Sunday, November 8, 2009

Punya baby

Ada banyak alasan kenapa saya menunda kehamilan. Mulai dari masalah pekerjaan, psikologis, sampai kondisi finansial kami berdua. Klise memang, tapi hal-hal itu yang sangat menggangu saya. Soal pekerjaan misalnya, ketika menikah dulu usia bekerja saya di perusahaan baru belum genap 6 bulan. Entah mengapa merasa tak etis saja, kalau belum apa-apa sudah berbadan dua.

Terlebih kondisi finansial kami berdua, waah.. benar-benar bikin pusing kepala. Karena dengan sok-sok an, kami menginvestasikan semua tabungan, termasuk pemotongan gaji selama 15 tahun kedepan untuk rumah tipe sangat-sangat sederhana. Entah lah, bagi kami berdua rasanya rumah itu segalanya. Karena berangkat dari sini, kami bisa lebih tenang membangun masa depan.

Namun produser saya saat itu, membantah habis-habisan argumen soal penundaann kehamilan ini. Bagi dia, kalau bisa sekarang, kenapa harus nanti. Kemudian masalah finansial, menurut dia dalam hidup 1 + 2 itu tidak sama dengan 3. Tapi bisa saja 4 atau mungkin 7. Selalu ada kemungkinan-kemungkinan yang tidak terbayangkan dan kekhawatiran-kekhwatiran itu hanya akan menambah beban hidup. Walaupun ia tetap menggarisbawahi pentingnya perencanaan dan tentu saja kerja keras.

Lo percaya ga met, gw pernah dapet bonus 10 gaji. Dari bonus itu gw ngelunasin semua utang-utang gw, dan beli kebutuhan lain yang sebelumnya ga pernah terpikir bakal kebeli,” ucapnya kala itu."

Dalam perbincangan santai dengan salah satu petinggi kantor yang wajahnya kerap muncul ketika perusahaan sedang bagi-bagi bantuan (narsis abis lah pokoknya), juga mengungkapkan hal yang sama. Ia bilang, ia selalu menemukan jalan ketika tengah pusing memikirkan biaya untuk kelahiraan tiap putranya.

Kaya anak gw yang terakhir, gw pusing banget nyari dari mana. Eh, tiba-tiba aja gw ditawarin gabung disini. Gw dapet duit, bahkan kompenasasi yang harus gw tanggung karena ninggalin kantor lama dibayarin juga sama tvone. Pas anak ke… (saya lupa anak keberapa), gw bahkan sampe kebeli mobil baru,” jelasnya panjang lebar."

Yah… memang hidup itu sulit ditebak. Kata seorang teman, manusia berencana Tuhan yang berantakin. Atas dasar itu, kenapa saya khawatir punya anak. Tahu sendiri dari orok ajah kebutuhannya sudah banyak, apalagi pas kuliah nanti, setelah ada UU yang mengkomersialkan pendidikan. Ga kebayang biaya yang mesti dikeluarkan. Waduh… bener-bener harus dipikiran mateng-mateng deh.

Tapi beberapa bulan belakangan ini, saya berada pada posisi jenuh dan bosan dengan hidup. Selain entah kenapa semakin jauh saja untuk mewujudkan mimpi, tiap hari saya juga selalu ditempa ritme kerja yang sangat gila. Sebuah perasaan miris, bahwa ternyata saya tidak lebih dari buruh yang diperas tenaganya dan membuat kaya si pemilik modal. Sudah tidak ada lagi kenikmatan bekerja (waahh.. jadi melebar kemana-mana nih).

Yah begitu lah, akhirnya saya berada dalam kondisi ‘ingin punya anak’. Karena saya berpikir, pasti perusahaan juga punya hati nurani. Masa bumil masih disuruh kerja rodi, hihihi.. Apalagi menegok rekan sekantor yang ketika dinyatakan hamil, langsung di grounded-kan. Hehe.. dalam artian beban kerjanya lebih berkurang begitu. Pasti nikmaaattt banget..

Apalagi saya yang dituntut harus tampil di tipi, ga mungkin kan bumil yang badannya melendung kaya babi tetep disuruh wara-wiri di tipi? Haha… atas dasar pertimbangan itu, SAYA INGIN PUNYA BABY… dan tentu saja, agar kehidupan kami berdua bisa lebih baik lagi. Amiennn....

Hmm.. doain kami yaaahhh… =’)

Saturday, July 25, 2009

Tentang Pilihan

Hari ini saya kena semprot dua kali. Pertama dari ibu saya kedua dari adik saya. Mereka mencak-mencak karena pilihan mereka pada Pilpres kemarin kalah telak. Meraka kesal karena ketika hari pencontrengan bisa menerima logika yang saya paparkan mengapa sebaiknya pilih sosok yang kemungkinan besar bisa membawa perubahan.

Mereka sebal menjadi orang yang kalah karena pilihan mereka (yang sebenarnya juga bukan pilihan mereka) kalah. Tapi intinya, mereka gundah karena menjadi sosok yang beda, tidak mengikuti trend dan sebagainya.

Bagi saya, tidak ada yang salah dari pilihan saya meski kalah. Dan saya terenyuh ketika membaca tulisan seorang tokoh yang begitu meyakini pilihannya benar meski kalah. Karena bagi saya (atau mungkin dia), kekuasaan cenderung korup apalagi jika dibiarkan terlalu lama dipundak orang yang sama.

Tapi mengutip tokoh tadi, saya hanya bisa bilang : Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global…


---------


Mengapa JK Saya Promosikan?
Sabtu, 25 Juli 2009 | 04:48 WIB

Ahmad Syafii Maarif

Dalam kultur demokrasi yang kita perjuangkan agar kian sehat, kuat, dan bersih, mungkin tidak ada salahnya menyampaikan ”rahasia” dapur politik pribadi.

Pada putaran pertama Pilpres 2004, saya memilih Amien Rais-Siswono. Mereka saya pandang akan melakukan perubahan politik yang lebih berpihak kepada rakyat, tidak membungkuk kepada asing. Pilihan itu saya nilai benar meski kalah—posisi nomor empat, di atas Hamzah Haz-Agum Gumelar—karena aneka faktor.

Meski Amien Rais-Siswono menjadi pilihan saya, kekalahan ini tidak mengagetkan meski menyisakan perasan tak sedap. Setelah Amien Rais kandas, untuk beberapa lama, merasa tak nyaman melihat saya. Tim suksesnya menduga, saya tidak mendukung sepenuh hati.

Dalam posisi sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya tidak mungkin melangkah lebih jauh. Perkara ada pihak yang tidak nyaman, biarlah itu menjadi simpanan dalam memori masing-masing. Saya menerima semuanya dengan perasaan biasa.

Rindu Indonesia sejahtera

Jika melihat hasil pertarungan politik beberapa tahun terakhir, saya sadar tidak punya pengaruh signifikan dalam pemilu legislatif dan pilpres. Karena itu, jangan memandang saya sebagai warga penting di republik ini. Saya adalah seorang warga sepuh yang amat merindukan Indonesia yang adil, sejahtera, dan berdaulat penuh. Jika saya kadang terkesan mengeluarkan pernyataan bernuansa politik, itu karena kecintaan saya kepada bangsa dan negara ini agar cepat keluar dari belenggu ketidakpastian.

Bisa saja pernyataan semacam itu dinilai kurang arif. Itu risiko yang harus saya terima. Di dunia politik, orang tidak jarang memberi tafsiran saling berlawanan, bahkan tafsiran liar. Saya ingin, pemimpin puncak Indonesia modern adalah pribadi yang teguh, berani, tegas, tidak peragu. Pertimbangan inilah yang sering memaksa saya untuk tidak diam.

Soal JK

Kembali ke Pilpres 2004. Karena pilihan saya kandas dalam ronde pertama, pasangan yang akan bertarung 20 September 2004 adalah Mega-Hasyim versus SBY-JK. Lagi-lagi karena ingin perubahan, saya beralih ke pasangan SBY-JK meski hubungan baik dengan Mega-Hasyim tetap terjaga.

Kepala BIN Syamsir Siregar bersama pengusaha Rusdi Latif malah mengajak saya ke Aceh untuk sekadar membaca peta meski sebenarnya telah terjadi kampanye terselubung. Di Aceh saya tidak menganjurkan untuk memilih pasangan yang mana, tetapi karena bersama rombongan BIN, orang tentu akan memberi tafsiran tersendiri.

Sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, saya berusaha netral, tetapi amat sulit. Sebagaimana dimaklumi, SBY-JK memenangi Pilpres 2004. KPU yang dibentuk di bawah pemerintahan Mega-Hamzah, meski belakangan menyisakan masalah hukum, telah bekerja profesional. Hampir tidak ada protes atas kinerja KPU dalam Pileg/Pilpres 2004.

Dengan latar belakang itu, mengapa pada Pilpres 2009 saya mempromosikan JK berpasangan dengan Wiranto? Tentu dengan kelebihan dan kekurangannya. Mohon maaf jika saya tidak pernah simpati kepada Golkar meski JK ketua umumnya. Saya memilih JK berdasar jejak rekam dan kiprahnya dalam politik kebangsaan selama 10 tahun terakhir, yang saya nilai positif dan berani. Seandainya JK lahir di Jawa, Kalimantan, atau Ende, tetapi dengan jejak rekam yang sama, saya tetap memilihnya.

Jadi, tidak ada hubungan dengan jargon Jawa-luar Jawa, hal yang sudah lebur dalam kemasan keindonesiaan saya. Tentang jejak rekam JK, banyak dibongkar, bertalian dengan proses perdamaian di Poso, Ambon, dan Aceh, gertakan terhadap IMF yang ingin mendikte Indonesia, atau beberapa kebijakan publik yang kontroversial. Faktanya jelas. Para penulis sejarah politik kebangsaan pasti akan bermunculan untuk mengenal lebih jauh sosok JK meski dia gagal menjadi presiden ke-7 Indonesia.

Sebenarnya, baru belakangan JK menyatakan siap dicalonkan menjadi presiden karena desakan berbagai situasi, bukan diarsiteki lebih dini. Jika dirancang sejak dua tahun sebelumnya, strategi akan lebih matang meski Golkar tidak sepenuh hati mendukung.

Ketika sekitar dua tahun lalu saya katakan kepada JK agar berpikir untuk maju sebagai capres, isyarat yang terlihat adalah ”geleng”, bukan ”angguk”. Artinya, sejak mula JK tidak pernah bermimpi menjadi presiden. Maka, kekalahannya secara kesatria dapat dipahami, karena tidak ingin menjadi presiden.

Namun, jika hoki, saya percaya Indonesia akan berubah ke arah lebih baik dan bermartabat dalam tempo cepat. Seandainya ada putaran kedua dan yang lolos pasangan SBY-Boediono versus Mega-Prabowo, demi perubahan, pilihan saya jatuh kepada Mega-Prabowo, dengan segala catatan kaki terhadap mereka.

Tak menyesal

Meski terempas, saya tak menyesal telah mendukung JK-Wiranto karena negeri ini memerlukan pemimpin nasional yang tangguh dan sigap, kualitas yang terlihat pada pasangan itu.

Dalam pertimbangan serupa, saya berharap agar pemilih pasangan SBY-Boediono jangan menyesal jika janji-janji tidak menjadi kenyataan, kemiskinan tetap mendera bangsa ini.

Kekalahan JK tidak perlu ditangisi sebab sejarah akan mencatat, dalam Pilpres 2009 demokrasi Indonesia masih terpukau bentuk, bukan jejak rekam substansial seseorang.

Selamat kepada SBY-Boediono, pemenang Pilpres 2009. Semoga kita belajar dari kegagalan atau keberhasilan masa lampau. Amanat perbaikan bangsa lima tahun mendatang ada di pundak SBY-Boediono. Siapa tahu pasangan ini membawa terobosan signifikan bagi Indonesia yang berwibawa dan diperhitungkan dalam percaturan global.

Ahmad Syafii Maarif Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

http://koran.kompas.com/read/xml/2009/07/25/04481387/mengapa.jk.saya.promosikan

Monday, May 25, 2009

Hey … Meita, mengapa kamu tidak pernah menulis lagi?

Hey … Meita, mengapa kamu tidak pernah menulis lagi? Hmmm… Iyah, lama banget yah saya tidak menulis. Sepertinya sudah mulai lupa bagaimana caranya merangkai kata-kata. Ga tau kenapa, mungkin karena hidup saya yang mulai ‘templete’. Gampang diterka, selanjutnya apa. Singkat kata, terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Dan semua soal politik dan politik dan politik lagi. Huh … saya jenuh!!!  

Memang beberapa waktu lalu Produser saya sudah menawarkan untuk menggarap program lain. Wow senengnya minta ampun. Tapi sepertinya dia setengah hati. Karena tiap hari masih saja saya diajak berdiskusi dan menanyakan siapa narasumber berikutnya. Huhuhu …  
Sebenarnya saya senang dengan apa yang saya lakukan. Tapi wajar saja kalau saya merasa bosan dan sekarang berada pada titik akumulasi tertinggi. Butuh suasana baru, sehingga kreatifitas tidak buntu. Seperti sekarang ini nih, huhuhu …  

Tapi sebenarnya lagi, saya juga sudah muak dengan prilaku elit politik kita. Pragmatis dan pathethic. Entah kenapa saya sangat yakin seyakin-yakinnya bahwa dalam pemilu Legislatif kemarin hampir seluruh partai politik peserta Pemilu melakukan kecurangan. 
Hanya disini, kecurangan tersebut dilakukan dengan cantik dan apik serta terbalut system oleh Partai Demokrat sehingga suaranya bisa melonjak hingga sekitar 300 persen.  

Hmmm .. memang sih, ini hanya sekedar asumsi saya. Terutama setelah berbincang dengan salah-satu praktisi politik kenamaan tanah air, Denny JA. Dia bilang, bagaimanapun juga akan sulit mengalahkan incumbent. Sebab menurutnya, orang yang berada di lingkaran kekuasaan akan lebih mudah memenangkan pertarungan. “Yah misalnya pembagian Bantuan Langsung Tunai yang dilakukan beberapa minggu sebelum hari pencontrengan,” begitu katanya.  

Tapi ya sudah lah, sudah lewat juga. Sekarang saatnya melihat Pilpres. Masih asumsi saya, sepertinya Indonesia sedang krisis tokoh. Coba diantara kandidat yang ada, kok tidak ada yah yang bisa menggoda saya untuk mencontreng mereka. Walaupun katanya popularitas salah satu kandidat, Pak Beye, cukup tinggi, tetap saja bagi saya tidak ada apa-apanya. Kita sudah lihat lah bagaimana cara dia memimpin, apa saja pencapain yang sudah diraih. Dan lagi-lagi menurut saya tidak ada yang fenomenal. Lalu kenapa kita harus memilih dia lagi? Kenapa tidak dikasih kesempatan orang lain untuk memimpin. Hmm .... yah itu dia, karena memang tidak ada yang bisa dipilih lagi.  

Masih menurut Denny JA, dari survey yang lembaganya lakukan beberapa waktu, tingkat popularitas Pak Beye memang tinggi. Tapi dalam salah satu klausal yang ditanyakan kepada masyarakat, ternyata yang pro perubahan jauh lebih tinggi daripada pro status quo. Dari situ saya bisa menarik kesimpulan bahwa masyarakat memilih Pak Beye karena memang tidak ada pilihan lain.  

Siapa coba dari ketiga kandidat yang kira-kira membawa perubahan? Megawati..? Ya ampun, bukannya mau mengunderestimate putrid Proklamator ini. Tapi kita bisa lihat bagaimana dia ketika memaparkan visi misi ekonomi di Depan Kadin. Ditanya apa, dijawab apa.  
Lalu JK, hmmm… honestly, I like this guy. But don’t you think he too old to being our leader? Jika dia tidak menggandeng Wiranto, bukan saya akan sedikit berpikir untuk memilih Pak tua.  
Bagaimana dengan pak Prabowo? Saya juga sedikit suka dia. Bukan karena saya pernah mewawancarainya, tapi saya tergoda dengan iklan-iklan politiknya. Terasa konkrit dan menggunakan angka dan data-data (two tumbs up buat konsultannya). Tapi saya tidak suka dengan karakternya yang tempramen dan masa lalu dia yang berdarah-darah itu (walaupun saya tahu, siapa Jendral di negeri ini yang ketika berkuasa pada saat Orde Baru tangannya tidak berdarah-darah?).  

Kalau Boediono, waduuhhh… no comment deh. Saya tidak tahu apa-apa soal dia. Tapi dengan keputusan Pak Beye menarik dia sebagai Cawapres seolah-olah menunjukan kepada asing bahwa Esbeye tidak tunduk atau ditekan oleh Partai Islam. (Ingat, Islam saat ini menjadi kekuatan yang dinilai 'mengancam' asing dan partai Islam banyak yang merapat ke Demokrat. Sementara dimata saya, Esbeye sangat ramah terhadap Asing, dalam hal ini Amerika).

Karena itu menurut praktisi Intelejen yang juga anggota DPR, Soeripto mengatakan, Pilpres nanti harus diselesaikan dalam satu putaranya saja (saya tidak tahu kenapa dia mengatakan ini. Hmm.. apa karena PKS mendukung Pak Beye?). Karena jika sampai dua putaran, dia khawatir akan terjadi chaos yang bisa saja lebih dahsyat dari ’98. “Mereka sama-sama terobesesi untuk berkuasa. Dan ingat juga, ini pertarungan antar Para Bintang,” terang Soeripto.  

Yaaah… begitu lah. Lihat saja nanti. Yang penting sekarang, saya siap-siap saja buat mengerjakan program baru. Hmm… Jalan-jalaaaannn. =’)  


Ps : tulisan ini murni pendapat pribadi. Tanpa tendensi apa-apa.

Thursday, April 2, 2009

Bahagia


Seusai menjalankan tugas, saya dan tim mendapat sedikit kejutan dari narasumber yang menjadi tamu program kami beberapa waktu lalu. Ia menghadiahkan kami sejumlah buku plus tanda tangan dan sebaris pesan mencerahkan. Untuk dua kameramen dan satu anak magang yang merupakan bagian dari tim kami, ia menuliskan pesan yang sama: “Semoga sukses, bla…bla…bla…,” begitu sebutnya.


Lalu tiba giliran saya. Ada sedikit jeda. Narasumber saya tadi tidak serta merta menuliskan pesan yang sama seperti pada rekan-rekan saya lainnya. “Kalau untuk kamu, pesannya apa yah meita,..?” tanyanya yang seolah ditujukan pada dirinya sendiri. Dan sejurus kemudian ia berujar sembari mulai menorehkan tinta penanya di buku yang akan diberikan kepada saya. “Untuk meita, semoga bahagia…..”


Kening saya berkerut penuh tanda tanya. Seakan menangkap segala kebingungan saya, ia pun langsung berkata …. “Kamu tahu meita, wanita itu harus bahagia. Jika ternyata dia juga sukses, itu bonus. Tapi pria itu harus sukses. Dan jika dia bahagia, itu bonus….”


Hmmm…. Bener banget pak. Saya ingin bahagia.


Itu saja… =’)




meita annissa

Wednesday, December 10, 2008

Kompromi

Sebuah pesan singkat masuk menjelang pukul tujuh pagi ini. Saat saya berusaha mengalahkan kantuk karena baru terlelap menjelang subuh dan menahan amarah karena janji yang telah dibuat dengan seorang rekan kerja tertunda hingga dua jam kedepan. Sebuah pesan singkat yang menyejukan sekaligus membuat saya tambah pusing saja. Pesan itu dari seorang sahabat yang meski tengah sibuk dengan urusan pernikahannya akhir pekan ini, namun masih sempat meluangkan waktu untuk memberi solusi atas sebuah persoalan diri.


Pesan itu berisi ajakan untuk belajar lebih berkompromi. Terhadap hidup, terutama dalam sebuah hubungan. “Lo tolong buka blog gw, lita di list artikel kiri atas, klik tulisan ‘titik temu’” begitu ucapnya diakhir pesan.


Untuk beberapa hal, saya punya banyak kesamaan dengan sahabat saya ini. Pun dari cara pandang dan dalam memaknai sebuah permasalahan, kita tidak jauh beda. Termasuk dalam hal yang satu ini : kompromi.


Dia bilang berkompromi adalah “Saat saya mengurangi kemauan saya dan dia menambah upaya untuk memenuhi keinginan saya. Ketika dia sedikit mengabaikan kepentinganya dan saya berusaha untuk selalu memahaminya.” Ok , dalam tataran wacana teori teman saya ini mungkin terdengar hampir sempurna. Tapi toh pada kenyataanya, terutama apa yang saya alami sekarang teori tersebut mentah begitu saja.


Tapi saya sadari, persoalan utama yang masih mengganjal adalah bagaimana mengenyampingkan ego dan menyadari bahwa perbedaan tidak harus disikapi secara frontal. Sayangnya bagi saya, ketika bicara soal masa depan sikap kompromis perlu sedikit dikesampingkan. Mungkin di satu sisi saya bisa menerima perbedaan tadi. Memahami berbagai kekurangan yang dimiliki. Tapi lagi-lagi jika bersentuhan dengan masa depan, maka saya akan menuntut sampai kapan saya harus menjadi seorang kompromis? Sementara disatu sisi, usaha menuju perubahan-yang saya nilai baik untuk masa depan, tidak dilakukan.


Untuk pertanyaan tadi, teman saya punya jawabanya. Ia bilang, hubungan dua manusia tidak sama dengan dagang, dimana satu barang harus ditukar dengan barang lain yang nilainya setara. “Jika kita punya cabe, sementara yang orang butuhkan adalah kecap, kita tak harus memaksakan diri menyerahkan cabe untuk mengganti roti yang telah dia berikan. Dia juga tidak perlu memaksakan diri makan gudeg (sahabat saya ini orang jawa) meski saya telah belajar makan konro (calon suaminya orang makassar). Ada kalanya saya dan dia membiarkan sesuatu apa adanya, tanpa harus ditambah atau dikurangi agar berada di titik tengah.”


Tentu saya setuju dengan pernyataan teman saya tadi. Terlebih dalam argumenya kali ini, dia memberi catatan dimana saya pun berpikir demikian: “Standar baku untuk cowok itu hanya dua aja kok met: tanggung jawab & mau berusaha” ucapnya. Lalu dengan hanya menggantongi dua standar baku tersbeut, namun ternyata hanya satu yang bisa dipenuhi, apa saya masih bisa bersikap kompromi?

Thursday, November 13, 2008

Pertemuan dengan Anto Djadul


“Saya Anto mba.., Anto Djadul. Djadul-nya jangan lupa yah,” ujar pria kurus hitam itu tersipu malu saat kali pertama kami bertemu. Pagi itu ia menggunakan pakaian lengkap khas tentara kompeni di era penjajahan Belanda dulu. Kemeja putih yang sudah menguning warnanya termakan usia, dipadukan dengan dasi kumal warna merah dan jas putih serasi dengan celana panjang warna senada plus topi bulat putih yang akan mengingatkan kita pada jaman dahulu kala. "Ini (setelan jas dan celananya) baru datang lo mba. Baru tadi pagi dikirim dari Jawa. Harga satu stelnya Rp.160 ribu," jelas Anton sembari memamerkan giginya yang menguning dan tak karuan bentuknya.

Hari ini kami akan melakukan pengambilan gambar untuk salah satu program, di sebuah stasiun televisi swasta. Program berita ringan yang bertutur tentang perjalanan sejarah. Produser kami sengaja mendaulat pria asal Jawa Tengah itu sebagai memandu acara yang memang sesuai dengan penampilan serta hobi Anto yang menggilai apapun yang bernuansa tempo doeloe. Jadi di acara ini, Anto tak perlu menjadi orang lain. Cukup dirinya sendiri.

Anto memang unik. Dari pertama kali bertemu, dia memang sudah unik. Bayangkan saja, ketika kami menjemput di bawah jembatan pasar glodok, ia pede saja dengan 'seragam' lengkapnya itu beserta sepeda ontel tua miliknya yang menjadi properti produksi, berdiri di pinggir trotoar sembari celingak-celingung mencari mobil kami. Semua mata tertuju padanya.

Tapi Anto tetap cuek bebek. Ia tidak melepas kostum lalu menggantinya dengan kaos biasa, meski keringat terus mengucur karena panasnya cuaca Kota pagi itu. "Wah.. aku sudah nunggu dari tadi mba," ucapnya dengan logat Jawa kental sembari melangkah masuk ke mobil kami.


Pertemuan Anto dengan kru stasiun televisi swasta itu memang tidak disengaja. Kala itu, Anto adalah narasumber mereka. Tertarik dengan penampilanya yang lugu dan apa adanya, Anto pun di daulat menjadi pemandu acara. Entah karena untuk menekan budget atau guna menonjolkan karakter si host, sang produser menyerahkan seluruh urusan kostum dan properti ke Anto sendiri.

Mulai dari kacamata tua ala John Lennon, sepeda ontel sampai kamera yang meski sudah tua namun masih berfungsi dengan baik. Jika membutuhkan properti atau kostum tambahan, sang produser tinggal meminta Anto untuk mencari dan membelinya sendiri. Tentu, nanti uang yang sudah ia keluarkan akan diganti.

Sehari-hari, ia adalah tukang parkir di kawasan Glodok Kota. Kawasan yang tak pernah mati, meski malam tengah beranjak pagi. Dua belas tahun sudah ia menggeluti profesi ini. "Tapi saya ga pernah masuk ke dalam mba. Padahal saya pengen banget tau ada apa disana. Paling kedengeran suaranya aja. Jedag.. Jedug..," selorohnya.

Anto tinggal sendiri di Jakarta disebuah kamar petak kumuh yang tak jauh dari kawasan tempatnya bekerja. Sementara istri dan kedua anaknya hidup di desa. Bertahun-tahun, sang istri mengidap kanker rahim yang ketika saya tanya sudah stadium berapa, ia malah mengeleng tak tahu apa arti istilah itu. "Pokoknya perutnya sudah dioperasi berkali-kali. Bekas jahitanya aja banyak banget," ungkap Anto.

Penghasilan Anto sendiri sebagai tukang parkir, jelas tak seberapa. Dalam sehari ia bisa mengantongi Rp. 100 ribu dimana 30 persenya harus disetor ke Dinas Perhubungan DKI. Namun, karena keunikannya tadi, ia juga kerap menjadi model untuk fotografer-fotografer profesional maupun amatir yang ingin menciptakan foto dengan tema tempo doeloe. "Nih mba, liat foto-fotoku. Bagus kan? Yang moto Yudistira loh mba. Dia fotografer, juga pengacara," jelas Anto pamer.

Namun lagi-lagi, uang yang di dapat pun tak seberapa. Apalagi pekerjaan jadi model ini sifatnya musiman. Karena itu dengan profesi barunya sebagai presenter, Anto tak henti-hentinya berucap syukur. Mempercayai, bahwa Tuhan memang selalu ada untuknya.

Meski tidak berpendidikan tinggi, tapi cara kerja Anto menurutnya saya sangat profesional. Ia pantang mengeluh. Selalu tersenyum dan bertingkah konyol yang mengundang berjuta tawa. "Kalo nanti mba kerja sama saya, maaf yah mba kalo saya susah diajarin. Maklum, cuma tukang parkir," kilahnya.

Ketika bercerita tentang sang istri, tak ada guratan kesedihan yang tergambar di wajah Anto. Entah karena penyakit istrinya yang sudah bertahun-tahun atau karena begitu lah sifat alaminya. "Yang jelas, gusti Allah pasti sayang sama aku. Kalo sudah rajin solat malam dan berdoa tapi masih saja ada cobaan, berarti gusti Allah sayang sekali sama aku," pungkasnya.

-----

Hmmm.. jadi mau tau seperti apa Anto Djadul, nonton Riwajatmoe Doeloe yah di TVOne. Tiap Jumat, jam 09.30 wib. Atau mo nonton Mata Kamera juga ga pa-pa. Cuma gw lupa waktunya kapan. Pokoknya seminggu dua kali lah tiap jam 19.00 wib. Heuheuheuheu.. =')

Aisa si Angsa

Aisa adalah angsa remaja yang tengah beranjak dewasa. Ia tidak memiliki bulu cantik, pun tidak juga dikatakan buruk rupa. Aisa punya banyak teman. Mereka bilang ia menyenangkan dan selalu ingin membantu kawan. Namun aisa juga punya banyak kekurangan.

Tak heran, tidak sedikit juga yang enggan untuk berkawan. Mereka bilang ia pemarah, suka menyepelekan kemampuan teman serta berbagai kekurangan lainnya. Kadang karena kekurangan-kekurangan itu, meski ia ingin berbuat baik malah justru dipandang negatif. Tapi Aisa tidak mau ambil pusing. Ia tetap ceria menjalani hari. Terutama untuk mengejar semua mimpi.

Konon kabarnya ada sebuah danua yang indah di negeri nun jauh disana. Airnya tenang, jernih dan berkilau ditimpa sinar mentari kala pagi tiba. Angsa-angsa disana juga ramah-ramah dan begitu terbuka kepada siapa saja. Namun yang paling menggiurkan adalah ketika teman aisa yang pernah berkunjung kesana berkata, di danau itu ia bisa meraup berjuta pengalaman yang akan menuntunya menuju masa depan cemerlang. Berkunjung ke negeri itu, menjadi mimpi aisa saat ini.

Namun sayang, untuk menggapai itu bukan perkara mudah. Banyak yang harus aisa persiapkan luar dan dalam. Mengorbankan apapun juga, demi meraih kehidupan yang lebih baik. Sementara tak jarang teman-teman aisa mengingatkan, bahwa di danau yang ia diami saat ini pun kehidupan lebih baik bisa diwujudkan.

Aisa bingung. Ia gamang. Tak tau harus berbuat apa. Disatu sisi, mimpi menikmati hidup di danau indah itu kian menyesakan diri. Namun disisi lain, ia menyadari beragam keterbatasan yang berdiri bagai tembok kokoh dihadapanya. Berjuta keraguan bergumul hebat di kepala. Haruskah ia menyerah dan fokus pada hidupnya sekarang atau tetap mengejar mimpi meski harus berjalan pelan.

Memang apa yang teman-teman aisa katakan, ada benarnya juga. Hidup aisa, tidak terlalu buruk. Bahkan kerap kali ia lebih beruntung. Misalnya di tempatnya saat ini, aisa relatif mudah mencari makanan dengan ikan-ikan kaya gizi sehingga ia bisa tumbuh sehat dan bulu-bulunya pun mulai terlihat lebih indah.

Karena terus belajar menguatkan sayap-sayapnya, dan tentu dengan sedikit keberuntungan karena arah angin yang mendukung, aisa juga pernah berkunjung ke negeri indah nun jauh disana. Sesuatu paling membahagiakan bagi angsa betina yang selalu punya semangat itu. Namun sayang, hal tersebut hanya sekejap saja. Dan kini, keinginan untuk mengulang keberuntungan itu selalu menghantui tidur aisa.

Kegamangan terus mewarnai hidup Aisa. Benarkah, mimpinya itu terlalu mustahil untuk diwujudkan. Jika tidak, sampai kapan ia bertahan mengumpulkan keping demi keping harapan. Toh sekeras apapun ia berusaha, tetap saja Aisa tak mampu mengepakan sayap sekuat-kuatnya untuk meraih segala cita. Dan kini, Aisa patah arang.