I could stay at home, but I prefer to work because I wanna teach my kids nothing in life comes easy ...
Sunday, November 8, 2009
Punya baby
Saturday, July 25, 2009
Tentang Pilihan
Mereka sebal menjadi orang yang kalah karena pilihan mereka (yang sebenarnya juga bukan pilihan mereka) kalah. Tapi intinya, mereka gundah karena menjadi sosok yang beda, tidak mengikuti trend dan sebagainya.
Bagi saya, tidak ada yang salah dari pilihan saya meski kalah. Dan saya terenyuh ketika membaca tulisan seorang tokoh yang begitu meyakini pilihannya benar meski kalah. Karena bagi saya (atau mungkin dia), kekuasaan cenderung korup apalagi jika dibiarkan terlalu lama dipundak orang yang sama.
Tapi mengutip tokoh tadi, saya hanya bisa bilang : Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global…
---------
Mengapa JK Saya Promosikan?
Sabtu, 25 Juli 2009 | 04:48 WIB
Ahmad Syafii Maarif
Dalam kultur demokrasi yang kita perjuangkan agar kian sehat, kuat, dan bersih, mungkin tidak ada salahnya menyampaikan ”rahasia” dapur politik pribadi.
Pada putaran pertama Pilpres 2004, saya memilih Amien Rais-Siswono. Mereka saya pandang akan melakukan perubahan politik yang lebih berpihak kepada rakyat, tidak membungkuk kepada asing. Pilihan itu saya nilai benar meski kalah—posisi nomor empat, di atas Hamzah Haz-Agum Gumelar—karena aneka faktor.
Meski Amien Rais-Siswono menjadi pilihan saya, kekalahan ini tidak mengagetkan meski menyisakan perasan tak sedap. Setelah Amien Rais kandas, untuk beberapa lama, merasa tak nyaman melihat saya. Tim suksesnya menduga, saya tidak mendukung sepenuh hati.
Dalam posisi sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya tidak mungkin melangkah lebih jauh. Perkara ada pihak yang tidak nyaman, biarlah itu menjadi simpanan dalam memori masing-masing. Saya menerima semuanya dengan perasaan biasa.
Rindu Indonesia sejahtera
Jika melihat hasil pertarungan politik beberapa tahun terakhir, saya sadar tidak punya pengaruh signifikan dalam pemilu legislatif dan pilpres. Karena itu, jangan memandang saya sebagai warga penting di republik ini. Saya adalah seorang warga sepuh yang amat merindukan Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat penuh. Jika saya kadang terkesan mengeluarkan pernyataan bernuansa politik, itu karena kecintaan saya kepada bangsa dan negara ini agar cepat keluar dari belenggu ketidakpastian.
Bisa saja pernyataan semacam itu dinilai kurang arif. Itu risiko yang harus saya terima. Di dunia politik, orang tidak jarang memberi tafsiran saling berlawanan, bahkan tafsiran liar. Saya ingin, pemimpin puncak Indonesia modern adalah pribadi yang teguh, berani, tegas, tidak peragu. Pertimbangan inilah yang sering memaksa saya untuk tidak diam.
Soal JK
Kembali ke Pilpres 2004. Karena pilihan saya kandas dalam ronde pertama, pasangan yang akan bertarung 20 September 2004 adalah Mega-Hasyim versus SBY-JK. Lagi-lagi karena ingin perubahan, saya beralih ke pasangan SBY-JK meski hubungan baik dengan Mega-Hasyim tetap terjaga.
Kepala BIN Syamsir Siregar bersama pengusaha Rusdi Latif malah mengajak saya ke Aceh untuk sekadar membaca peta meski sebenarnya telah terjadi kampanye terselubung. Di Aceh saya tidak menganjurkan untuk memilih pasangan yang mana, tetapi karena bersama rombongan BIN, orang tentu akan memberi tafsiran tersendiri.
Sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya berusaha netral, tetapi amat sulit. Sebagaimana dimaklumi, SBY-JK memenangi Pilpres 2004. KPU yang dibentuk di bawah pemerintahan Mega-Hamzah, meski belakangan menyisakan masalah hukum, telah bekerja profesional. Hampir tidak ada protes atas kinerja KPU dalam Pileg/Pilpres 2004.
Dengan latar belakang itu, mengapa pada Pilpres 2009 saya mempromosikan JK berpasangan dengan Wiranto? Tentu dengan kelebihan dan kekurangannya. Mohon maaf jika saya tidak pernah simpati kepada Golkar meski JK ketua umumnya. Saya memilih JK berdasar jejak rekam dan kiprahnya dalam politik kebangsaan selama 10 tahun terakhir, yang saya nilai positif dan berani. Seandainya JK lahir di Jawa, Kalimantan, atau Ende, tetapi dengan jejak rekam yang sama, saya tetap memilihnya.
Jadi, tidak ada hubungan dengan jargon Jawa-luar Jawa, hal yang sudah lebur dalam kemasan keindonesiaan saya. Tentang jejak rekam JK, banyak dibongkar, bertalian dengan proses perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh, gertakan terhadap IMF yang ingin mendikte Indonesia, atau beberapa kebijakan publik yang kontroversial. Faktanya jelas. Para penulis sejarah politik kebangsaan pasti akan bermunculan untuk mengenal lebih jauh sosok JK meski dia gagal menjadi presiden ke-7 Indonesia.
Sebenarnya, baru belakangan JK menyatakan siap dicalonkan menjadi presiden karena desakan berbagai situasi, bukan diarsiteki lebih dini. Jika dirancang sejak dua tahun sebelumnya, strategi akan lebih matang meski Golkar tidak sepenuh hati mendukung.
Ketika sekitar dua tahun lalu saya katakan kepada JK agar berpikir untuk maju sebagai capres, isyarat yang terlihat adalah ”geleng”, bukan ”angguk”. Artinya, sejak mula JK tidak pernah bermimpi menjadi presiden. Maka, kekalahannya secara kesatria dapat dipahami, karena tidak ingin menjadi presiden.
Namun, jika hoki, saya percaya Indonesia akan berubah ke arah lebih baik dan bermartabat dalam tempo cepat. Seandainya ada putaran kedua dan yang lolos pasangan SBY-Boediono versus Mega-Prabowo, demi perubahan, pilihan saya jatuh kepada Mega-Prabowo, dengan segala catatan kaki terhadap mereka.
Tak menyesal
Meski terempas, saya tak menyesal telah mendukung JK-Wiranto karena negeri ini memerlukan pemimpin nasional yang tangguh dan sigap, kualitas yang terlihat pada pasangan itu.
Dalam pertimbangan serupa, saya berharap agar pemilih pasangan SBY-Boediono jangan menyesal jika janji-janji tidak menjadi kenyataan, kemiskinan tetap mendera bangsa ini.
Kekalahan JK tidak perlu ditangisi sebab sejarah akan mencatat, dalam Pilpres 2009 demokrasi Indonesia masih terpukau bentuk, bukan jejak rekam substansial seseorang.
Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global.
Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah
http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04481387/mengapa.jk.saya.promosikan
Monday, May 25, 2009
Hey … Meita, mengapa kamu tidak pernah menulis lagi?
Thursday, April 2, 2009
Bahagia
Seusai menjalankan tugas, saya dan tim mendapat sedikit kejutan dari narasumber yang menjadi tamu program kami beberapa waktu lalu. Ia menghadiahkan kami sejumlah buku plus tanda tangan dan sebaris pesan mencerahkan. Untuk dua kameramen dan satu anak magang yang merupakan bagian dari tim kami, ia menuliskan pesan yang sama: “Semoga sukses, bla…bla…bla…,” begitu sebutnya.
Lalu tiba giliran saya.
Kening saya berkerut penuh tanda tanya. Seakan menangkap segala kebingungan saya, ia pun langsung berkata …. “Kamu tahu meita, wanita itu harus bahagia. Jika ternyata dia juga sukses, itu bonus. Tapi pria itu harus sukses. Dan jika dia bahagia, itu bonus….”
Hmmm…. Bener banget pak. Saya ingin bahagia.
Itu saja… =’)
meita annissa
Wednesday, December 10, 2008
Kompromi
Pesan itu berisi ajakan untuk belajar lebih berkompromi. Terhadap hidup, terutama dalam sebuah hubungan. “Lo tolong buka blog gw, lita di list artikel kiri atas, klik tulisan ‘titik temu’” begitu ucapnya diakhir pesan.
Untuk beberapa hal, saya punya banyak kesamaan dengan sahabat saya ini. Pun dari cara pandang dan dalam memaknai sebuah permasalahan, kita tidak jauh beda. Termasuk dalam hal yang satu ini : kompromi.
Dia bilang berkompromi adalah “Saat saya mengurangi kemauan saya dan dia menambah upaya untuk memenuhi keinginan saya. Ketika dia sedikit mengabaikan kepentinganya dan saya berusaha untuk selalu memahaminya.” Ok , dalam tataran wacana teori teman saya ini mungkin terdengar hampir sempurna. Tapi toh pada kenyataanya, terutama apa yang saya alami sekarang teori tersebut mentah begitu saja.
Tapi saya sadari, persoalan utama yang masih mengganjal adalah bagaimana mengenyampingkan ego dan menyadari bahwa perbedaan tidak harus disikapi secara frontal. Sayangnya bagi saya, ketika bicara soal masa depan sikap kompromis perlu sedikit dikesampingkan. Mungkin di satu sisi saya bisa menerima perbedaan tadi. Memahami berbagai kekurangan yang dimiliki. Tapi lagi-lagi jika bersentuhan dengan masa depan, maka saya akan menuntut sampai kapan saya harus menjadi seorang kompromis? Sementara disatu sisi, usaha menuju perubahan-yang saya nilai baik untuk masa depan, tidak dilakukan.
Untuk pertanyaan tadi, teman saya punya jawabanya. Ia bilang, hubungan dua manusia tidak sama dengan dagang, dimana satu barang harus ditukar dengan barang lain yang nilainya setara. “Jika kita punya cabe, sementara yang orang butuhkan adalah kecap, kita tak harus memaksakan diri menyerahkan cabe untuk mengganti roti yang telah dia berikan. Dia juga tidak perlu memaksakan diri makan gudeg (sahabat saya ini orang jawa) meski saya telah belajar makan konro (calon suaminya orang makassar). Ada kalanya saya dan dia membiarkan sesuatu apa adanya, tanpa harus ditambah atau dikurangi agar berada di titik tengah.”
Tentu saya setuju dengan pernyataan teman saya tadi. Terlebih dalam argumenya kali ini, dia memberi catatan dimana saya pun berpikir demikian: “Standar baku untuk cowok itu hanya dua aja kok met: tanggung jawab & mau berusaha” ucapnya. Lalu dengan hanya menggantongi dua standar baku tersbeut, namun ternyata hanya satu yang bisa dipenuhi, apa saya masih bisa bersikap kompromi?
Thursday, November 13, 2008
Pertemuan dengan Anto Djadul

“Saya Anto mba.., Anto Djadul. Djadul-nya jangan lupa yah,” ujar pria kurus hitam itu tersipu malu saat kali pertama kami bertemu. Pagi itu ia menggunakan pakaian lengkap khas tentara kompeni di era penjajahan Belanda dulu. Kemeja putih yang sudah menguning warnanya termakan usia, dipadukan dengan dasi kumal warna merah dan jas putih serasi dengan celana panjang warna senada plus topi bulat putih yang akan mengingatkan kita pada jaman dahulu kala. "Ini (setelan jas dan celananya) baru datang lo mba. Baru tadi pagi dikirim dari Jawa. Harga satu stelnya Rp.160 ribu," jelas Anton sembari memamerkan giginya yang menguning dan tak karuan bentuknya.
Hari ini kami akan melakukan pengambilan gambar untuk salah satu program, di sebuah stasiun televisi swasta. Program berita ringan yang bertutur tentang perjalanan sejarah. Produser kami sengaja mendaulat pria asal Jawa Tengah itu sebagai memandu acara yang memang sesuai dengan penampilan serta hobi Anto yang menggilai apapun yang bernuansa tempo doeloe. Jadi di acara ini, Anto tak perlu menjadi orang lain. Cukup dirinya sendiri.
Anto memang unik. Dari pertama kali bertemu, dia memang sudah unik. Bayangkan saja, ketika kami menjemput di bawah jembatan pasar glodok, ia pede saja dengan 'seragam' lengkapnya itu beserta sepeda ontel tua miliknya yang menjadi properti produksi, berdiri di pinggir trotoar sembari celingak-celingung mencari mobil kami. Semua mata tertuju padanya.
Tapi Anto tetap cuek bebek. Ia tidak melepas kostum lalu menggantinya dengan kaos biasa, meski keringat terus mengucur karena panasnya cuaca Kota pagi itu. "Wah.. aku sudah nunggu dari tadi mba," ucapnya dengan logat Jawa kental sembari melangkah masuk ke mobil kami.
Pertemuan Anto dengan kru stasiun televisi swasta itu memang tidak disengaja. Kala itu, Anto adalah narasumber mereka. Tertarik dengan penampilanya yang lugu dan apa adanya, Anto pun di daulat menjadi pemandu acara. Entah karena untuk menekan budget atau guna menonjolkan karakter si host, sang produser menyerahkan seluruh urusan kostum dan properti ke Anto sendiri.
Mulai dari kacamata tua ala John Lennon, sepeda ontel sampai kamera yang meski sudah tua namun masih berfungsi dengan baik. Jika membutuhkan properti atau kostum tambahan, sang produser tinggal meminta Anto untuk mencari dan membelinya sendiri. Tentu, nanti uang yang sudah ia keluarkan akan diganti.
Sehari-hari, ia adalah tukang parkir di kawasan Glodok Kota. Kawasan yang tak pernah mati, meski malam tengah beranjak pagi. Dua belas tahun sudah ia menggeluti profesi ini. "Tapi saya ga pernah masuk ke dalam mba. Padahal saya pengen banget tau ada apa disana. Paling kedengeran suaranya aja. Jedag.. Jedug..," selorohnya.
Anto tinggal sendiri di Jakarta disebuah kamar petak kumuh yang tak jauh dari kawasan tempatnya bekerja. Sementara istri dan kedua anaknya hidup di desa. Bertahun-tahun, sang istri mengidap kanker rahim yang ketika saya tanya sudah stadium berapa, ia malah mengeleng tak tahu apa arti istilah itu. "Pokoknya perutnya sudah dioperasi berkali-kali. Bekas jahitanya aja banyak banget," ungkap Anto.
Penghasilan Anto sendiri sebagai tukang parkir, jelas tak seberapa. Dalam sehari ia bisa mengantongi Rp. 100 ribu dimana 30 persenya harus disetor ke Dinas Perhubungan DKI. Namun, karena keunikannya tadi, ia juga kerap menjadi model untuk fotografer-fotografer profesional maupun amatir yang ingin menciptakan foto dengan tema tempo doeloe. "Nih mba, liat foto-fotoku. Bagus kan? Yang moto Yudistira loh mba. Dia fotografer, juga pengacara," jelas Anto pamer.
Namun lagi-lagi, uang yang di dapat pun tak seberapa. Apalagi pekerjaan jadi model ini sifatnya musiman. Karena itu dengan profesi barunya sebagai presenter, Anto tak henti-hentinya berucap syukur. Mempercayai, bahwa Tuhan memang selalu ada untuknya.
Meski tidak berpendidikan tinggi, tapi cara kerja Anto menurutnya saya sangat profesional. Ia pantang mengeluh. Selalu tersenyum dan bertingkah konyol yang mengundang berjuta tawa. "Kalo nanti mba kerja sama saya, maaf yah mba kalo saya susah diajarin. Maklum, cuma tukang parkir," kilahnya.
Ketika bercerita tentang sang istri, tak ada guratan kesedihan yang tergambar di wajah Anto. Entah karena penyakit istrinya yang sudah bertahun-tahun atau karena begitu lah sifat alaminya. "Yang jelas, gusti Allah pasti sayang sama aku. Kalo sudah rajin solat malam dan berdoa tapi masih saja ada cobaan, berarti gusti Allah sayang sekali sama aku," pungkasnya.
-----
Hmmm.. jadi mau tau seperti apa Anto Djadul, nonton Riwajatmoe Doeloe yah di TVOne. Tiap Jumat, jam 09.30 wib. Atau mo nonton Mata Kamera juga ga pa-pa. Cuma gw lupa waktunya kapan. Pokoknya seminggu dua kali lah tiap jam 19.00 wib. Heuheuheuheu.. =')
Aisa si Angsa
Tak heran, tidak sedikit juga yang enggan untuk berkawan. Mereka bilang ia pemarah, suka menyepelekan kemampuan teman serta berbagai kekurangan lainnya. Kadang karena kekurangan-kekurangan itu, meski ia ingin berbuat baik malah justru dipandang negatif. Tapi Aisa tidak mau ambil pusing. Ia tetap ceria menjalani hari. Terutama untuk mengejar semua mimpi.
Konon kabarnya ada sebuah danua yang indah di negeri nun jauh disana. Airnya tenang, jernih dan berkilau ditimpa sinar mentari kala pagi tiba. Angsa-angsa disana juga ramah-ramah dan begitu terbuka kepada siapa saja. Namun yang paling menggiurkan adalah ketika teman aisa yang pernah berkunjung kesana berkata, di danau itu ia bisa meraup berjuta pengalaman yang akan menuntunya menuju masa depan cemerlang. Berkunjung ke negeri itu, menjadi mimpi aisa saat ini.
Namun sayang, untuk menggapai itu bukan perkara mudah. Banyak yang harus aisa persiapkan luar dan dalam. Mengorbankan apapun juga, demi meraih kehidupan yang lebih baik. Sementara tak jarang teman-teman aisa mengingatkan, bahwa di danau yang ia diami saat ini pun kehidupan lebih baik bisa diwujudkan.
Aisa bingung. Ia gamang. Tak tau harus berbuat apa. Disatu sisi, mimpi menikmati hidup di danau indah itu kian menyesakan diri. Namun disisi lain, ia menyadari beragam keterbatasan yang berdiri bagai tembok kokoh dihadapanya. Berjuta keraguan bergumul hebat di kepala. Haruskah ia menyerah dan fokus pada hidupnya sekarang atau tetap mengejar mimpi meski harus berjalan pelan.
Memang apa yang teman-teman aisa katakan, ada benarnya juga. Hidup aisa, tidak terlalu buruk. Bahkan kerap kali ia lebih beruntung. Misalnya di tempatnya saat ini, aisa relatif mudah mencari makanan dengan ikan-ikan kaya gizi sehingga ia bisa tumbuh sehat dan bulu-bulunya pun mulai terlihat lebih indah.
Karena terus belajar menguatkan sayap-sayapnya, dan tentu dengan sedikit keberuntungan karena arah angin yang mendukung, aisa juga pernah berkunjung ke negeri indah nun jauh disana. Sesuatu paling membahagiakan bagi angsa betina yang selalu punya semangat itu. Namun sayang, hal tersebut hanya sekejap saja. Dan kini, keinginan untuk mengulang keberuntungan itu selalu menghantui tidur aisa.
Kegamangan terus mewarnai hidup Aisa. Benarkah, mimpinya itu terlalu mustahil untuk diwujudkan. Jika tidak, sampai kapan ia bertahan mengumpulkan keping demi keping harapan. Toh sekeras apapun ia berusaha, tetap saja Aisa tak mampu mengepakan sayap sekuat-kuatnya untuk meraih segala cita. Dan kini, Aisa patah arang.