Monday, October 12, 2015

Jaldis

Duh.... Udah lama banget ga ngeblog. Padahal banyak hal yang ingin dishare di diary virtual ini. Tentang perjalanan rombongan sirkus (saya, pak gentur dan anak-anak) ke Bali, beberapa minggu setelah dari Yogya dan kembali ke Yogya untuk merayakan hari raya.

Masalahnya klise sih. Antara tidak punya waktu dan males. Tapi kali ini saya sempat-sempatin nulis. Kebetulan saya sedang Jaldis a.k.a perjalanan.

Yah seperti buruh pada umumnya, perjalanan dinas memang menjadi suatu yang dinantikan. Selain bisa sebentar keluar dari rutininitas, jaldis kerap dinantikan karena adanya tunjangan dinas dan beberapa privilege lainya. Bagi saya jaldis adalah momen dimana saya bisa sedikit menikmati waktu sendiri saya atau me time, meski kadang suka sedih juga kalau teringat harus ninggalin bocah di rumah. Momen dimana saya bisa ga 'ngantor' dan syukur-syukur jika tugasnya tidak padat. Kalau ternyata kerjaanya banyak, yah sami mawon (eh bener ga sih nulisnya gini).

Anyway meski happy jika dapat tugas luar kota, tapi maaf yah saya bukan tipikal buruh yang suka cari-cari jalan biar bisa jaldis, yang menurut pak Gentur "PNS banget tuh kaya gitu, cari-cari jalan habiskan duit negara buat perjalanan dinas". Masih ingat kan kejadian kementerian mana gituh yang ditugaskan membawa film-film Indonesia ke ajang International? Dimana para artis pada protes karena mereka selalu menggunakan duit dari kantong sendiri, sementara si staf kementerian yang sebenernya punya anggaran untuk mengcover para artis, tapi malah bawa keluarga mereka ke ajang tersebut?

Well saya bilang sama pak Gentur, para pemburu jaldis ini bukan hanya dilingkungan pemerintahan, di pegawai swasta juga banyak. Kadang yang bikin kesel, sebenarnya tuh buruh punya kerjaan lain yang lebih penting di kantor, tapi malah bela-belain jaldis. 

Anyway, pada akhirnya, yah kita kembalikan semua ke pribadi masing-masing. Ga mau usil juga. Biar mereka tanggung sendiri resiko dan segala konsekuensinya.

Tuesday, May 26, 2015

Long-weekend Gateway

Awal bulan ini, dalam rangka merayakan libur panjang, saya dan pak Gentur berencana untuk pergi ke Yogya. Well, sebenarnya rencana awal bukan ke Yogya sih. Ke tempat yang tidak perlu effort besar untuk sekedar melihat pantai. Saat itu pilihannya antara ke Anyer, Tanjung Lesung atau Pulau Seribu.

Tapi dasar yah, karena dua-duanya sok sibuk, belum juga booking tempat hingga H-2 keberangkatan, maka semua penginapan yang OK sudah fully booked. Saya sih sebenarnya sudah pasrah, yaudah lah.. di Jakarta ajah road show dari satu mall ke mall lain. Tapi pak Gentur yang keukeuh ingin pergi karena dia merasa tidak enak sudah terlanjur janji sama anak-anak mau lihat pantai.

Sempat berganti menyupir karena pak Gentur ingin istirahat. Tapi tidak bertahan lama, karena si kecil rewel ga mau ibunya nyupir.
Singkat cerita, seusai sholat Subuh hari Jumat di hari libur hari Buruh, kami nekad berangkat ke Yogya. Deg-degan sudah pasti. Apalagi mengingat kondisi mobil yang belum sempat di bawa ke bengkel, plesss klakson pakai acara mati pulak. But anyway, show must go on. Tekad kita sudah bulat buat pergi ke Yogya. Hehe..

Kami pilih jalur Selatan. Karena berdasarkan pengalaman, jalur utara cenderung lebih ramai bus-bus dan juga truk besar. Sedangkan berdasarkan mbah google, jalur selatan relatif lebih sepi dengan pemandangan yang indah meski jalurnya berkelok dan agak lebih jauh.

Berbekal hasil risetan di google dan waze, perjalanan kami bisa dibilang lancar-lancar saja. Semua plang petunjuk jalan, jelas terlihat. Macet di Jalur Nagrek sekitar 2 jam-an, istirahat makan siang di Banjar. Kemudian jalan rusak Majenang dan kembali istirahat makan maghrib di Banyumas. Akhirnya kami tiba dengan selamat di Wates sekitar pukul setengah 9 malam.

Nah, disini lah perjalanan kami agak-agak terganggu ketika Waze tidak menunjukan rute yang sesuai dengan petunjuk jalan. Karena ingin cepat sampai, waktu itu kami pilih ikut petunjuk Waze. Karena sesuai dengan fungsinya, aplikasi ini bisa menunjukan arah yang cepat dan menghindari macet. Tapi faktanya, kami nyasar sampai ke jalan buntu yang sempit, gelap gulita dan kanan kirinya sawah. Cakep banget dah..

Akhirnya buru-buru kita putar balik, kembali ke jalan besar Wates-Yogyakarta dan si Waze-pun saya matikan. Setelah 17 jam, Alhamdulillah kami sampai Sleman dengan selamat. Yeayyyy...

Oiya, berikut rute yang kita tempuh: Jakarta - tol Cikampek - tol Purbaleunyi - Bandung - Tasikmalaya - Ciamis - Banjar - Majenang - Cilacap - Banyumas - Kebumen - Purworejo - Wates - Yogyakarta.


Day 1

Pukul 6 pagi saya sudah bangun, gara-gara duo krucil yang juga sudah bangun. Padahal semalam saya baru bisa tertidur sekitar pukul 1 dini hari. Badan Danis dan Einar agak hangat dari semalam. Danis memang sudah batuk dari sebelum berangkat. Saya memberi mereka paracetamol dan berharap disaat bangun pagi, mereka sudah segar kembali.

Tapi ternyata masih demam juga. Si kecil malah tidak mau makan. Sempat kepikiran untuk dirumah saja hari itu, mengingat besok Subuh kami harus kembali lagi ke Jakarta. Tapi pak Gentur ingin rencana awal harus tetap dijalankan.

Kami berangkat sekitar pukul 10. Tujuan pertama adalah brunch di Jejamuran. Resto favorite yang lokasinya memang tidak jauh dari rumah Sleman. Kami sekeluarga kompak, semua makanan yang disajikan di Jejamuran enaaakkkkk. Tempatnya luas dan nyaman. Dan yang terpenting: murah! Hehe...

Kelar makan, kita langsung meluncur ke daerah Gunung Kidul. Tadinya sih kita ingin coba pantai lain disekitar Kidul. Tapi karena sudah cape, akhirnya kita balik lagi ke Pantai Sepanjang, pantai yang sama yang kita kunjungi waktu libur lebaran tahun lalu.
lunas sudah janji sama anak-anak untuk mengajak berlibur ke pantai. :)

Perjalanan melelahkan Yogya-Sepanjang yang ditempuh sekitar 3 jam, terbayar dengan cakepnya pantai ini. Walaupun ombaknya besar, tapi dipantai ini ada semacam sungai yang memecah ombak hingga tidak sampai ke darat, jadi aman banget buat anak-anak.

salah satu pemandangan di Pantai Sepanjang
Sayang Einar masih cranky. Dia ga mau ikutan mas-nya main air. Mungkin karena masih ga enak badan. Tapi alhamdulillah si demannya sudah turun.

Dinner

Menjelang maghrib, acara main-main air harus disudahi. Dalam perjalanan pulang, saya kepikiran House of Raminten. Tempat yang konon kabarnya lagi ngehits di Yogya, buat kita makan malam.

menikmati daging steak yang diletakan di batu panas. Mau tahu harga seporsinya? 30 Ribu saja. hehe..
Saya lupa lokasinya dimana. Pokoknya hanya mengandalkan Waze dan engingeennggg.. Kita sampai! Dan benar saja, tempat ini memang lagi happening banget. Saking happening-nya sampai waiting list yang mau makan, panjaaangggg...

Lumayan frustrasi mengingat kita sudah keroncongan berat, badan pegal-pegal dan memikirkan besok subuh sudah harus pulang ke Jakarta. Tapi pak Gentur keberatan kalau harus muter-muter cari tempat makan baru.

Setelah bolak-bolik tanya nomer antrian, akhirnya tiba juga waktu kami untuk makan malam di tempat ini. So far, saya puas sih dengan makanannya. Lumayan enak. Tempat asik walaupun rame banget. Ada free WIFI dan yang terpenting murah! Pantes banyak yang rela antri.

Day 2: Pulang

Selepas makan malam di House of Raminten, kami langsung pulang dan segera merapihkan barang-barang untuk bersiap kembali ke Jakarta. Badan sudah ga karuan rasanya. Lagi-lagi, untung anak-anak ga rewel. Sepanjang libur, saya selalu menyiapkan kudapan ringan, buah-buahan dan memastikan mereka minimal satu kali makan dengan sayur. 

Maka pagi-pagi sekali, selepas solat subuh kami berangkat kembali ke Jakarta. Kami tetap memilih jalur selatan, jalur yang sama saat kami berangkat kembali. Untuk mempersingkat waktu, saya sengaja membawa bekal untuk sarapan. Kami baru berhenti untuk istirahat agak lama saat makan siang di Restaurant PringSewu, Majenangan. Resto yang dari kilometer 65 sudah kasih pengumuman dan terus memberi pengumuman setiap beberapa kilometer.

Buat saya, Pringsewu cukup direkomendasikan buat yang sedang melakukan perjalanan lewat jalur selatan. Makanannya lumayan enak, harga cukup, dan pelayanan yang ramah. Kita bahkan sempat dapat compliment saat pak Gentur mengaku tengah merayakan hari pernikahan.

Lancar

Perjalanan pulang, berjalan lancar tanpa ada kemacetan berarti. Macet baru menghadang saat tiba di Nagrek. Kesal sih. Tapi rasa kesal berkurang saat kami mulai menikmati pemandangan indah sepanjang jalur Nagrek. Sayang kami tidak sempat berhenti untuk sekedar menikmati pemandangan atau foto-foto. Badan sudah cape. Saat itu yang kami pikirkan bagaimana agar bisa segera sampai rumah.

salah satu pemandangan di jalur nagrek, melewati terowongan yang membelah bukit. Ini keren banget deh.
Lepas dari Nagrek, kemacetan baru menghadang memasuki Cipularang. Lalu lintas padat hingga pintu keluar tol rumah kami. Alhamdulillah, akhirnya kami bisa tiba di rumah sekitar pukul 9 malam.

Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Saya dan pak Gentur sepakat, kami perlu sering-sering berlibur seperti ini.


Monday, April 6, 2015

Cerita Menyapih

Sudah beberapa bulan terakhir ini, saya pelan-pelan mencoba untuk menyapih si kecil. Ceritanya sih, mau weaning with love. Jadi ga pake tuh PD di kasih pahit-pahit, dikasih cabe atau apalah biar si kecil berhenti menyusu. Cara ini, menurut beberapa penelitian dinilai cukup efektif untuk mencegah trauma pada si kecil dan membantunya tumbuh lebih maksimal.

Niat boleh bulat, tapi pada prakteknya ternyata memang tidak mudah. Ada moment dimana baby Einar justru semakin ga mau lepas menyusu. Ibunya kalau sedang dirumah, benar-benar ga boleh kemana-mana. Ke kamar mandipun ditungguin. Padahal usianya sudah 2 tahun lebih dan sedang tidak sakit juga.


Kondisi ini jauh berbeda dengan Danis, si mas-nya. Danis relatif lebih mudah disapih. Yah, karena faktor saat itu dia sering saya tinggal pergi untuk waktu yang lama. Saat terakhir saya pergi selama 3 minggu, pulang-pulang dia sudah tidak mau lagi menyusu. Padahal saat itu usianya belum genap 2 tahun.
 
Kembali ke Einar, saya juga sering mengajaknya berkomunikasi. Kasih tahu bahwa dia sudah besar, malu jika masih menyusu. Kadang juga saya batasi. Misalnya saat dia minta n*nen sebelum bobok saya kasih sebentar. Setelah itu saya lepas. Langsung merengek sih dia. Saya tetap diam, pura-pura tidur dan dia tambah nangis histeris. Tapi saya tahan-tahanin untuk ga ngasih. Sampai akhirnya dia bobok sendiri karena kecapean. Hiks.. kejam banget yah saya?

Suatu hari saya coba iseng kasih sambel di n*pple saya. Einar sempet histeris dan tidak mau nyusu selama beberapa saat. Antara lega dan sedih juga sih. Katanya mau weaning with love, tapi kok pakai cara-cara old school. Akhirnya saat dia rewel dan karena kasihan, saya tenangkan dengan menawarkan nyusu. Mau tahu jadinya gimana? dia makin ganasss nyusunya. Hehe…


Bayi pintar yang tahu benar bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan.. :D

Lalu beberapa akhir belakangan ini, saya sempat happy sesaat setelah selama beberapa hari Einar benar-benar stop menyusu. Hingga suatu malam, tanpa diduga, tiba-tiba saja si bayi cerewt ini menolak tidur sama saya. Dia merengek dan nangis minta bobok sama si bibik. Saya rayu, saya pukpuk, saya usap-usap bukannya diam dia nangis malah tambah kencang. 


Duh.. rasanya sediiiihhhh banget. Momen dimana saya merasa berdosa karena dia lebih banyak tumbuh dan besar sama si bibik dibandingkan saya sebagai ibunya.

Ditengah kesedihan dan mati gaya karena tidak tahu harus menenangkan dengan cara apa lagi, akhirnya saya pun menawarkan dia untuk menyusu: "Ade mau nyenye (nenen?)," tanya saya. Bocah ini dengan sigap langsung menjawab, "maauuuu... ".Dan beberapa saat kemudian, dia langsung terlelap dengan mulut yang masih menempel di PD saya. Fiuh.. :/

Di luar dugaan, kejadian ini terus berlanjut hingga malam kedua, ketiga dan seterusnya. Antara kesel, kagum dan lucu melihat bayi 2,5 tahun ini tahu benar bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan. Entah dari mana dia belajar, tapi sepertinya cerita menyapih ini akan terus berlanjut untuk waktu yang tidak bisa ditentukan.

Baiklah nak, Ibu ikut kamu saja! :*





Wednesday, December 31, 2014

2014

2014 tinggal tersisa hitungan jam. Sujud syukur ternyata bisa melalui tahun ini dengan 'selamat' (maaf lebay. Hehe..). Tahun yang benar-benar penuh tantangan. Tahun pembuktian, bahwa hidup tidak selamanya berjalan mulus. Bahwa kadang kita 'diatas', kadang kita terperosok hingga ke dasar yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Dan dipenghujung tahun ini, saya bersyukur bisa tersenyum manis. Menengok sebentar, melihat begitu banyak cobaan yang saya dan keluarga hadapi. Ada cobaan yang datang tak terduga. Ada yang sepertinya 'sengaja' saya buat ada. Hehe..

Apapun itu, banyak pelajaran yang saya cerna sepanjang 2014. Bahwa saya perlu lebih sering bersyukur, lebih sering tidak mengeluh dan lebih sering menikmati hidup dalam kondisi apapun.

2015, semoga saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Amin!

Monday, November 17, 2014

Interstellar

Yah, Interstellar. Sudah pada nonton belum filmnya? Kalau belum, disarankan untuk tidak baca tulisan saya ini. Karena isinya penuh spoiler. Hehe..

Anyway, saya hampir tidak pernah mereview sebuah film. Tapi karena setelah nonton Interstellar, kebayang-bayang sampai kebawa mimpi (lebay...), jadi saya tertarik untuk bikin ulasannya.

Interstellar merupakan salah satu karya gokil dari sutradara kenamaan Christopher Nolan, bersama sang adik Jonathan Nolan (adiknya lebih cakep ternyata dari kakaknya). Jujur dari sepanjang 2,5 jam lebih durasi film, hampir 75 persen saya tidak mengerti ngomongin apa (maklum anak IPS). 

Dialog para pemain yang antara lain dibintangi abang ganteng Matthew McConaughey dan si kece Anne Hathaway, hampir seluruhnya berbau science. Tapi anehnya, saya betah dan memperhatikan dengan serius film ini.




Cerita dimulai dari kehidupan sebuah desa, yang tengah berada dalam bahaya bencana alam dan bencana kelaparan. Awalnya saya pikir, ceritanya berawal dari periode masa lalu. Sampai Cooper (Matthew McConaughey) seorang ayah dua anak mantan pilot NASA, mengejar sebuah pesawat tanpa awak saat akan mengantar anak-anaknya ke sekolah. Dari sini saya (agak) ngeh kalau setting film ini berada di masa depan.  



Ditengah ancaman bencana alam dan kelaparan, anak Cooper, Murph kerap diganggu oleh 'makhluk' yang seolah-olah ingin mengirim sebuah pesan. Chooper awalnya tidak menghiraukan keluhan Murf, sampai suatu hari setelah badai pasir melanda wilayah mereka, Chooper menemukan sebuah kode koordinat. Karena penasaran, Chooper berkendara menuju kode koordinat yang dimaksud yang ternyata menuju sebuah tempat penelitian rahasia milik NASA.





Ditempat itu, Cooper mengetahui rupanya NASA tengah menjalankan misi rahasia untuk menemukan tempat baru bagi manusia hingga ke luar sistem tata surya kita. Hal ini didorong oleh kemunculan lubang cacing (wormhole) sejak 48 tahun silam di dekat Saturnus.

Buat yang belum tahu (ish.., sok ngasih tau), lubang cacing itu semacam fenomena yang sampai saat ini belum bisa dibuktikan keberadaanya (CMIIW). Banyak ahli yang menyebutkan, wormhole atau lubang cacing merupakan jalan pintas menuju tempat baru yang jaraknya sangat jauh. Analogi umum yang digunakan adalah, lubang cacing itu ibarat sebuah apel dimana kita hidup dipermukaannya. Agar kita bisa menuju ujung apel tanpa memutar, maka kita bisa melubangi apel.

Balik lagi ke cerita, Chooper mendapat tawaran untuk menjadi bagian dari tim penjelajah. Di dorong hasrat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, Chooper akhirnya setuju untuk menitipkan kedua anaknya kepada sang Ayah. Istri Chooper sudah meninggal karena kanker.




Kemudian dimulai lah petualangan Chooper bersama 3 orang awak lain, termasuk satu robot yang siap membantu tugas mereka. Petualangan diawali ketika mereka memasuki lubang cacing yang digambarkan mudah hancur karena tidak memiliki gaya gravitasi (duh, benar ga nih?). Dengan keterbatasan bahan bakar, mereka harus memilih planet mana yang akan dikunjungi 

Pilihan pertama jatuh pada Planet Miller, yang sebenarnya sudah memiliki salah satu syarat untuk bisa ditinggali manusia yaitu keberadaan air. Hanya sayang, Planet ini tidak memiliki daratan. Waktu juga berjalan lambat di Planet Miller. Satu jam di Miller, sama dengan 7 tahun di Bumi.

Cooper tidak mau menyia-nyiakan waktu di Miller, karena dia berjanji untuk segera kembali ke Bumi menemui keluarganya terutama Murph, yang menentang kepergian sang ayah. Namun sayang ditengah pengumpulan data, sebuah tsunami besar menghantam kapal mereka. Cooper kehilangan salah satu krunya. Dan ketika ia kembali ke kapal induk Endurance, ternyata jika dihitung Cooper telah meninggalkan bumi selama 23 tahun.

Dari Miller kini pilihannya tinggal dua, menuju Planet Mann atau Edmunds. Oiya, nama-nama planet ini berasal dari astronot yang terlebih dulu tiba di Planet tersebut untuk mengumpulkan data-data kelayakan Planet. Dengan berbagai pertimbangan, pilihan jatuh ke Planet Mann dimana ternyata Dr. Mann (yang diperankan oleh si ganteng Matt Damon) sang astronot masih hidup dan berhasil dibangunkan dari tidur panjang. Saya juga baru tahu (abis googling), kalau tidur panjang dimungkinkan untuk memperlambat metabolisme tubuh.

Konflik baru muncul lagi saat ternyata Dr. Mann diketahui telah berbohong atas semua data tentang planet tersebut yang dikirim ke Endurance. Dr. Mann berusaha untuk membunuh Cooper dan tim dan pulang sendiri ke bumi. Namun usaha tersebut gagal, Mann justru terbunuh saat akan bergabung ke kapal induk Endurance.



Semantara itu, Prof Brand yang menjadi otak misi ini semakin tua dan siap menjemput ajalnya di Bumi. Saat detik-detik menjelang kematiannya, Brand mengungkapkan kepada Murf (yang saat itu telah dewasa dan juga bekerja untuk NASA) bahwa misi Cooper itu sia-sia karena dia belum bisa menemukan persamaan yang memungkinkan manusia bisa keluar dari daya tarik gravitasi bumi secara massal. 

Karena itu ia menyarankan untuk menjalankan rencana B, yaitu meninggalkan semua manusia bumi dan membentuk koloni baru melalui embrio yang turut dibawa serta dalam misi Cooper.


Nah sampai disini saya pikir filmnya sudah mau habis. Semacam film yang pakai plot un-happy ending gituh. Tapi ternyata tidak. Cooper memutuskan untuk menuju Planet Edmunds yang selama ini selalu mengirim data yang cukup memuaskan. Dengan keterbatasan bahan bakar dan kondisi kapal yang mulai rusak, Cooper mengambil jalur melalui Gargantua, sebuah lubang hitam yang memiliki daya tarik gravitas sangat tinggi tapi bisa mempersingkat jarak tempuh menuju Planet Edmunds. 

Namun karena daya gravitasi yang sangat tinggi, kapal Cooper hancur namun dia berhasil melontarkan diri dan terjebak di ruang luar dimensi tempat waktu tidak bersifat linier (ish, gaya banget deh bahasanya kaya ngerti ajah. hehe...). Disini nih, ciri khas Sutradara Nolan yang sering memainkan plot twice atau mindfuck muncul deh, macam di Inception.

Lalu bagaimana nasih Cooper? Berhasilkan dia menyelamatkan manusia dari kehancuran Bumi? Tonton ajah gih, filmnya. Nanya muluk. Hehe..

Oiya bagi yang sudah nonton dan masih bingung, mungkin bisa cek link ini.


note : tulisan ini dibuat setelah saya googling sana-sini, karena bingung sama jalan cerita filmnya. Akhir pekan ini, saya berencana untuk menonton lagi and I'll share you later on :).



Sunday, September 14, 2014

Takdir Anak


Kemarin keluarga kami baru saja menggelar acara syukuran 4 bulan kehamilan, calon anak pertama dari adik bungsu saya. Tradisi di keluarga kami, biasanya acara akan dipimpin oleh Nini (Nenek) kami yang meski sudah udzur tapi masih sehat. Nini akan memimpin doa, lalu memberi siraman rohani untuk kita semua.

Karena momennya tentang syukuran kehamilan, maka tema siraman rohani juga tidak jauh dari persoalan tentang bagaimana menjadi orang tua dan bagaimana agar kita tidak jadi anak yang durhaka. 

Nini bercerita ketika seorang janin memasuki usia 4 bulan, maka disaat itulah Allah SWT akan meniupkan rohnya dan menetapkan takdir dari si janin mulai dari jodoh, rejeki dan sebagainya sampai apakah nanti dia akan menjadi anak yang baik atau justru jadi anak durhaka. Cerita Nini tadi menggelitik saya untuk bertanya. Memang ada yah, anak yang ditakdirkan untuk menjadi anak durhaka? 

Menurut Nini, menjadi manusia buruk dan baik itu memang ada takdirnya. "Tapi jangan lupa, takdir itu ada juga yang bisa diubah dengan cara usaha dan doa," jelas Nini.

Nini melanjutkan, adalah tugas orang tua dalam membentuk anak-anak mereka dalam menjalani takdir yang telah ditetapkan. Meski ada anak yang ditakdirkan menjadi durhaka, tapi dengan bimbingan dan doa dari orang tuanya bukan tidak mungkin takdir si anak bisa berubah. Demikan juga sebaliknya.

Ada cerita seorang Uztads yang sangat sholeh diakhir kiamat menempati surga karena semua amalannya. Sementara anaknya, ternyata menghuni neraka karena segala dosanya. Saat disiksa, si anak mengadu pada malaikat. Mengapa bapaknya bisa masuk surga, sementara dia tidak? Padahal menurut si anak, dia menjadi durhaka karena si bapak yang tidak pernah membimbing dan mengajarkan amalan baik. Mendengar hal tersebut, malaikat mengkonfirmasi langsung kepada si bapak. Si bapak mengakui kelalaiannya yang tidak mendidik si anak dengan baik. Atas kelalaian tersebut, si bapakpun dibuang ke neraka.

Mendengar ini, saya langsung protes sama Nini. Saya bilang bahwa setiap anak itu punya kehendak sendiri. Kadang sudah sedemikan rupa kita mengajarkan kebaikan pada seorang anak, tapi ketika dihadapkan oleh lingkungan dan hasrat dari anak itu sendiri bukan tidak mungkin, semua ajaran kita akan sia-sia.

Lalu Nini menjelaskan, jika orang tua sudah memberikan bimbingan dan mencurahkan segala kebaikan pada si anak, tapi dia tetap tumbuh menjadi anak durhaka, maka hal tersebut tidak lagi menjadi dosa orang tua. “Dan ingat, kita jangan hanya mengajarkan anak untuk berbuat baik. Tapi kita juga harus memberi contoh pada mereka,” pungkas Nini.

Sunday, August 24, 2014

Office Syndrome

Seorang teman sering mengeluh soal pekerjaannya. Awalnya saya tidak menanggapi. Karena bagi saya, kerja dimana saja sama. Konfliknya-pun tidak jauh berbeda.

Sampai suatu hari dia mengirim pesan, bahwa dia sudah benar-benar tidak sanggup lagi bekerja di tempat itu. Setiap sampai kantor, teman saya ini kerap menderita sakit kepala hebat. Dia menyebutnya office syndrome. Karena berkali-kali memeriksakan diri ke dokter, hasilnya selalu bagus. Tidak ada masalah kesehatan yang signifikan. Ia berkesimpulan, bekerja di kantor itulah yang membuatnya sakit kepala.

Ada beberapa faktor yang menurut teman saya ini menjadi pemicu ketidaknyamananya. Mulai dari load kerja sampai dengan bos yang tidak menyenangkan.

Jujur saya sedih mendengar ini. Sedih karena dia sampai harus mengalami stres berat karena bekerja. Padahal kalau dipikir-pikir, load kerja atau bos nyebelin itu biasa banget kan? Apalagi rasa stres yang dirasakan teman saya ini, juga meningkat ketika dia mengingat hingga saat ini belum juga mendapatkan tempat kerja baru.

Dari situ sebenarnya saya sering memberinya nasihat. Bahwa kita perlu kerja. Bahwa mencari kerja itu tidak mudah. Karena itu kita harus sabar. Kita harus banyak bersyukur, bla.. bla.. bla.. Apalagi secara finansial, salary yang diterima teman saya ini terbilang tinggi.

Saya bisa bilang begini, karena belajar dari pengalaman yang pernah emosional ketika memutuskan berhenti. Sempat culture shock juga karena biasa hidup dengan dua pendapatan, lalu tiba-tiba hanya ada satu pemasukan. But I never regret it.

Anyway, beruntung saya masih punya suami yang mensupport tidak hanya financially, tapi semua kegilaan saya (hehe..) Jadi walaupun hidup pas-pasan, tapi at least kami tidak kelaparan.

Sementara suami teman saya ini, hanya seorang wiraswasta yang tidak bisa diandalkan untuk mencukupi segala kebutuhan. Hal ini yang membuat dia (katanya) semakin dilemma.

Berbicara soal resign, saya sendiri dulu pernah begitu menyukai pekerjaan saya. Tapi sayang, benefit yang diberikan perusahaan terbilang minim sehingga saya tidak betah, kena office syndrome dan akhirnya mencari pekerjaan baru.

Dasar manusia, ketika keinginan terwujud saya mengeluh lagi karena pekerjaannya tidak saya suka. Setiap ngantor, lagi-lagi saya kerap kena office syndrome. Dari situ saya sadar, gaji besar tidak menjamin kita semangat bekerja.

So what I’m trying to say is : It’s not a big deal quitting from terrible job, but you have to ready with all the consequences. Beda cerita kalau kita resign, tapi sudah mendapatkan pekerjaan baru. Karena yang bikin pusing, kalau resign dan jadi pengangguran. Hehe..

Yah, hidup memang sebuah pilihan. Tapi apapun itu, yang perlu digarisbawahi adalah : bahwa sampai kapanpun, kita tidak akan pernah mendapat semua yang kita mau.

Jadi, mari kita banyak bersyukur.