalam sehari ia bisa mengantongi Rp. 100 ribu dimana 30 persenya harus disetor ke Dinas Perhubungan DKI. Namun, karena keunikannya tadi, ia juga kerap menjadi model untuk fotografer-fotografer profesional maupun amatir yang ingin menciptakan foto dengan tema tempo doeloe. "Nih mba, liat foto-fotoku. Bagus kan? Yang moto Yudistira loh mba. Dia fotografer, juga pengacara," jelas Anto pamer.

Namun lagi-lagi, uang yang di dapat pun tak seberapa. Apalagi pekerjaan jadi model ini sifatnya musiman. Karena itu dengan profesi barunya sebagai presenter, Anto tak henti-hentinya berucap syukur. Mempercayai, bahwa Tuhan memang selalu ada untuknya.

Meski tidak berpendidikan tinggi, tapi cara kerja Anto menurutnya saya sangat profesional. Ia pantang mengeluh. Selalu tersenyum dan bertingkah konyol yang mengundang berjuta tawa. "Kalo nanti mba kerja sama saya, maaf yah mba kalo saya susah diajarin. Maklum, cuma tukang parkir," kilahnya.

Ketika bercerita tentang sang istri, tak ada guratan kesedihan yang tergambar di wajah Anto. Entah karena penyakit istrinya yang sudah bertahun-tahun atau karena begitu lah sifat alaminya. "Yang jelas, gusti Allah pasti sayang sama aku. Kalo sudah rajin solat malam dan berdoa tapi masih saja ada cobaan, berarti gusti Allah sayang sekali sama aku," pungkasnya.

-----

Hmmm.. jadi mau tau seperti apa Anto Djadul, nonton Riwajatmoe Doeloe yah di TVOne. Tiap Jumat, jam 09.30 wib. Atau mo nonton Mata Kamera juga ga pa-pa. Cuma gw lupa waktunya kapan. Pokoknya seminggu dua kali lah tiap jam 19.00 wib. Heuheuheuheu.. =')

Aisa si Angsa

Aisa adalah angsa remaja yang tengah beranjak dewasa. Ia tidak memiliki bulu cantik, pun tidak juga dikatakan buruk rupa. Aisa punya banyak teman. Mereka bilang ia menyenangkan dan selalu ingin membantu kawan. Namun aisa juga punya banyak kekurangan.

Tak heran, tidak sedikit juga yang enggan untuk berkawan. Mereka bilang ia pemarah, suka menyepelekan kemampuan teman serta berbagai kekurangan lainnya. Kadang karena kekurangan-kekurangan itu, meski ia ingin berbuat baik malah justru dipandang negatif. Tapi Aisa tidak mau ambil pusing. Ia tetap ceria menjalani hari. Terutama untuk mengejar semua mimpi.

Konon kabarnya ada sebuah danua yang indah di negeri nun jauh disana. Airnya tenang, jernih dan berkilau ditimpa sinar mentari kala pagi tiba. Angsa-angsa disana juga ramah-ramah dan begitu terbuka kepada siapa saja. Namun yang paling menggiurkan adalah ketika teman aisa yang pernah berkunjung kesana berkata, di danau itu ia bisa meraup berjuta pengalaman yang akan menuntunya menuju masa depan cemerlang. Berkunjung ke negeri itu, menjadi mimpi aisa saat ini.

Namun sayang, untuk menggapai itu bukan perkara mudah. Banyak yang harus aisa persiapkan luar dan dalam. Mengorbankan apapun juga, demi meraih kehidupan yang lebih baik. Sementara tak jarang teman-teman aisa mengingatkan, bahwa di danau yang ia diami saat ini pun kehidupan lebih baik bisa diwujudkan.

Aisa bingung. Ia gamang. Tak tau harus berbuat apa. Disatu sisi, mimpi menikmati hidup di danau indah itu kian menyesakan diri. Namun disisi lain, ia menyadari beragam keterbatasan yang berdiri bagai tembok kokoh dihadapanya. Berjuta keraguan bergumul hebat di kepala. Haruskah ia menyerah dan fokus pada hidupnya sekarang atau tetap mengejar mimpi meski harus berjalan pelan.

Memang apa yang teman-teman aisa katakan, ada benarnya juga. Hidup aisa, tidak terlalu buruk. Bahkan kerap kali ia lebih beruntung. Misalnya di tempatnya saat ini, aisa relatif mudah mencari makanan dengan ikan-ikan kaya gizi sehingga ia bisa tumbuh sehat dan bulu-bulunya pun mulai terlihat lebih indah.

Karena terus belajar menguatkan sayap-sayapnya, dan tentu dengan sedikit keberuntungan karena arah angin yang mendukung, aisa juga pernah berkunjung ke negeri indah nun jauh disana. Sesuatu paling membahagiakan bagi angsa betina yang selalu punya semangat itu. Namun sayang, hal tersebut hanya sekejap saja. Dan kini, keinginan untuk mengulang keberuntungan itu selalu menghantui tidur aisa.

Kegamangan terus mewarnai hidup Aisa. Benarkah, mimpinya itu terlalu mustahil untuk diwujudkan. Jika tidak, sampai kapan ia bertahan mengumpulkan keping demi keping harapan. Toh sekeras apapun ia berusaha, tetap saja Aisa tak mampu mengepakan sayap sekuat-kuatnya untuk meraih segala cita. Dan kini, Aisa patah arang.

Monday, October 6, 2008

Syefa sayang, Syefa malang



Bayi gempal nan mengemaskan itu sibuk sendiri bermain-main dengan keduajarinya dan baju yang baru beberapa saat diganti sehabis mandi. Ia mengoceh, bergumam, menjerit menandakan suasana hatinya sedang nyaman sore itu. Jika ada satu orang saja mengajaknya tertawa, ia akan tertawa lebih lebar sembari mengoceh, bergumam dan menjerit. Bahkan ditengah kantuk yang berat atau haus yang melanda kerongkongan, ia tetap akan tertawa saat ada yang mengajaknya bercanda. Hmm.. saya menyebutnya, 'bayi yang ga pernah susah'.

Sebutan itu tidak semata karena hobinya yang suka tertawa. Tapi ada berjuta harapan, agar besar kelak hidupnya selalu bahagia. Bagaimana tidak, Syefa nama bayi itu, sejak lahir, belum pernah mengenal sang ibu. Merasakan dekapan hangat dan menghisap banyak-banyak air susu yang akan membuatnya tumbuh kuat.




Ia lahir piatu. Hanya dua hari, Syefa punya Ibu. Itu pun tanpa pernahbertemu. Disaat ia masih harus tinggal diruang inkubator, sang bunda berjuang melawan kematian. Kata orang itu takdir. Bagi saya, kematiannya datang dari tangan-tangan kotor para Dokter yang rakus uang. Tapi ya sudahlah, nanti pasti ada balasan dari Tuhan. Mungkin saja melalui tangan Pengadilan. Yah.. keluarga kami memang sedang memperkarakan kematian bunda Syefa ke pihak kepolisian.

Bulan ini, umur Syefa genap enam bulan. Meski tanpa ibu, saya tahu ia takakan pernah kekurangan kasih sayang. Keluarga besar kami, selalu berebut ingin merawat dan melimpahinya perasaan nyaman. Tapi bagiamana ya, saat ia benar-benar sudah besar? Apakah sama, kasih sayang kami dengan kasih sayang sang bunda? Kepada siapa Syefa benar-benar bisa berkeluh kesah? terlebih saat ia beranjak remaja yang penuh dengan dinamika.

Memang Syefa masih punya ayah. Namun saya tidak yakin sang Ayah mampu memenuhi kebutuhan batiniah kalau sekarang saja ia sibuk dengan sang pacar. Lihat.. bagaimana saya bisa percaya, belum genap tiga bulan bunda pergi, lelaki hidung belang itu sudah asyik bercumbu dengan orang baru.




Duuh.. Syefa sayang, Syefa malang... kamu harus bahagia yah. Kini, esok dan selamanya. Dengan siapapun yang tulus memberimu cinta, meski tak setulus kasih bunda.

Lalu bunda.., kenapa kamu harus pergi begitu cepat? Tak habis pikir mengapa hidupmu terlalu singkat. Kamu baik pada siapa saja. Bukan kah, seharusnya kamu bisa hidup lebih lama. Menemani Syefa dan menimbang cucu di hari tua. Atau, ini memang benar-benar rencana tuhan agar bunda tidak pernah sakit hati melihat sifat asli sang suami.?

Syefa tertidur. Sepertinya, ia sudah lelah... mimpi indah yah. Saya tahu, dalam mimpi itu kamu pasti akan bertemu bunda dan bercerita tentang pelik dan indahnya dunia.





Wednesday, August 27, 2008

Kepencundangan Saya




“Meti.. Sori td gw reject tlp lo. Lg boarding. Gw dah d ruang tunggu, j6.50
take of. Jeng, ttp semangat yah tuk ngejar perubahan. Allah pasti liat
usaha qta kok. Cie.. Jd religius.. Saling mendoakan yak! Ini no gw slama d
eropa, sms internas cma 500. Wajib Keep in touch loh


Begitu bunyi pesan singkat yang masuk diujung tenggat waktu tugas saya Selasa lalu. Itu dari teman saya. Teman baik yang sedang bernasib baik. Ia mendapat kesempatan untuk meraih predikat master dengan biaya dari persatuan negara-negara di Eropa. Dua tahun gadis yatim piatu itu menimba ilmu di lebih dari lima negara. Hmm.. beruntung bukan? Padahal usianya belum lagi habis 25 tahun.

Saya juga 25 tahun sejak kira-kira empat bulan lalu. Tapi lihat saya.. tidak lebih dari seorang pecundang yang menghabiskan waktunya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan. Meita Annissa yang terlalu disibukan dengan persoalan cinta. Lupa akan cita-cita besarnya yaitu mendapat kesempatan untuk melanjutkan pendidikan secara cuma-cuma.

Berhari-hari, berminggu-minggu dan (mungkin) hingga berbulan-bulan masih saja ia berkutat dengan urusan yang hanya memusingkan kepala. Padahal jika tidak dipikirkan, jika tidak harus memilih diantara orang-orang yang memproklamirkan rasa suka dan sayang (atau napsu?), mungkin saya bisa seberuntung teman baik saya itu.



Memang disatu sisi saya selalu merasa butuh seseorang untuk berbagi. Seseorang yang mau mendukung saya, atau bahkan punya ambisi yang lebih gila dari yang saya miliki. Tapi untuk mendapatkan sosok seperti itu, ternyata bukan perkara mudah. Kadang saya merasa kita punya banyak kemiripan, namun sayang visi dan misi kita berbeda dalam memandang serta memaknai masa depan.

Meita Annissa… sepertinya itu terlalu klise? Mungkin saja. Tapi sosok itu yang sebenarnya sangat saya butuhkan.



Pernah suatu ketika, teman saya yang dapat beasiswa ke Eropa itu berkata,? “Gw begini karena lo tau met. Gw pernah sempat down karena belum juga ada aplikasi yang lolos. Tapi waktu lo dapat Fellow ke Jerman, gw jadi mikir … kok lo bisa kenapa gw ngga. Gara-gara itu gw jadi semangat lagi buat nyari. Lo juga harus gitu yah met,” pesannya pada saya panjang lebar.

Tentu… saya seperti mendapat doping baru pemicu semangat. Seperti orang kesurupan saya pun mulai mencari informasi kesana-sini. Namun lagi-lagi masalah itu datang. Percintaan yang tidak lebih dari sekedar roman picisan. Setiap hari harus bertemu, demikian juga diakhir pekan, lalu kapan saya bisa maju.?

Yah.. sudah lah. Teman saya pasti sudah tiba di Finlandia sekarang. Negara pertama yang akan ia jelajahi dan taklukan. Rongga paru-parunya pun juga pasti sudah penuh dengan udara segera dipenghujung musim panas. Lalu saya? Bagaimana saya…? Tuhan.. kamu masih mau kan berbaik hati pada perempuan yang tak tahu rasa berterima kasih ini?