I could stay at home, but I prefer to work because I wanna teach my kids nothing in life comes easy ...
Monday, October 12, 2015
Jaldis
Masalahnya klise sih. Antara tidak punya waktu dan males. Tapi kali ini saya sempat-sempatin nulis. Kebetulan saya sedang Jaldis a.k.a perjalanan.
Yah seperti buruh pada umumnya, perjalanan dinas memang menjadi suatu yang dinantikan. Selain bisa sebentar keluar dari rutininitas, jaldis kerap dinantikan karena adanya tunjangan dinas dan beberapa privilege lainya. Bagi saya jaldis adalah momen dimana saya bisa sedikit menikmati waktu sendiri saya atau me time, meski kadang suka sedih juga kalau teringat harus ninggalin bocah di rumah. Momen dimana saya bisa ga 'ngantor' dan syukur-syukur jika tugasnya tidak padat. Kalau ternyata kerjaanya banyak, yah sami mawon (eh bener ga sih nulisnya gini).
Anyway meski happy jika dapat tugas luar kota, tapi maaf yah saya bukan tipikal buruh yang suka cari-cari jalan biar bisa jaldis, yang menurut pak Gentur "PNS banget tuh kaya gitu, cari-cari jalan habiskan duit negara buat perjalanan dinas". Masih ingat kan kejadian kementerian mana gituh yang ditugaskan membawa film-film Indonesia ke ajang International? Dimana para artis pada protes karena mereka selalu menggunakan duit dari kantong sendiri, sementara si staf kementerian yang sebenernya punya anggaran untuk mengcover para artis, tapi malah bawa keluarga mereka ke ajang tersebut?
Well saya bilang sama pak Gentur, para pemburu jaldis ini bukan hanya dilingkungan pemerintahan, di pegawai swasta juga banyak. Kadang yang bikin kesel, sebenarnya tuh buruh punya kerjaan lain yang lebih penting di kantor, tapi malah bela-belain jaldis.
Anyway, pada akhirnya, yah kita kembalikan semua ke pribadi masing-masing. Ga mau usil juga. Biar mereka tanggung sendiri resiko dan segala konsekuensinya.
Tuesday, May 26, 2015
Long-weekend Gateway
![]() |
| Sempat berganti menyupir karena pak Gentur ingin istirahat. Tapi tidak bertahan lama, karena si kecil rewel ga mau ibunya nyupir. |
Kami berangkat sekitar pukul 10. Tujuan pertama adalah brunch di Jejamuran. Resto favorite yang lokasinya memang tidak jauh dari rumah Sleman. Kami sekeluarga kompak, semua makanan yang disajikan di Jejamuran enaaakkkkk. Tempatnya luas dan nyaman. Dan yang terpenting: murah! Hehe...
Kelar makan, kita langsung meluncur ke daerah Gunung Kidul. Tadinya sih kita ingin coba pantai lain disekitar Kidul. Tapi karena sudah cape, akhirnya kita balik lagi ke Pantai Sepanjang, pantai yang sama yang kita kunjungi waktu libur lebaran tahun lalu.
![]() |
| lunas sudah janji sama anak-anak untuk mengajak berlibur ke pantai. :) |
Perjalanan melelahkan Yogya-Sepanjang yang ditempuh sekitar 3 jam, terbayar dengan cakepnya pantai ini. Walaupun ombaknya besar, tapi dipantai ini ada semacam sungai yang memecah ombak hingga tidak sampai ke darat, jadi aman banget buat anak-anak.
![]() |
| salah satu pemandangan di Pantai Sepanjang |
Dinner
Menjelang maghrib, acara main-main air harus disudahi. Dalam perjalanan pulang, saya kepikiran House of Raminten. Tempat yang konon kabarnya lagi ngehits di Yogya, buat kita makan malam.
![]() |
| menikmati daging steak yang diletakan di batu panas. Mau tahu harga seporsinya? 30 Ribu saja. hehe.. |
Lumayan frustrasi mengingat kita sudah keroncongan berat, badan pegal-pegal dan memikirkan besok subuh sudah harus pulang ke Jakarta. Tapi pak Gentur keberatan kalau harus muter-muter cari tempat makan baru.
Setelah bolak-bolik tanya nomer antrian, akhirnya tiba juga waktu kami untuk makan malam di tempat ini. So far, saya puas sih dengan makanannya. Lumayan enak. Tempat asik walaupun rame banget. Ada free WIFI dan yang terpenting murah! Pantes banyak yang rela antri.
Day 2: Pulang
Selepas makan malam di House of Raminten, kami langsung pulang dan segera merapihkan barang-barang untuk bersiap kembali ke Jakarta. Badan sudah ga karuan rasanya. Lagi-lagi, untung anak-anak ga rewel. Sepanjang libur, saya selalu menyiapkan kudapan ringan, buah-buahan dan memastikan mereka minimal satu kali makan dengan sayur.
![]() |
| salah satu pemandangan di jalur nagrek, melewati terowongan yang membelah bukit. Ini keren banget deh. |
Monday, April 6, 2015
Cerita Menyapih
Niat boleh bulat, tapi pada prakteknya ternyata memang tidak mudah. Ada moment dimana baby Einar justru semakin ga mau lepas menyusu. Ibunya kalau sedang dirumah, benar-benar ga boleh kemana-mana. Ke kamar mandipun ditungguin. Padahal usianya sudah 2 tahun lebih dan sedang tidak sakit juga.
Kondisi ini jauh berbeda dengan Danis, si mas-nya. Danis relatif lebih mudah disapih. Yah, karena faktor saat itu dia sering saya tinggal pergi untuk waktu yang lama. Saat terakhir saya pergi selama 3 minggu, pulang-pulang dia sudah tidak mau lagi menyusu. Padahal saat itu usianya belum genap 2 tahun.
Kembali ke Einar, saya juga sering mengajaknya berkomunikasi. Kasih tahu bahwa dia sudah besar, malu jika masih menyusu. Kadang juga saya batasi. Misalnya saat dia minta n*nen sebelum bobok saya kasih sebentar. Setelah itu saya lepas. Langsung merengek sih dia. Saya tetap diam, pura-pura tidur dan dia tambah nangis histeris. Tapi saya tahan-tahanin untuk ga ngasih. Sampai akhirnya dia bobok sendiri karena kecapean. Hiks.. kejam banget yah saya?
Suatu hari saya coba iseng kasih sambel di n*pple saya. Einar sempet histeris dan tidak mau nyusu selama beberapa saat. Antara lega dan sedih juga sih. Katanya mau weaning with love, tapi kok pakai cara-cara old school. Akhirnya saat dia rewel dan karena kasihan, saya tenangkan dengan menawarkan nyusu. Mau tahu jadinya gimana? dia makin ganasss nyusunya. Hehe…
![]() |
| Bayi pintar yang tahu benar bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan.. :D |
Lalu beberapa akhir belakangan ini, saya sempat happy sesaat setelah selama beberapa hari Einar benar-benar stop menyusu. Hingga suatu malam, tanpa diduga, tiba-tiba saja si bayi cerewt ini menolak tidur sama saya. Dia merengek dan nangis minta bobok sama si bibik. Saya rayu, saya pukpuk, saya usap-usap bukannya diam dia nangis malah tambah kencang.
Duh.. rasanya sediiiihhhh banget. Momen dimana saya merasa berdosa karena dia lebih banyak tumbuh dan besar sama si bibik dibandingkan saya sebagai ibunya.
Ditengah kesedihan dan mati gaya karena tidak tahu harus menenangkan dengan cara apa lagi, akhirnya saya pun menawarkan dia untuk menyusu: "Ade mau nyenye (nenen?)," tanya saya. Bocah ini dengan sigap langsung menjawab, "maauuuu... ".Dan beberapa saat kemudian, dia langsung terlelap dengan mulut yang masih menempel di PD saya. Fiuh.. :/
Di luar dugaan, kejadian ini terus berlanjut hingga malam kedua, ketiga dan seterusnya. Antara kesel, kagum dan lucu melihat bayi 2,5 tahun ini tahu benar bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan. Entah dari mana dia belajar, tapi sepertinya cerita menyapih ini akan terus berlanjut untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.
Baiklah nak, Ibu ikut kamu saja! :*
Wednesday, December 31, 2014
2014
2014 tinggal tersisa hitungan jam. Sujud syukur ternyata bisa melalui tahun ini dengan 'selamat' (maaf lebay. Hehe..). Tahun yang benar-benar penuh tantangan. Tahun pembuktian, bahwa hidup tidak selamanya berjalan mulus. Bahwa kadang kita 'diatas', kadang kita terperosok hingga ke dasar yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Dan dipenghujung tahun ini, saya bersyukur bisa tersenyum manis. Menengok sebentar, melihat begitu banyak cobaan yang saya dan keluarga hadapi. Ada cobaan yang datang tak terduga. Ada yang sepertinya 'sengaja' saya buat ada. Hehe..
Apapun itu, banyak pelajaran yang saya cerna sepanjang 2014. Bahwa saya perlu lebih sering bersyukur, lebih sering tidak mengeluh dan lebih sering menikmati hidup dalam kondisi apapun.
2015, semoga saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Amin!
Monday, November 17, 2014
Interstellar
Anyway, saya hampir tidak pernah mereview sebuah film. Tapi karena setelah nonton Interstellar, kebayang-bayang sampai kebawa mimpi (lebay...), jadi saya tertarik untuk bikin ulasannya.
Interstellar merupakan salah satu karya gokil dari sutradara kenamaan Christopher Nolan, bersama sang adik Jonathan Nolan (adiknya lebih cakep ternyata dari kakaknya). Jujur dari sepanjang 2,5 jam lebih durasi film, hampir 75 persen saya tidak mengerti ngomongin apa (maklum anak IPS).
Dialog para pemain yang antara lain dibintangi abang ganteng Matthew McConaughey dan si kece Anne Hathaway, hampir seluruhnya berbau science. Tapi anehnya, saya betah dan memperhatikan dengan serius film ini.
Cerita dimulai dari kehidupan sebuah desa, yang tengah berada dalam bahaya bencana alam dan bencana kelaparan. Awalnya saya pikir, ceritanya berawal dari periode masa lalu. Sampai Cooper (Matthew McConaughey) seorang ayah dua anak mantan pilot NASA, mengejar sebuah pesawat tanpa awak saat akan mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dari sini saya (agak) ngeh kalau setting film ini berada di masa depan.
Ditengah ancaman bencana alam dan kelaparan, anak Cooper, Murph kerap diganggu oleh 'makhluk' yang seolah-olah ingin mengirim sebuah pesan. Chooper awalnya tidak menghiraukan keluhan Murf, sampai suatu hari setelah badai pasir melanda wilayah mereka, Chooper menemukan sebuah kode koordinat. Karena penasaran, Chooper berkendara menuju kode koordinat yang dimaksud yang ternyata menuju sebuah tempat penelitian rahasia milik NASA.
Ditempat itu, Cooper mengetahui rupanya NASA tengah menjalankan misi rahasia untuk menemukan tempat baru bagi manusia hingga ke luar sistem tata surya kita. Hal ini didorong oleh kemunculan lubang cacing (wormhole) sejak 48 tahun silam di dekat Saturnus.
Buat yang belum tahu (ish.., sok ngasih tau), lubang cacing itu semacam fenomena yang sampai saat ini belum bisa dibuktikan keberadaanya (CMIIW). Banyak ahli yang menyebutkan, wormhole atau lubang cacing merupakan jalan pintas menuju tempat baru yang jaraknya sangat jauh. Analogi umum yang digunakan adalah, lubang cacing itu ibarat sebuah apel dimana kita hidup dipermukaannya. Agar kita bisa menuju ujung apel tanpa memutar, maka kita bisa melubangi apel.
Balik lagi ke cerita, Chooper mendapat tawaran untuk menjadi bagian dari tim penjelajah. Di dorong hasrat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Chooper akhirnya setuju untuk menitipkan kedua anaknya kepada sang Ayah. Istri Chooper sudah meninggal karena kanker.
Kemudian dimulai lah petualangan Chooper bersama 3 orang awak lain, termasuk satu robot yang siap membantu tugas mereka. Petualangan diawali ketika mereka memasuki lubang cacing yang digambarkan mudah hancur karena tidak memiliki gaya gravitasi (duh, benar ga nih?). Dengan keterbatasan bahan bakar, mereka harus memilih planet mana yang akan dikunjungi
Pilihan pertama jatuh pada Planet Miller, yang sebenarnya sudah memiliki salah satu syarat untuk bisa ditinggali manusia yaitu keberadaan air. Hanya sayang, Planet ini tidak memiliki daratan. Waktu juga berjalan lambat di Planet Miller. Satu jam di Miller, sama dengan 7 tahun di Bumi.
Cooper tidak mau menyia-nyiakan waktu di Miller, karena dia berjanji untuk segera kembali ke Bumi menemui keluarganya terutama Murph, yang menentang kepergian sang ayah. Namun sayang ditengah pengumpulan data, sebuah tsunami besar menghantam kapal mereka. Cooper kehilangan salah satu krunya. Dan ketika ia kembali ke kapal induk Endurance, ternyata jika dihitung Cooper telah meninggalkan bumi selama 23 tahun.
Dari Miller kini pilihannya tinggal dua, menuju Planet Mann atau Edmunds. Oiya, nama-nama planet ini berasal dari astronot yang terlebih dulu tiba di Planet tersebut untuk mengumpulkan data-data kelayakan Planet. Dengan berbagai pertimbangan, pilihan jatuh ke Planet Mann dimana ternyata Dr. Mann (yang diperankan oleh si ganteng Matt Damon) sang astronot masih hidup dan berhasil dibangunkan dari tidur panjang. Saya juga baru tahu (abis googling), kalau tidur panjang dimungkinkan untuk memperlambat metabolisme tubuh.
Konflik baru muncul lagi saat ternyata Dr. Mann diketahui telah berbohong atas semua data tentang planet tersebut yang dikirim ke Endurance. Dr. Mann berusaha untuk membunuh Cooper dan tim dan pulang sendiri ke bumi. Namun usaha tersebut gagal, Mann justru terbunuh saat akan bergabung ke kapal induk Endurance.
Semantara itu, Prof Brand yang menjadi otak misi ini semakin tua dan siap menjemput ajalnya di Bumi. Saat detik-detik menjelang kematiannya, Brand mengungkapkan kepada Murf (yang saat itu telah dewasa dan juga bekerja untuk NASA) bahwa misi Cooper itu sia-sia karena dia belum bisa menemukan persamaan yang memungkinkan manusia bisa keluar dari daya tarik gravitasi bumi secara massal.
Karena itu ia menyarankan untuk menjalankan rencana B, yaitu meninggalkan semua manusia bumi dan membentuk koloni baru melalui embrio yang turut dibawa serta dalam misi Cooper.
Namun karena daya gravitasi yang sangat tinggi, kapal Cooper hancur namun dia berhasil melontarkan diri dan terjebak di ruang luar dimensi tempat waktu tidak bersifat linier (ish, gaya banget deh bahasanya kaya ngerti ajah. hehe...). Disini nih, ciri khas Sutradara Nolan yang sering memainkan plot twice atau mindfuck muncul deh, macam di Inception.
Lalu bagaimana nasih Cooper? Berhasilkan dia menyelamatkan manusia dari kehancuran Bumi? Tonton ajah gih, filmnya. Nanya muluk. Hehe..
Oiya bagi yang sudah nonton dan masih bingung, mungkin bisa cek link ini.
note : tulisan ini dibuat setelah saya googling sana-sini, karena bingung sama jalan cerita filmnya. Akhir pekan ini, saya berencana untuk menonton lagi and I'll share you later on :).
Sunday, September 14, 2014
Takdir Anak
Kemarin keluarga kami baru saja menggelar acara syukuran 4 bulan kehamilan, calon anak pertama dari adik bungsu saya. Tradisi di keluarga kami, biasanya acara akan dipimpin oleh Nini (Nenek) kami yang meski sudah udzur tapi masih sehat. Nini akan memimpin doa, lalu memberi siraman rohani untuk kita semua.
Sunday, August 24, 2014
Office Syndrome
Seorang teman sering mengeluh soal pekerjaannya. Awalnya saya tidak menanggapi. Karena bagi saya, kerja dimana saja sama. Konfliknya-pun tidak jauh berbeda.
Sampai suatu hari dia mengirim pesan, bahwa dia sudah benar-benar tidak sanggup lagi bekerja di tempat itu. Setiap sampai kantor, teman saya ini kerap menderita sakit kepala hebat. Dia menyebutnya office syndrome. Karena berkali-kali memeriksakan diri ke dokter, hasilnya selalu bagus. Tidak ada masalah kesehatan yang signifikan. Ia berkesimpulan, bekerja di kantor itulah yang membuatnya sakit kepala.
Ada beberapa faktor yang menurut teman saya ini menjadi pemicu ketidaknyamananya. Mulai dari load kerja sampai dengan bos yang tidak menyenangkan.
Jujur saya sedih mendengar ini. Sedih karena dia sampai harus mengalami stres berat karena bekerja. Padahal kalau dipikir-pikir, load kerja atau bos nyebelin itu biasa banget kan? Apalagi rasa stres yang dirasakan teman saya ini, juga meningkat ketika dia mengingat hingga saat ini belum juga mendapatkan tempat kerja baru.
Dari situ sebenarnya saya sering memberinya nasihat. Bahwa kita perlu kerja. Bahwa mencari kerja itu tidak mudah. Karena itu kita harus sabar. Kita harus banyak bersyukur, bla.. bla.. bla.. Apalagi secara finansial, salary yang diterima teman saya ini terbilang tinggi.
Saya bisa bilang begini, karena belajar dari pengalaman yang pernah emosional ketika memutuskan berhenti. Sempat culture shock juga karena biasa hidup dengan dua pendapatan, lalu tiba-tiba hanya ada satu pemasukan. But I never regret it.
Anyway, beruntung saya masih punya suami yang mensupport tidak hanya financially, tapi semua kegilaan saya (hehe..) Jadi walaupun hidup pas-pasan, tapi at least kami tidak kelaparan.
Sementara suami teman saya ini, hanya seorang wiraswasta yang tidak bisa diandalkan untuk mencukupi segala kebutuhan. Hal ini yang membuat dia (katanya) semakin dilemma.
Berbicara soal resign, saya sendiri dulu pernah begitu menyukai pekerjaan saya. Tapi sayang, benefit yang diberikan perusahaan terbilang minim sehingga saya tidak betah, kena office syndrome dan akhirnya mencari pekerjaan baru.
Dasar manusia, ketika keinginan terwujud saya mengeluh lagi karena pekerjaannya tidak saya suka. Setiap ngantor, lagi-lagi saya kerap kena office syndrome. Dari situ saya sadar, gaji besar tidak menjamin kita semangat bekerja.
So what I’m trying to say is : It’s not a big deal quitting from terrible job, but you have to ready with all the consequences. Beda cerita kalau kita resign, tapi sudah mendapatkan pekerjaan baru. Karena yang bikin pusing, kalau resign dan jadi pengangguran. Hehe..
Yah, hidup memang sebuah pilihan. Tapi apapun itu, yang perlu digarisbawahi adalah : bahwa sampai kapanpun, kita tidak akan pernah mendapat semua yang kita mau.
Jadi, mari kita banyak bersyukur.









